Minggu, 19 Maret 2017

BUKAN DOA

BUKAN DOA


berpijak dari sini --matahari sore-- 
kuselesaikan senggamaku melalui telpon genggam,
lalu kukecup keningmu dengan pesan singkat.

kurang apa lagi?

baik, ganti celana dalammu dengan yang warna hitam,
jangan pernah lagi mengenakan yang merah padam,
apa lagi yang biru lebam.

kesentosaan adalah satu pilihan atas kesadaran,
sementara itu, sekian macam rasa sakit dan amarah
hanya akan membuat diri kian lemah.

mandi dan mencuci piring tentu saja jauh lebih baik,
ketimbang menjadi pikun di beranda.

tanpa caci maki.


2016 - 2017

Senin, 13 Maret 2017

DIMANA IBU

DIMANA IBU

ibu, ibu, engkau dimana,
dua belas gurindam telah tenggelam.

bersama ribuan pulau yang memanjang
dari barat sampai ke timur --
di antara dua naga yang sedang tidur.

ibu, ibu, engkau dimana,
di almari, gulungan peta makin berdebu

kami bukan lagi tulang belulang,
tapi cuma kumpulan noktah berserakan,
menjadi jejak langkah yang bimbang.

ibu, ibu, engkau dimana,
tembang pangkur terlalu lama dijemur.

di depan sumur, anakmu tetap ngotot,
berupaya keras menyalakan api.
katanya, "siapa tahu bisa untuk mandi"

ibu, ibu, engkau dimana,
apa lagi yang mesti dinyanyikan?

di dapur, anakmu yang lain mendengkur,
diterbangkan asap membubung tinggi,
bermimpi memukul-mukul panci.

ibu, ibu, engkau dimana,
sabdo palon dan noyo genggong marah.

di teras, dharmo gandul tersipu malu,
lalu dengan bekal selembar weda
mengubur diri sendiri di belakang istana.

ibu, ibu, engkau dimana,
usai lagu kebangsaan dikumandangkan
barisan bubar pindah ke lain negeri.


2014 - 2017

Kamis, 09 Maret 2017

SEPADAT ANGIN

SEPADAT ANGIN


sedapat mungkin sepadat angin, begitu katanya
sambil terus menelan kalimat lain yang tak pernah
bikin kenyang, tapi justru membuatnya selalu
lapar dan haus.

kalimat penyaksian itu, telah menjadi menu utama
sehari-hari. setidaknya ia tak lagi membaca tulisan
yang awalnya sulit dieja. 

kini, ia tahu apa yang mesti dilakukan, yang harus
dikerjakan, jika kenyataan yang berkait paut dengan 
jiwa raga mendadak hadir, bahkan jika kemudian
cuma kebetulan mampir.

hangat sejuknya tergantung cuaca, tapi yang pasti
ia hanya butuh berhembus saja -- pergi  pulang
tak terbaca.


2013 -- 2017

Selasa, 21 Februari 2017

SUWUNG

SUWUNG


bangkai hidup nafasnya kering.
terlalu sering mengulang perjalanan
dengan rute yang sama. 

sekian hal di dalam mangkok kristal,
menjelma beberapa tuhan baru --
bingkai-bingkai yang tak pernah gagal.

di sini kesunyian sintetis dilahirkan,
di abad mutakhir --jaman, peradaban,
mesin waktu yang tak kenal lelah-- 
menolak bosan.

tepi dunia. kutub utara. laut selatan.
palung. puncak gunung. lubang hitam. 
gravitasi. elektro magnetik --bising. 

perang tanpa pertaruhan kalah menang.
senggama pada lingkaran tipu daya.
tentang nasib--sungsang.

di kejauhan, sirine meraung-raung.
iseng katanya.


11.02.2017

Minggu, 12 Februari 2017

SEDIKIT TENTANG PREDIKAT

SEDIKIT TENTANG PREDIKAT


kadang cuma segaris lurus --
penilaian seseorang kepada orang lain
yang melakukan sesuatu 
karena memang harus dilakukan

menyatu pada maha kehendak --
di sini, sebutan sudah tidak penting lagi
istilah, gelar terlampaui, seolah tak peduli
sekarang sore, petang atau pagi.

bahkan seorang perintis meyakini
menjadi gila pun sudah tidak memadahi
sebab yang dianggap kebenaran,
kemudian jauh lebih sulit untuk diucapkan
-- ia telah mengalami

memang tidak untuk dipamerkan.
ketika menjadi nyata --siapa harus bicara 
tentu semua yang hadir kepada indra

sejenis hukum alam. vonis tanpa tuntutan --
meski bukan keajaiban, tapi lebih layak diyakini
sebagai keadilan.


12.02.2017

Sabtu, 11 Februari 2017

SEDIKIT TENTANG NYALA

SEDIKIT TENTANG NYALA


ketika yang menyala bukan api
lalu apa lagi selain hati

kepala memang sudah kering
tapi bukankah terlalu keras

yang pasti lebih kaku dari pada
sebatang kayu

agar sedikit lebih lunak
kepala tak harus dipukul batu

perihal menyala
tidak harus dengan membakar

kadang mesti memilih satu
agar terhindar dari ketamakan

berdasarkan prioritas --
memilih cahaya ataukah panas 


31.01.2017

Jumat, 10 Februari 2017

RUMAH BAGI RUMAH

RUMAH BAGI RUMAH


sekian bangunan sedang kosong
entah ke mana semua penghuninya

lalu kepada mereka, ia berkata,
"kalian boleh pergi lalu pulang, lalu
boleh pergi lagi, lalu boleh pulang lagi"

pun mengucap kepada diri sendiri, 
"hingga saatnya benar-benar kembali
biarlah aku yang akan tetap di sini"

menjadi hamparan padang rumput
tempat yang lapang bagi banyak rumah 
yang bukan sekadar tempat singgah

adalah memberi sekaligus menerima
bukan lagi mimpi atau pun cita-cita


2013 - 2017