RUMAH
dinding, atap hanya batas
sebagaimana lantai tempat berpijak
di sini mengalir segala rutinitas
segenap nadi seluruh nafas
sederas apapun, hujan tak mampu
mengetuk-ngetuk jendela
karena kini, hati tak lagi berpintu
gerbanglah ia
yang berdetak di dalamnya
bukan jam dinding, bukan pula waktu
kita tak perlu lagi berkemas
apalagi cemas
27.05.2016
Sabtu, 28 Mei 2016
Minggu, 15 Mei 2016
SUKAR
SUKAR
sebab kalender usang
detak jam pun asing
jarak tempuh diusung
waktu asyik iseng
nyaris semua tertukar
tak lagi dapat ditakar
yang terlanjur tertakar
jadi sulit ditukar
lalu yang kalian pasang
benarkah pasung
pisang dalam sangkar
bagi yang tersingkir
tapi ini bukan burung
bukan pula barang
sering kali saling silang
gagal bertegur sulang
15.05.2016
sebab kalender usang
detak jam pun asing
jarak tempuh diusung
waktu asyik iseng
nyaris semua tertukar
tak lagi dapat ditakar
yang terlanjur tertakar
jadi sulit ditukar
lalu yang kalian pasang
benarkah pasung
pisang dalam sangkar
bagi yang tersingkir
tapi ini bukan burung
bukan pula barang
sering kali saling silang
gagal bertegur sulang
15.05.2016
Label:
sajak


Rabu, 11 Mei 2016
SYAIR CINTA TERSESAT ANTARA DAPUR DAN KAMAR TIDUR
SYAIR CINTA TERSESAT
ANTARA DAPUR DAN KAMAR TIDUR
bersama rasa kantuk yang sangat
sembari mengulum senyum
kau dengan ringan menyeret suaramu
"baru saja aku bermimpi
aku sudah sampai ke bintang-bintang"
begitu katamu, setengah sadar,
menjawab pertanyaan saat aku pulang
"apakah kau sudah makan sayang?"
kenapa lalu aku yang jadi lapar
bergegas ke dapur mencari makanan
pikiranku tiba-tiba pingsan
saat mencium nasi yang telah basi
dan kau masih tersenyum dalam pejam
melanjutkan mimpi dan keterbatasan
membiarkan biji mataku jatuh
menimpa cemas yang kau tinggalkan
baiklah sayang
cincin kawin kita di rumah pegadaian
memang tak butuh penebusan
hai, sampai di mana tadi
tidurmu belum terlalu jauh bukan
11.05.2011
ANTARA DAPUR DAN KAMAR TIDUR
bersama rasa kantuk yang sangat
sembari mengulum senyum
kau dengan ringan menyeret suaramu
"baru saja aku bermimpi
aku sudah sampai ke bintang-bintang"
begitu katamu, setengah sadar,
menjawab pertanyaan saat aku pulang
"apakah kau sudah makan sayang?"
kenapa lalu aku yang jadi lapar
bergegas ke dapur mencari makanan
pikiranku tiba-tiba pingsan
saat mencium nasi yang telah basi
dan kau masih tersenyum dalam pejam
melanjutkan mimpi dan keterbatasan
membiarkan biji mataku jatuh
menimpa cemas yang kau tinggalkan
baiklah sayang
cincin kawin kita di rumah pegadaian
memang tak butuh penebusan
hai, sampai di mana tadi
tidurmu belum terlalu jauh bukan
11.05.2011
Label:
sajak


SEMACAM JAGA SEMPAT SEBELUM SEMPIT
SEMACAM JAGA SEMPAT
SEBELUM SEMPIT
SEBELUM SEMPIT
kami tertawa dengan serius
kami terlanjur lupa dengan serius
berharap dengan serius saling mengingatkan
sebelum suara-suara dari pengeras suara
dan satu dua peristiwa tak terduga
semisal, bermain ular tangga
10.05.2016
Label:
sajak


Sabtu, 07 Mei 2016
MENJELANG KEMARAU
MENJELANG KEMARAU
selain waktu,
seringkali jarak menjadi kambing hitam
atas saling melupakan, yang mulai pelan-pelan berjalan
bahkan, sejak pertama kali bertemu pandang
kau aku sangat paham
bagaimana terus menjaga saling mengkhawatirkan
mengakui, memaklumi tubuh yang egois ini
yang tak selalu mudah ditoleransi
membiarkan kebohongan, berdusta
atau sedang berupaya mencapai lupa dengan sendirinya
berlalu begitu saja
maag yang mulai sering hadir, diare, demam, batuk
sembuh kambuh tanpa memberi tahu lebih dulu
seperti engkau kepadaku
tak pernah benar-benar cerai dariku
sunyi mencair mengalir lalu kembali beku, di matamu
yang basah, yang coklat tanah itu
07.05.2012
selain waktu,
seringkali jarak menjadi kambing hitam
atas saling melupakan, yang mulai pelan-pelan berjalan
bahkan, sejak pertama kali bertemu pandang
kau aku sangat paham
bagaimana terus menjaga saling mengkhawatirkan
mengakui, memaklumi tubuh yang egois ini
yang tak selalu mudah ditoleransi
membiarkan kebohongan, berdusta
atau sedang berupaya mencapai lupa dengan sendirinya
berlalu begitu saja
maag yang mulai sering hadir, diare, demam, batuk
sembuh kambuh tanpa memberi tahu lebih dulu
seperti engkau kepadaku
tak pernah benar-benar cerai dariku
sunyi mencair mengalir lalu kembali beku, di matamu
yang basah, yang coklat tanah itu
07.05.2012
Label:
sajak


BUKAN UNTUK DIKENANG
BUKAN UNTUK DIKENANG
di sini, salju, tulip, hutan dan ikan hiu
hanyalah keisengan chanel televisi
di gegap gempita peradaban global
agar tak dianggap gombal
selepas maghrib, yang didendangkan
biasanya lagu dangdut berbahasa lokal
lalu apa yang dapat ditemukan
ketika pengkhotbah mulai membual
sementara purnama ada di mana-mana
selain tentu dituliskan di banyak buku
penanda birahi yang menggelegak
ke puncak rasa ingin tahu
tuhan, agama, ilmu pengetahuan
hanya seolah memenuhi kewajiban
jadi modal pengakuan kaum beradab
mewujudkah tanggung jawab
sedang kau aku tentu bukan mereka
demikian pula perbincangan kami
meskipun boleh dibawa ke mana-mana
tak serta merta boleh dipuji
lebih-lebih untuk sekadar dijual rugi
05.04.2014
di sini, salju, tulip, hutan dan ikan hiu
hanyalah keisengan chanel televisi
di gegap gempita peradaban global
agar tak dianggap gombal
selepas maghrib, yang didendangkan
biasanya lagu dangdut berbahasa lokal
lalu apa yang dapat ditemukan
ketika pengkhotbah mulai membual
sementara purnama ada di mana-mana
selain tentu dituliskan di banyak buku
penanda birahi yang menggelegak
ke puncak rasa ingin tahu
tuhan, agama, ilmu pengetahuan
hanya seolah memenuhi kewajiban
jadi modal pengakuan kaum beradab
mewujudkah tanggung jawab
sedang kau aku tentu bukan mereka
demikian pula perbincangan kami
meskipun boleh dibawa ke mana-mana
tak serta merta boleh dipuji
lebih-lebih untuk sekadar dijual rugi
05.04.2014
Label:
sajak


Langganan:
Postingan (Atom)