Minggu, 15 Oktober 2017

MENIKAH

MENIKAH


akhir malam tak ada engkau 
sendiri di pelaminan, terpukau

biarlah, kunikahi diriku sendiri 
sebelum menyuntingmu, gusti


2009

Kamis, 12 Oktober 2017

LELAKI BASAH, PEREMPUAN GARAM

LELAKI BASAH, PEREMPUAN GARAM
Sayup-sayup suara perempuan yang matanya telah kering mengusik telinga. Lelaki dengan kesedihan selekas kebahagiaan yang cuma hadir sekejap, menghentikan langkah. Ia mengamati ujung kakinya yang kotor. Ia teringat banyak hal yang membuatnya menempuh jarak ribuan kilometer. Lalu wajahnya setengah berpaling. Seperti ada yang menepuk pundaknya. Mengusap tengkuk hingga membuatnya menggigil. Suara itu mencair, keluar dari telinga. Dari sekian kehangatan yang pernah hadir, barangkali desah itulah yang memaksa matanya berkaca-kaca.
Tapi ia benar-benar tak tahu perasaannya, sedih ataukah bahagia. Yang jelas mengalir semakin deras ke seluruh tubuh. Ada yang perlahan membelai dada. Ada yang meluncur melintasi punggung. Ada yang telah sampai di perut. Sebagian di antaranya memilih mukim di pusar, melingkar-lingkar. Setelah puas dengan rambut, perlahan mulai mengetuk mata. Pecahlah kaca-kaca. Leleh larut. Memasuki mulut. Mencuci gigi, membasuh lidah lalu melewati kerongkongan sebelum memenuhi setiap organ bagian dalam. Terus mengalir, meluap, hingga semua terlewat. Terlampaui.
Lelaki itu kian kuyub, seolah seluruh cairan tubuhnya turut mengalir keluar melalui tiap lubang pori-pori. Bisa dibilang hari masih sore, masih jauh dari puncak malam. Pintu dan jendela masih terbuka, tapi tak ada lagi suara yang bisa dikeluarkan. Ia hanya bisa menanti dan menanti. Lelaki itu masih mendengar suara dari geletar lidah kelu, lidah yang kering itu. Lidah perempuan yang suaranya mencair di telinga.
"Aku ingin bercinta", kata perempuan itu, "Hingga aku tertidur nanti teruslah bicara".
Lepas tengah malam, dari kejauhan, keduanya hanya bisa memandang bayang-bayang mereka sedang berpelukan, berciuman. Tak peduli cahaya yang menimpa, lelaki itu bicara sendiri dalam diam. Tubuhnya geming memenuhi keinginan kekasihnya. Meneruskan persetubuhan. Hingga batas umur, sebelum lalu tersungkur.
2012 - 2017

Rabu, 04 Oktober 2017

PENYELAMATAN

PENYELAMATAN


Ia terbiasa tidur saat hari sudah larut malam setidaknya setelah semua penghuni rumah selain dirinya telah terlelap. Bahkan akhir-akhir ini sering kali di atas jam dua, bisa dibilang menembus dini hari. Salah satu alasan yang menurutnya cukup penting dikemukakan terkait jadwal atau lebih tepat kebiasaan tidurnya, adalah, ia dapat melakukan aktifitas yang disukainya. Berlatih lebih fokus dengan hanya mengalami sedikit gangguan, sebelum beristirahat dengan tenang.

Seperti malam ini, dengan wajah sumringah sesekali meringis karena perilaku nyamuk, ia menghangatkan kembali sayur asam yang dimasak oleh istrinya tadi siang. Menurutnya hal ini mesti dilakukan karena ia melihat masih ada lima potong jagung manis dan beberapa iris sayur lainnya yang terendam kedinginan dan tentu saja harus diselamatkan sebelum terlanjur membusuk dan berakhir di tempat sampah.

Upaya penyelamatan yang dilakukannya dengan cara mengunyah, mencecap rasa manis, asam, asin yang menyatu dengan kuah rempah dan kemudian menelannya ini, semata-mata bukan karena rasa lapar. Namun lebih kepada tanggung jawab yang diemban. Baginya merupakan upaya menuntaskan beban cita-cita dari semua bahan makanan yang telah diolah menjadi sajian, Mesti habis dimakan sebelum mukim di lambung lalu menjadi kotoran yang harus dibuang di jamban.

Begitulah pada akhirnya sesendok kuah hangat mendorong butir jagung terakhir dengan riang memasuki kerongkongan---gerbang rasa syukur bagi dirinya dan pintu faedah untuk semangkok sayur.


2017

Minggu, 01 Oktober 2017

BINTANG-BINTANG

BINTANG DAN BINTANG


suatu malam 
langit dipenuhi kerlip bintang 
seperti lampu-lampu kota besar
yang terlihat dari puncak bukit
---dari rumit ketenangan

di malam yang lain
hanya tampak sebuah bintang
pada luas langit yang bersih---
berpijar sendirian di kegelapan 
---menyinari kesunyian

pun semalam
ia muncul sebentar di mataku
sebelum dihapus hujan---
musim tak pernah pandang bulu

meski memiliki cahaya sendiri
ia tak kuasa menghadapi cuaca
sebagaimana api kecil lilin
terhadap angin---satu rasa ingin
kadang bikin penasaran

sementara di televisi
dan panggung-panggung lain
beberapa aktor dan penyanyi
memainkan drama dan tragedi
di bawah lampu-lampu temaram
---pecah tiap malam 

tak merasa jengah atau bosan---
mereka tidak ingin melihat langit
tidak pernah tahu gelap terang
---bertebaran


2017

Rabu, 27 September 2017

TANPA SUARA

TANPA SUARA


kami tak cuma tubuh,
menjadi tua bukan sebab usia

baik, baiklah paduka,
hingga diputihkannya rambut, 
yang tiap helainya seribu kali sebut 
tak pernah cukup.

namamu---keheningan yang bising,
yang kami usung tiap kali kepala pusing
agar kami lekas lelah, pasrah
dengan satu kata.

diam.


2011 - 2017

Kamis, 14 September 2017

SUDAH PENUH

SUDAH PENUH


buanglah kotoran jika sudah penuh--- 
memang harus ada tempat pembuangan.

di sini saja sayang---tidak apa-apa, 
mulutku masih dapat kubuka lebih lebar.

sunya menjelang subuh---
aku menerima kabar melegakan darimu,
kaubilang bahwa aku telah mati.

segera kumasukkan kepala dan seluruh tubuh 
jauh ke dalam tanah, pada luas kesabaran.

namun, mesti digali dulu sebuah lubang, 
di halaman belakang, ya halaman belakang,
dekat tempat pengimaman.


2013 - 2017

Sabtu, 09 September 2017

BINGUNG

BINGUNG


Sebotol smirnoff dan segelas bir bisa saja kehilangan daya sihir ketika apa yang hadir seolah-olah tumbuh seperti rumput liar dari kedalaman hati. Kita bisa sebut sekian kenyataan lalu kita tuliskan seperti daftar belanja sebuah keluarga kaya yang akan mempersiapkan pesta pernikahan anak perempuannya. Tak cukup satu halaman folio untuk memenuhi sekian keinginan yang telah dipertuan oleh kebodohan dan keterbatasan yang sejak mula memang telah melekat itu. 

Lalu kenyataan sering kali bisa begitu unik seperti tatkala kita menyerahkan keterbatasan diri untuk dibelaskasihani udara atau disumpahserapahi pagi. Sebut saja, cemas yang arogan, sedih yang teduh, ragu yang malas-malasan atau riang yang riuh. Datang dan pergi silih berganti. Sekian dari banyak hal yang kemudian dirindukan itu, secara diam-diam telah melakukan proses pembunuhan dengan perlahan. Amat perlahan, berbulan, bertahun. Mengikis sedikit demi sedikit rasa percaya diri. Hingga untuk membedakan mana nafas mana detak nadi, kita lebih percaya kepada komputer dan kitab suci. Begitu mesra, menggiriskan tapi.

Pada akhirnya menjadi robot atau hewan merupakan pilihan yang sangat menggoda, seperti gemeretak otot sang pejantan, kerling para betina di kala bulan purnama atau kerlip lampu warna-warni. Sukar melepaskan diri ketika libido rasa ingin tahu mencapai puncaknya. Pertemuan nafsu, birahi dan prasangka yang asal-asalan---makin mencengkeram, kian mengakar, menembus sampai ke dasar. Selanjutnya seseorang bisa saja memilih memenggal kepalanya sendiri dari pada meneruskan perbincangan. 

Yang menyedihkan sebenarnya bukan terletak pada riang gembiranya sebuah perdebatan. Bahkan, benturan antara apa yang telah dipahami dengan kenyataan yang melahirkan jalan buntu pun belum menjadi sesuatu yang paling menakutkan. Apa yang bisa dibayangkan, saat keputusan yang diambil lalu ditindaklanjuti secara nyata tersebut, hanya dilandasi oleh ragu bimbang yang berlarut-larut, selain mendapati diri berada dalam lorong panjang pada labirin gelap.

Mau apa lagi? Baca mantra? Matek aji? Ngimpi.

  
09.09.2012

Kamis, 07 September 2017

SAMPAI JUMPA

SAMPAI JUMPA


inilah laku, meski otot-otot menjadi kaku
tetap berlatih untuk sesuatu yang akan
menjadi bagian dari masa lalu, dilupakan,
seiring pergerakan matahari rembulan.

engkau yang melintas ke utara, sudah
sampaikah di selatan, sudahkah berada
di belakang lelaki tua yang dulu pernah 
menyemburkan ludah, lalu kaubantah?

ia yang mengalami, tak ke mana-mana,
hanya membalas lambaian tanganmu, 
sesaat sebelum engkau mulai perjalanan.
pada garis bujur---lintang demi lintang.

selamat tinggal---kata-kata terakhirmu---
dibalasnya dengan senyum tanpa duka.


2014 - 2017

BUKAN KHAWATIR

BUKAN KHAWATIR


dijemur sehari semalam,
di bawah atap, di samping rumah,
beberapa lembar kain putih melambai-lambai, 
seolah ajakan untuk lekas-lekas sampai.

angin mengeringkannya,
tapi tidak berarti mempercepat keberangkatan,
barat hanya berada di sebelah kanan,
ketika menghadap ke selatan.

memandang jauh ke dalam, kepada ketinggian 
pada gunung-gunung yang terlihat samar, 
dari sini, dari tempat aku berdiri---
pantai utara yang rawan.

ini bukan berpaling ke belakang, bukan karena
mercusuarnya lebih rendah dari pencakar langit,
meski di depan hamparan laut begitu maut
---bekal telah terlipat, aman tersimpan.

akan dipakai pada saat yang tepat,
setelah badan lunglai, diayun-ayun mimpi
---ombak yang membuatmu miris di garis batas,
garis tipis yang nyaris terabaikan.

saat aku menukar prasangka dengan kenyataan,
kaulah yang bertanya, "ke mana saja?"

siapa bilang mengapung, aku bukanlah kayu---
aku tidak ke mana-mana, tanah adalah tempatku.

rindu tanpa rasa khawatir.


2013 - 2017

Jumat, 01 September 2017

MELAMPAUI SUWUNG

MELAMPAUI SUWUNG


biasanya diawali ketika dada terasa growong 
---hampa merambat pelan lalu hampir seluruh 
indra tidak lagi berfungsi---tanda, isyarat pun 
tak sampai, tak ada cemas, tanpa kesadaran.

lebih, dari sekadar tanpa semangat---hanya 
semenit dua, tapi nyaris segala yang tadinya 
pernah ada tiba-tiba lenyap.

lupa perihal hidup dan mati---masihkah ingin 
tahu tentang air mata yang tak kunjung jatuh,
betapa pun, bumi telah melambaikan tangan,
dan ia sudah bosan bergelantungan.

bukan perkara kau telah bilang, 'lupakan saja'
lalu dianggap mengakhiri sekian persoalan, 
yang dibangun dari rasa bosan.

justru karena itu, kita akan sanggup bertahan
---apa perlunya takut kepada badut-badut.

sementara kita tidak yakin bahwa kita adalah
bayi manusia yang belum memiliki rasa ingin,
sebagaimana semilir angin.


2014 - 2017

Minggu, 27 Agustus 2017

MENUNGGU TAXI DI KING CROSS

MENUNGGU TAXI DI KING CROSS


di trotoar king cross yang ramai
aku tak peduli ia bohemian atau gelandangan
yang jelas, dengan sopan ia meminta api 
untuk menyalakan entah selinting apa

sebatang yang tak begitu panjang
sebanding dengan tubuhnya yang ramping
juga dengan baju lusuh yang membalutnya

namun rokok kretekku dan asapnya
lebih dulu menggoda, membuatnya bertanya
itu rokok jenis apa? dan bla bla bla
kujawab dengan lima batang yang tersisa
dan tentu saja bla bla bla

api kecil dan semua yang lazim dibakar
menjadi bara yang boleh dimiliki siapa saja 

kami pun sama-sama mengisapnya. 
katanya kemudian, "rokok yang bagus"
lalu asap keluar dari mulutnya yang mawar

di trotoar king cross yang ramai
aku tak peduli ia bohemian atau gelandangan
yang jelas ketika taxi membawaku pergi
tangan kanannya terus melambai


1996 - 2017

Jumat, 18 Agustus 2017

BUKAN PENYESALAN

BUKAN PENYESALAN berbulan-bulan ia menetesi jantung kekasihnya dengan air mata, selinang demi selinang, terus bertambah, tak kunjung kurang. selain cinta dan pertobatan, apa lagi yang dapat mengalir seperti sungai yang berhulu di rahim, yang telah menemukan tempat mukim, katakan. ketika semua yang ada di sekeliling merupakan hal yang sama---termasuk tekstur dan warna--- sulit memilah mana bumi mana laut mana maut, ketiganya sama-sama menjadi akhir perjalanan, meski dari jenis berbeda. 2017

BELUM TIRAKATAN

BELUM TIRAKATAN

Sudah terlalu lama meninggalkan titik keseimbangan dimana ketepatan dari unsur-unsur pembentuknya selalu menjadi pertaruhan sebagai ukuran berhasil tidaknya pencapaian.

Bahkan untuk memaki atau mengumpat sering kali menggunakan kata-kata yang kurang tepat, alhasil jatuh pada kegagalan. Sulit untuk menyebutnya sebagai sumpah serapah apa lagi kutukan.

Sepertinya kita lebih menyukai cengegesan saat menyikapi hampir segala hal---sebagai pelepas penat, kejenuhan atau apa pun yang membuat kita merasa tak nyaman.

Bersabarlah sayang, proses tirakatan masih dalam tahap awal persiapan. Jangan dinanti, lebih baik dijalani. Yang pasti lagu kebangsaan akan berkumandang esok pagi.

2017

Jumat, 11 Agustus 2017

BUKAN KESABARAN

BUKAN KESABARAN

semakin sedikit yang suka diam,
jauh lebih sedikit lagi yang mau berpikir,
kebanyakan justru semangat bicara ini dan itu,
lalu buru-buru mengetiknya dengan cemas.


seolah takut, temuan benda keras
yang mereka sangka emas, akan berubah
jadi batu, sebelum sempat mereka jual
atau setidaknya sempat mereka pamerkan
kepada para pesolek, yang rasa percaya dirinya
tak lebih tebal dari yang mereka punya.

iya tentu saja akan muncul beberapa alasan,
sebagai pembenar atas ketergesa-gesaan,
penghibur diri---selain maut, ada pula kesedihan
yang hadir tanpa pemberitahuan.

tunggu dulu, ini bukan perihal kesabaran,
tetapi tentang orang-orang yang suka menabung
untuk membeli kelezatan, yang singgah
semenit dua mencubit lidah.

2017

LANGIT KUNING LANGSAT

LANGIT KUNING LANGSAT


Menjelang akhir perbincangan membosankan di teras depan. 
Sejenak wajahmu mendongak ke atas lalu bertanya kepadaku,
"Kapan terakhir kali, kau melihat langit begitu mengenaskan?"

"Apakah kini warnanya sedang kuning langsat?", tanyaku balik.

"Ya, ia sedang menyamar sebagai kecemasan", katamu pucat.

Sebagaimana rekaman detik-detik kereta penuh penumpang
yang keluar dari lintasan. Atau kata-kata akhir sesaat sebelum
perempuan muda meloncat dari atap gedung lantai sembilan.

Dan, nyaris tidak ada pertanyaan untuk sepasang mata telinga 
yang memandang dan mendengarnya dari balik kotak cahaya,
berukuran berapa pun.

Baiklah, ini selalu perihal kedudukan yang menempatkan langit 
di bawah keberadaan tahta semesta---ruang tak terhingga itu. 
Tak pernah tidak.


2012 - 2017