MEMOTRET
sejarak kurang lebih semeter
di samping kiriku, sepotong kayu
masih bertahan menyala di tungku
di halaman depan rumah
aku berbaring menghadap ke atas
kemudian bergegas
memotret langit, sebuah bintang
dan beberapa pucuk daun, dengan
bingkai gelap menjelang subuh
sebelum keduluan anjing tetangga
menggonggongi tukang sampah
lalu langit menghijau di ufuk timur
dan semua tampak kacau, selepas
mendengkur sepanjang tidur, usai
mimpi perihal sumur
2018
Minggu, 18 Maret 2018
Senin, 12 Maret 2018
DULU, ADA YANG PECAH
DULU, ADA YANG PECAH
Boleh dibilang, lelaki itu nyaris tidak pernah
memperlihatkan jari telunjuk tangan kirinya,
tapi kali ini, sambil menjepit sebatang rokok
yang menyala, dia berkata, "Inilah wajahku".
Ujung telunjuk kirinya tepat di depan hidung.
Bekas luka tampak samar, di ruas pertama,
di dekat kuku, dan cermin itu baik-baik saja.
"Mana wajahmu?" dia bertanya. Kepala dan
seluruh tubuhnya memang palu, tapi terlalu
tumpul untuk benda yang terbuat dari kaca.
Tak ada yang tersayat atau terbelah. Dan ya
cermin itu pun tetap utuh dan baik-baik saja.
Dia mengisap rokoknya, mengembuskan ke
cermin. Sesaat, semua tampak buram, tapi
lekas kembali seperti semula, wajahnya pun
baik-baik saja. Tidak ada yang harus pecah.
2018
Boleh dibilang, lelaki itu nyaris tidak pernah
memperlihatkan jari telunjuk tangan kirinya,
tapi kali ini, sambil menjepit sebatang rokok
yang menyala, dia berkata, "Inilah wajahku".
Ujung telunjuk kirinya tepat di depan hidung.
Bekas luka tampak samar, di ruas pertama,
di dekat kuku, dan cermin itu baik-baik saja.
"Mana wajahmu?" dia bertanya. Kepala dan
seluruh tubuhnya memang palu, tapi terlalu
tumpul untuk benda yang terbuat dari kaca.
Tak ada yang tersayat atau terbelah. Dan ya
cermin itu pun tetap utuh dan baik-baik saja.
Dia mengisap rokoknya, mengembuskan ke
cermin. Sesaat, semua tampak buram, tapi
lekas kembali seperti semula, wajahnya pun
baik-baik saja. Tidak ada yang harus pecah.
2018
Label:
prosa pendek


Langganan:
Postingan (Atom)