Jumat, 2009 Juni 19

SUDAHKAH TUAN MAKAN

SUDAHKAH TUAN MAKAN


perut mengeriput
letih dalam nyanyian
jejak dingin yang enggan tersimpan

di atas pinggan
sepenggal kepala jadi santapan
masih ingin beberapa butir lagi tuan ?
hei aku masih punya sekeranjang

betapa rindu kenyang
selalu menjelma kesumat yang jalang
dan kau masih saja percaya pada rasa lapar
yang mencakarcakar

lihatlah, tuhan berjalanjalan
sembari menenteng rantang
berisi batuan rebus untuk makan siang

RAHIM NAGA

RAHIM NAGA


mulutmu begitu sempit
nyaris tak ada sela
tapi kau sungguh luas begitu dalam

menampung segala lendir peradaban
tetes kehidupan yang tersembur
adalah luasnya semesta

ciumlah sayang ciumlah begitu katamu
betapa bacin bukan
namun hangat dan menentramkan

siapapun takkan kau tolak
jika memanglah kelana
yang selalu menyetubuhi malam

kerna kau tahu
anakanak yang kelak lahir adalah naga
meski tanpa mahkota

dan aku memilih menjadi rakyat jelata

AKU TAHU, KAU BELUM MEMANGGILNYA

AKU TAHU, KAU BELUM MEMANGGILNYA



kini apalagi, masih ingatkah kekasih
saat dingin yang sangat
pada tubuh mungil menggigil
yang menolak segala macam obat

dinding putih pucat
di sebuah rumah perawatan
tak jua membuatnya terpikat
untuk tersenyum kepada kita

ia lebih memilih dekap yang hangat
dan segala jenis kepasrahan
sebelum kemudian merindukan
dirinya yang lain

jejak tali pusar dalam segelas air
bikin sekian jam tidurnya pulas
saat bangun, masih dengan wajah pasi
pandang mata adalah nafas hidup yang terbias

lalu dari mulut kecilnya terdengar suara lirih
bapak, aku lapar
kau dan aku mendadak merasa kenyang, bukan
meski tiga malam ikut tak makan

RAMBUTMU TELAH BERUBAN, SAYANG

RAMBUTMU TELAH BERUBAN, SAYANG


sampai ke bahu, tergerai
melambai dihembus angin
kibar yang sampai pada mata
tajamnya adalah kobar hati tak terkira

helai demi helai yang rontok senafas pengorbanan
melepas masa lalu tanpa bias pada kesah
beberapa yang kini memutih
dan lemak berjejal adalah jiwa yang tanak

pada tubuhku, tidakkah kau temukan
helai yang sama barang seuban
mungkinkah masih terselip di antara tumpukan syahwat
yang pernah bikin sengit persetubuhan

hei, ada sehelai uban di rimbun jembutmu, kekasih
serambut, mendekat ke yang bakal kekal

KAU BEDA, PELACURKU

KAU BEDA, PELACURKU



tak henti mencoreti wajah
warnawarni tebal , bikin kau betah
segala macam dijual, yang tubuh yang hati
: lalu muncul , artis, guru, kyai dan entah apalagi

harga yang terjangkau
para pelanggan tak begitu risau
menipu diri dapat terbeli
: lalu mereka bikin aturan dan hukuman mati

masihkah kau melacur malam ini, kekasih ...
coba singkapkan rokmu,
akan kulihat, apakah tuhan masih ada di sana
menggaulimu dengan welasasihnya

Kamis, 2009 Mei 07

MALAM INI ADA PESTA

MALAM INI ADA PESTA


ku undang engkau ke tempatku, kekasih
jangan katakan tak bisa

telah kusiapkan lagu kematian
dengan iringan tanpa suara
yang akan kita nyanyikan bersama
sembari menari jejingkrakan

oi, betapa pengar yang menghingarbingar

telah kusajikan sepiring besar peradaban
sebotol susu yang terperas dari tiap payudara
agar jika lapar dan dahaga
kita tak akan ke manamana

selain hanya menyantap yang ada saja

telah kugali juga sepetak lubang
ranjang yang tilamnya tanah basah
agar jika ngantuk dan lelah
kita tinggal rebah sambil berpelukan

bersamamu aku ingin membunuh malam
di sini, yang sekarang rumah kita

RUANG PENYEMBUHAN

RUANG PENYEMBUHAN


lebih kepada ruang
barangkali yang mesti diciptakan
agar ada tempat untuk sekedar istirah
meredakan nyeri dan melepas kesah

semacam bangunan yang tak begitu luas
tapi punya banyak ruang dan jendela
rumah sederhana dengan beberapa genting kaca
dimana akan ku mukimkan engkau, kekasih

di dalamnya, kita bisa berpilin lidah
saling menjilat, mengobati luka dengan ludah
betapapun bacin tapi sungguh menyembuhkan
kau tak keberatan, bukan