MENUNGGU TAXI DI KING CROSS
di trotoar king cross yang ramai
aku tak peduli ia bohemian atau gelandangan
yang jelas, dengan sopan ia meminta api
untuk menyalakan entah selinting apa
sebatang yang tak begitu panjang
sebanding dengan tubuhnya yang ramping
juga dengan baju lusuh yang membalutnya
namun rokok kretekku dan asapnya
lebih dulu menggoda, membuatnya bertanya
itu rokok jenis apa? dan bla bla bla
kujawab dengan lima batang yang tersisa
dan tentu saja bla bla bla
api kecil dan semua yang lazim dibakar
menjadi bara yang boleh dimiliki siapa saja
kami pun sama-sama mengisapnya.
katanya kemudian, "rokok yang bagus"
lalu asap keluar dari mulutnya yang mawar
di trotoar king cross yang ramai
aku tak peduli ia bohemian atau gelandangan
yang jelas ketika taxi membawaku pergi
tangan kanannya terus melambai
1996 - 2017
Minggu, 27 Agustus 2017
Jumat, 18 Agustus 2017
BUKAN PENYESALAN
BUKAN PENYESALAN
berbulan-bulan ia menetesi jantung kekasihnya
dengan air mata, selinang demi selinang, terus
bertambah, tak kunjung kurang.
selain cinta dan pertobatan, apa lagi yang dapat
mengalir seperti sungai yang berhulu di rahim,
yang telah menemukan tempat mukim, katakan.
ketika semua yang ada di sekeliling merupakan
hal yang sama---termasuk tekstur dan warna---
sulit memilah mana bumi mana laut mana maut,
ketiganya sama-sama menjadi akhir perjalanan,
meski dari jenis berbeda.
2017
Label:
sajak


BELUM TIRAKATAN
BELUM TIRAKATAN
Sudah terlalu lama meninggalkan titik keseimbangan dimana ketepatan dari unsur-unsur pembentuknya selalu menjadi pertaruhan sebagai ukuran berhasil tidaknya pencapaian.
Bahkan untuk memaki atau mengumpat sering kali menggunakan kata-kata yang kurang tepat, alhasil jatuh pada kegagalan. Sulit untuk menyebutnya sebagai sumpah serapah apa lagi kutukan.
Sepertinya kita lebih menyukai cengegesan saat menyikapi hampir segala hal, sebagai pelepas penat, kejenuhan atau apa pun yang membuat kita merasa tak nyaman.
Bersabarlah sayang, proses tirakatan masih dalam tahap awal persiapan. Jangan dinanti, lebih baik dijalani. Yang pasti lagu kebangsaan akan berkumandang esok pagi.
Bahkan untuk memaki atau mengumpat sering kali menggunakan kata-kata yang kurang tepat, alhasil jatuh pada kegagalan. Sulit untuk menyebutnya sebagai sumpah serapah apa lagi kutukan.
Sepertinya kita lebih menyukai cengegesan saat menyikapi hampir segala hal, sebagai pelepas penat, kejenuhan atau apa pun yang membuat kita merasa tak nyaman.
Bersabarlah sayang, proses tirakatan masih dalam tahap awal persiapan. Jangan dinanti, lebih baik dijalani. Yang pasti lagu kebangsaan akan berkumandang esok pagi.
2017
Label:
prosa pendek


Jumat, 11 Agustus 2017
BUKAN KESABARAN
BUKAN KESABARAN
makin sedikit yang suka diam,
jauh lebih sedikit lagi yang mau berpikir,
kebanyakan justru semangat bicara ini dan itu,
lalu buru-buru mengetiknya dengan cemas.
seolah takut, penemuan benda keras
yang mereka sangka emas, akan berubah
jadi batu, sebelum sempat mereka jual
atau setidaknya sempat mereka pamerkan
kepada para pesolek, yang rasa percaya dirinya
tidak lebih tebal dari yang mereka punya.
tentu akan muncul beberapa alasan,
sebagai pembenar atas ketergesa-gesaan---
penghibur diri---selain maut, sejenis kesedihan
ada yang hadir tanpa pemberitahuan.
tunggu dulu, ini bukanlah perkara kesabaran,
tetapi tentang orang-orang yang suka menabung
untuk membeli kelezatan, yang singgah
semenit dua mencubit lidah.
2017
makin sedikit yang suka diam,
jauh lebih sedikit lagi yang mau berpikir,
kebanyakan justru semangat bicara ini dan itu,
lalu buru-buru mengetiknya dengan cemas.
seolah takut, penemuan benda keras
yang mereka sangka emas, akan berubah
jadi batu, sebelum sempat mereka jual
atau setidaknya sempat mereka pamerkan
kepada para pesolek, yang rasa percaya dirinya
tidak lebih tebal dari yang mereka punya.
tentu akan muncul beberapa alasan,
sebagai pembenar atas ketergesa-gesaan---
penghibur diri---selain maut, sejenis kesedihan
ada yang hadir tanpa pemberitahuan.
tunggu dulu, ini bukanlah perkara kesabaran,
tetapi tentang orang-orang yang suka menabung
untuk membeli kelezatan, yang singgah
semenit dua mencubit lidah.
2017
Label:
sajak


LANGIT KUNING LANGSAT
LANGIT KUNING LANGSAT
Menjelang akhir perbincangan membosankan di teras depan.
Sejenak wajahmu mendongak ke atas lalu bertanya kepadaku,
"Kapan terakhir kali, kau melihat langit begitu mengenaskan?"
"Apakah kini warnanya sedang kuning langsat?", tanyaku balik.
"Ya, ia sedang menyamar sebagai kecemasan", katamu pucat.
Sebagaimana rekaman detik-detik kereta penuh penumpang
yang keluar dari lintasan. Atau kata-kata akhir sesaat sebelum
perempuan muda meloncat dari atap gedung lantai sembilan.
Dan, nyaris tidak ada pertanyaan untuk sepasang mata telinga
yang memandang dan mendengarnya dari balik kotak cahaya,
berukuran berapa pun.
Baiklah, ini selalu perihal kedudukan yang menempatkan langit
di bawah keberadaan tahta semesta---ruang tak terhingga itu.
Tak pernah tidak.
2012 - 2017
Menjelang akhir perbincangan membosankan di teras depan.
Sejenak wajahmu mendongak ke atas lalu bertanya kepadaku,
"Kapan terakhir kali, kau melihat langit begitu mengenaskan?"
"Apakah kini warnanya sedang kuning langsat?", tanyaku balik.
"Ya, ia sedang menyamar sebagai kecemasan", katamu pucat.
Sebagaimana rekaman detik-detik kereta penuh penumpang
yang keluar dari lintasan. Atau kata-kata akhir sesaat sebelum
perempuan muda meloncat dari atap gedung lantai sembilan.
Dan, nyaris tidak ada pertanyaan untuk sepasang mata telinga
yang memandang dan mendengarnya dari balik kotak cahaya,
berukuran berapa pun.
Baiklah, ini selalu perihal kedudukan yang menempatkan langit
di bawah keberadaan tahta semesta---ruang tak terhingga itu.
Tak pernah tidak.
2012 - 2017
Label:
prosa pendek


Langganan:
Postingan (Atom)