Senin, 19 September 2016

YUS

YUS

Yus, adalah namanya. Singkat, memudahkan orang mengingat dan memanggilnya, tapi kami, teman-teman sekampungnya tidak selalu menyebut panggil dengan namanya. Kami lebih sering mengolok-oloknya dengan 'kurang sekilo' kerna kelakuannya yang setengah kenthir dan wajahnya yang selalu cengar-cengir tanpa sebab yang jelas. Pada awalnya ia hanya diam saja dengan tampilan raut wajah seperti kebiasaannya, mungkin karena tidak tahu. Namun belakangan ia mulai menukas olok-olok kami dengan 'kamu juga' dan masih tetap dengan wajah cengar-cengirnya tanpa sedikit pun kemarahan. Bahkan wajah culunnya tampak terkesan sedang berbahagia dengan ikhlas.

Suatu siang seorang teman yang bekerja sebagai tukang parkir bertemu dengannya di daerah Karang Ayu, kawasan barat kota Semarang. Saat itu si wajah cengar-cengir ini akan pergi ke simpang lima di pusat kota yang jaraknya lebih dari 3 km. Mengetahui hal itu, temannya si tukang parkir memberinya uang dengan maksud agar digunakan untuk membayar ongkos angkutan kota. 

Tukang parkir tahu 'wajah yang sedang berbahagia' itu, sudah seminggu lebih menganggur kerna tak ada yang memintanya tolong untuk mengerjakan apa pun. Sebelumnya pekerjaan Yus adalah semacam kurir di kampung kami. Boleh dikatakan selain berjalan kaki, 'kurang sekilo' tak punya kemahiran khusus lainnya. Dan dapat dipastikan belakangan ini hampir tiap hari tidak punya cukup uang. Tentu saja termasuk hari itu. Tapi apa yang kemudian Yus lakukan, meski sebenarnya telah ia duga sebelumnya, tetap membuatnya geleng-geleng kepala.

Uang pemberiannya justru digunakan Yus untuk membeli satu pak rokok beserta korek apinya. Setelah mengantongi kembaliannya, ia menyalakan sebatang, lalu mengisapnya dalam-dalam. Kemudian ngeloyor pergi begitu saja, tanpa pamit, tanpa mengucapkan terima kasih, tanpa satu kata pun. 

Dengan langkah mantab yang lebar kakinya berjalan ke timur, ke arah Simpang Lima. Tempat ia menemukan banyak pantangan dan aturan yang tak pernah disangkanya membuatnya repot, tapi tetap tak pernah membuat wajahnya berubah.

Yus memang sangat suka berjalan kaki. Ke mana-mana ia lebih suka menggerakkan kakinya ketimbang membiarkannya diam di atas kendaraan, baik angkot atau bukan. Ia tak pernah mengeluh untuk hal ini, juga untuk kebanyakan hal-hal yang lain. Wajah cengar-cengir tanpa sebab ini sangat bangga dengan kemampuanya berjalan. Terhitung ia seorang pejalan kaki yang tangguh, sekaligus perokok yang berat.

Berkait kesukaannya merokok dan seringnya tak punya uang inilah yang membuatnya sempat berkeluh kesah. Lalu memantik kesadarannya untuk mendapatkan uang dengan bekerja apa saja. Mendengar niat baiknya yang lebih terdengar sebagai keluhan tersebut, aku mengusulkannya untuk menjadi tukang pijat.

Tetap dengan wajah culunnya ia kelihatan heran bercampur bingung sebelum kemudian mengangguk-angguk senang, setelah kukatakan bahwa dengan memijat ia akan punya kebanggaan baru selain kedua kakinya, yaitu atas kedua tangannya. Dengan kedua tangannya kujelaskan pula bagaimana ia tidak hanya akan mendapat uang dari teman-temannya saja tapi juga dari orang lain. Tentu harus dengan belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh kepada seseorang yang benar-benar ahli pijat.Kujanjikan pula untuk segera mengantarnya menemui sang ahli yang terhitung masih saudaraku.

*****

Sore itu, si 'kurang sekilo' sedang belatih memijat dengan tubuh salah seorang teman kami sebagai obyeknya, ketika menceritakan sekian keinginannya yang belum tercapai. Salah satu di antaranya meski cukup sederhana tapi begitu menakjubkan, setidaknya menurutku saat itu. Sementara sang ahli, saudaraku yang duduk di sampingnya hanya tersenyum mendengar pengakuannya. 

Wajah yang ikhlas ini ingin sekali mempunyai celengan yang terbuat dari kaca hitam yang digambarkannya serupa kotak amal yang sering dijumpainya di toko-toko pinggir jalan dan di tempat-tempat ibadah. Dan ia ingin celengannya itu sebesar lemari pakaian.

"Apa yang akan kau lakukan dengan benda tersebut?", seorang kawan yang sedang diurutnya, bertanya kepadanya.

Melihat wajahnya yang tetap cengar-cengir aku menduga sebentar lagi sebuah lelucon akan meledak di antara kami. Tapi kemudian jawabannya terdengar datar, dengan ucapan yang tak terlalu keras, tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat, bahkan kemudian terkesan cukup serius.

"Aku akan rajin menabung. Tiap hari akan kusisihkan uangku, kumasukkan ke amplop putih, lalu kutuliskan berapa nilainya di sudut kanan atas penutupnya, baru kemudian kucemplungkan ke dalam celengan besar itu."

"amplop putih?" aku kaget sebentar, lalu heran yang juga cuma sebentar, sebelum kemudian ikut cengar-cengir yang menurutku seriusnya tak kalah dengan 'wajah yang sedang berbahagia' yang Yus perlihatkan.

"Ya, putih dan harus benar-benar bersih" begitu tegasnya.

*****

Saat ini hampir lima bulan lamanya sejak terakhir kali bertemu dengan si cengar-cengir. Entah kemana gerangan ia, atau entah dimana sekarang. Yang pasti aku memang sedang memikirkannya. Banyak pertanyaan yang mestinya diutarakan sebagaimana banyak pula jawaban yang mestinya kuterima. Namun kepada siapa semua itu mesti ditujukan. Tidak cuma sang 'pejalan jarak jauh' saja yang menghilang tak ada kabar beritanya, sepertinya nyaris semua makhluk yang berkaitpaut dengan dirinya telah menguap pula ke langit. 

Dan cerita ini menjadi begitu singkat, jauh dari harapan. Padahal belakangan ini aku sering membayangkan dalam perjalanan hidupnya si cengar-cengir akan bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang beraneka ragam; lelaki pemarah yang berprofesi sebagai penyiar radio, perempuan pemalu yang usianya lima tahun lebih tua dari dirinya, gadis cerewet yang kerja sebagai kasir di sebuah mall, lelaki murah senyum yang menjelang tiga bulan jatuh masa pensiun masih bertugas mengatur lalulintas di perempatan jalan. Selain mereka yang berbeda dan mungkin malah bertolak belakang dengannya tentu saja orang-orang yang mempunyai kesamaan dengan dirinya; sama-sama dilahirkan dengan weton yang sama--sabtu pahing, sama-sama berbintang virgo, sama-sama pejalan jarak jauh dan yang paling menarik adalah mereka yang sama-sama berbahagia dan berkeinginan mempunyai celengan yang serupa kotak amal. Bisa dibayangkan pasti unik dan rumit relasi yang akan terjadi di antara mereka

Aku lho, juga sudah membayangkan kisah ini bakal menjadi novel ciamik yang akan membuat beberapa teman-teman penulis kagum, paling tidak mereka akan berupaya sekuat tenaga, bertahan membacanya hingga kalimat terakhir. Namun apa boleh buat, sebagai cerpen pun kisah ini masih terlalu pendek, terlalu premateur untuk dilahirkan.

Hei, tapi dengan terlalu singkatnya cerita ini bukankah, akan menjadi besar kemungkinannya kalimat terakhir kisah ini terbaca oleh mereka, para penulis yang budiman itu. Atau barangkali memang harus diawali sebagai cerita pendek yang memang cukup pendek sebelum nantinya memanjang setelah bertemu lagi dengan Yus yang entah kapan. 


Wanamukti, 2016 

Jumat, 16 September 2016

MENONTON TELEVISI

MENONTON TELEVISI

Jika engkau menonton televisi indonesia, 
tidak disarankan sambil ngemil atau merokok, 
sebab setiap saat, kau mesti siap ikut bernyanyi 
dan bertepuk tangan, termasuk kepada 
berita-berita yang menyedihkan.


16.09.2016

Kamis, 15 September 2016

TAK PERNAH BENAR-BENAR SENDIRIAN

TAK PERNAH BENAR-BENAR SENDIRIAN asyik mengunyah dan menelan uang kertas layaknya makanan yang bisa bikin kenyang.
persediaannya bergepok-gepok di brankas,
terhadap lapar, tak lagi khawatir dan cemas
juga tak perlu meragukan kondisi mulut gigi sebab kini, tak sekeping recehan ia miliki sudah habis dibagi, sebelum semua terjadi. jangan bertanya perkara lezatnya masakan karena saat ini, makanan tak ubahnya fiksi, sudah terlalu lama tak pernah nyata ada -- mirip mimpi yang sialnya, nyaris dua tahun memilih sembunyi, tidak pernah muncul lagi. lalu apa yang diharapkan, ketika keterkaitan dan ketergantungan kepada yang di luar diri masih begitu tinggi. 16.09.2016

Sabtu, 10 September 2016

BUKAN KATA HATI

BUKAN KATA HATI


kisah para pelopor, di garis terdepan
seperti halnya yang ada pada wuxia,
lalu, di tembang jawa dan film koboi :

tak harus mengaku sebagai pujangga,
untuk menuliskan apa yang selama ini,
kausangka sebagai kata hati.

karena tak ada copy paste dari hati
-- tak ada kata hati, memang tak ada.

sepertinya lebih baik berutang beras,
ketimbang ngotot punya harga diri
-- "ini kehormatan," kata orang-orang.

"bukan, itu cuma pasar ikan" --
entah siapa gerangan sedang bicara.

suaranya yang pelan, boleh dibilang
sebrutal es yang tiba-tiba saja berada
di tiap rongga tulang tubuhku.

menjadi seolah, pengganti sumsum
-- betapapun bening namun beku.


01.09.2016

Kamis, 25 Agustus 2016

TAMASYA KAMIS MALAM

TAMASYA KAMIS MALAM


kamis malam, menjelang pukul nol-nol,
kami pun meninjau kebun di samping rumah---
ada tiga pohon mangga, dua pohon ipik dalam
pot besar, satu dewandaru yang berbunga,
serta tanaman lain yang menunggu berbuah.

lalu beberapa kegiatan muncul---tepatnya,
beberapa angan-angan yang harus dinyatakan;
berkemah sembari daden geni, bernyanyi
sambil berharap purnama hadir setiap malam,
dan tentunya memaki orang-orang sampai pagi.

baiklah, agar tidak membosankan, beberapa
doa dan kutukan kami upayakan pula terlontar
sebagai pencuci mulut sepertiga akhir malam.

perihal beberapa pesakitan menjengkelkan,
para koruptor yang juga tak bisa tidur nyenyak,
orang-orang yang muncul di televisi, serta
mereka yang takut begadang dan wedang kopi.

selain riuh bising, apa lagi yang bisa didengar
---bersikeras untuk tidak masuk angin.


2016 - 2017

Selasa, 23 Agustus 2016

BUKAN PERKARA NAMA

BUKAN PERKARA NAMA


Bisa lebih dari sembilan ratus empat puluh lima gelembung udara yang dibutuhkan muncul, lalu pecah di atas permukaan air mendidih. Sementara mi dan telur mesti direbus untuk membangkitkan selera makan malammu. Dan kau tak perlu tahu berapa kali sebuah nama telah disebut ulang, untuk mengiringi kegiatan memasak kali ini.

Sebagaimana kepolosan kedua yang menyeruak, ketika tujuh helai uban telah diketahui menampakkan diri, dimana dua helai di antaranya nyangkut di gigi, saat secangkir kopi diteguk untuk pertama kali, dari lepek bermotif kembang yang dulu pernah kaubilang, cantik itu.

Di sini, usia bukan semata-mata penanda, atas sekian penemuan sebagai bekal melanjutkan perjalanan.


15.08.2016

NOUMENON

NOUMENON


baiklah, itu memang bergedel
dari kentang yang telah dikupas,
digoreng, dilumat bersama bawang,
merica dan bumbu lainnya,
sebelum lalu digoreng kembali.

nah sekarang, dari berapa kentang
fenomena bergedel diciptakan.
butuh mantra doa ataukah sandal
saat berjalan ke pasar -- belinya
ngutang atau kontan.

-- behind the scene yang prematur.
engkau sedang tidak bergurau bukan
sebab, semesta tak ingin tahu.

mereka tak mau tahu -- meskipun
jiplakan, asal tak ketahuan.


15.08.2016

Sabtu, 20 Agustus 2016

TAMASYA YANG LAIN

TAMASYA YANG LAIN


Ketika perbincangan, mulai ngalor ngidul
tentang satu hal, lalu berpindah ke hal lain
berlangsung dengan cepat, tanpa beban.

Kadang, akan muncul sesuatu yang di luar
kebiasaan banyak orang -- bisa jadi adalah
ide serta gagasan yang unik dan menarik,
untuk tak menyebutnya aneh atau sinting.

Antara lain; ingin bercinta dengan penyanyi
dari luar negeri tanpa tahu apa sebabnya,
berusaha membuat sebanyak mungkin
koruptor menderita penyakit hernia, atau
tiba-tiba kepengin bikin komunitas pecinta
kerupuk mlempem.

Jangan terburu bertanya, soal kebenaran
atau tentang kejujuran. Sedari awal yang
berlaku adalah prasangka dan tentu saja,
sedikit kebohongan yang memang renyah
-- selalu dengan ijin dan perkenan tuhan.

Jadi, seperti pernah kutuliskan. Ini sekadar
upaya bertamasya dengan biaya murah.


19.08.2016

TAMASYA

TAMASYA


adalah tamasya, ketika berjeda
dengan rutinitas. berupaya segar
dan nyaman. meskipun dibalut
dengan rindu lalu dilumuri garam
dan debu, apa mau dikata, tetap
saja tamasya, memang tamasya.


18.08.2016




Senin, 08 Agustus 2016

BUNYI JATUH

BUNYI JATUH

jika kau pernah mendengar suara dari mulut :
semacam tiupan udara sedang dimampatkan
pada lubang sempit  yang dibentuk oleh dua
bibir  yang sebelumnya tersumbat oleh ujung
lidah, maka bisa dikatakan engkau juga tahu
bagaimana suara rambut yang jatuh ke lantai
bahkan jika ternyata itu cuma sehelai jembut


08.08.2016

USAI

USAI

usai nonton film tentang kerja pandai besi
perihal kegunaan barang hasil karya mereka
-- pembunuhan dan upaya penyelamatan

sambil terus mengamati huruf, lalu angka
yang sering menjadi sebab cemas dan derita
atau semacam keraguan yang telah kronis

tidak ada saran untuk melakukan bunuh diri
hanya saja, yang bisa mati tak cuma tubuh
yang lain, yang bukan benda pun butuh

memang, kegemaran telah melupakan harga
-- tak ada jual beli mengenai yang satu ini
mirip keyakinan, setelah itu habis perkara


06.08.2016

ANGGAP SAJA TAK PEDULI

ANGGAP SAJA TAK PEDULI

pisang gorengnya terlalu asin
katanya, mesti ditambah gula
entah agar terasa seperti apa

namun, kopinya cukup kental
tidak butuh didinginkan, meski
yang panas tak selalu kepala

seperti jamu rebusan pertama
betapa pahitnya terasa sunyi
sama sekali, tak ingin diwakili

kau tak harus mengamininya
tapi boleh saja mengimaninya
lupakan bodoh dan buta huruf

05.08.2016

Senin, 18 Juli 2016

GERAH

GERAH

tubuh mengucur keringat
bikin basah baju dan cawat

"kurang apa lagi", tanyamu
di hadapan nyala api

"seteguk lagi, seteguk lagi"
kubilang, "jadikan tiga sloki"

double black label dan kopi
lalu, bulan kita kencingi

biarlah ia tenggelam
dipeluk li bai hingga karam

di sini pemabuk berebut tai
-- persetan dengan puisi

xiangyang bukan semarang
mari bersulang sayang

16 03 2016

Minggu, 03 Juli 2016

BELUM SAMPAI

BELUM SAMPAI

aku belum juga sampai, kepada
nasionalisme dan sosialisme yang agung itu
-- ingin menjadi bebal pun butuh biaya, upaya
dan bukti nyata

sekian perbincangan gagal
dusta, kebohongan masih begitu menggairahkan
: prasangka yang tak pernah berhasil diredam
-- iseng katanya

aku masih berutang dan terus berutang, setidaknya
kepada yang terhormat bumi, laut dan udara
-- bayang-bayang makin panjang
jatuh temponya


03.07.2014

Jumat, 24 Juni 2016

TERUS BERJALAN

TERUS BERJALAN

"Aku ingin bercinta", kata perempuan itu, "Hingga aku tertidur teruslah bicara". Lepas tengah malam, dari kejauhan, keduanya hanya bisa memandang bayang-bayang mereka yang sedang berciuman. Tak ubahnya sepasang cahaya di akhir malam, erat berpelukan.

Tanpa suara, lelaki itu terus berjalan, bicara sendirian. Memenuhi keinginan kekasihnya. Melanjutkan persetubuhan. Hingga batas umur. Lalu tersungkur.

25.06.2012