DUA GELAS SEKOTENG MASIH BERPELUKAN
MESKI TELAH KITA TINGGALKAN
sejak tiap pagi penuh dengan rasa terimakasih
aku tak peduli lagi malam ini purnama ke berapa
yang pasti dadaku gagal menjadi dingin
lalu kursi meja tertawa merapatkan duduknya
kubiarkan wajahmu yang purapura jadi rembulan
mengapung di segelas sekoteng yang hangat
juga ketika rambut dan kedua tangan
lebih memilih sebagai udara di atas gelas lainnya
tubuh kita kemudian yang lebih banyak bicara
lelah yang tak dirasa cuma awal sebuah jeda
yang akan dibutuhkan sebagai bekal mendatang
saat sua bukan lagi suatu pilihan
maaf jika kemarinkemarin telah kucurituliskan
beberapa warna yang lekas menjadi tua
justeru setelah kau kenakan tanpa prasangka
tanpa keinginan terlihat seksi ataupun jelita
pandang mata ini mesti melewati kutub bukan
kau boleh ke utara biar aku saja yang ke selatan
kita akan saling berhadapan
saling menemukan sedih gembira juga keraguan
yang gigih kita sembunyikan di balik celana
baju kutang dan segala yang melekat pada badan
menjadi hanya jejak perjalanan
yang tak harus berkalikali ditengok ulang
iya sayang dua gelas itu makin erat berpelukan
15.08.2011
0 komentar:
Poskan Komentar