ANAK LELAKI BERTUBUH KURUS
Anak lelaki bertubuh kurus yang bertahun-tahun kemudian mengakhiri
masa lajangnya dengan menyunting anak perempuan sulung seorang
imam masjid di daerah kawasan padat penduduk di kotanya, yang kini
sedang serius menuliskan beberapa gagasan serta pemikiran yang
menurutnya rentan terlupakan, pernah jadi ketua kelas saat duduk di
bangku kelas lima sekolah dasar.
Ia lupa perasaanya pada saat itu, apakah senang dan bangga. Namun
yang pasti, setelah sekian tahun berlalu, ia merasa telah berdosa
besar Dan sangat menyesal pernah menjadi semacam pejabat, meski
cuma memimpin tiga puluh delapan anak ingusan yang lebih dari
separonya bahkan belum disunat, tergabung dalam satu kelas, pada
masa-masa awal dirinya menuntut ilmu.
Di depan komputer, sembari terus menatap huruf dan angka di papan
keyboard, diam-diam berjanji tak akan pernah mengulanginya lagi.
Penyesalannya boleh dibilang cukup mendalam, meski tidak sampai
bunuh diri.
* dipetik dari buku cerita yang belum kepikiran diberi judul, karena itu
semua masih menjadi sekadar angan-angan bagi calon penulisnya
yang sejak ingat dirinya sebagai manusia hidup yang tentu juga butuh
makan, lebih menyukai krupuk gendar ketimbang ayam panggang atau
bakso goreng sekali pun.
22.02.2016 - KY
Rabu, 24 Februari 2016
Senin, 22 Februari 2016
SEJENIS PAHLAWAN
SEJENIS PAHLAWAN
masih ada sebatang rokok dan dua tiga teguk kopi
semoga cukup untuk menemani membuat satu titik
guna melengkapi satu dari tujuh huruf, pembentuk
nama yang setia disembunyikan batu nisan kepada
guguran kamboja
semoga cukup untuk menemani membuat satu titik
guna melengkapi satu dari tujuh huruf, pembentuk
nama yang setia disembunyikan batu nisan kepada
guguran kamboja
* dipetik dari catatan kematian penyapu jalan, yang
dianggap berjasa bagi sebuah kota, oleh sebagian
penduduknya -- kerabat dan orang-orang terdekat
dianggap berjasa bagi sebuah kota, oleh sebagian
penduduknya -- kerabat dan orang-orang terdekat
22.02.2016 - KY
Label:
semoga puisi
Selasa, 16 Februari 2016
HARGA DIRI
HARGA DIRI
harga diri, katanya
untuk menyebut sejenis martabat
yang toh akhirnya terjual juga
berapa pun harganya
lalu tubuh kecilnya meliuk
akarnya tak pernah dalam
terlalu berat menanggung beban
padi yang tak tahu diri
kesepakatan, pasti akan sampai
pada jatuh tempo sebagai tanda usai
masa berlaku
17 02 2015
harga diri, katanya
untuk menyebut sejenis martabat
yang toh akhirnya terjual juga
berapa pun harganya
lalu tubuh kecilnya meliuk
akarnya tak pernah dalam
terlalu berat menanggung beban
padi yang tak tahu diri
kesepakatan, pasti akan sampai
pada jatuh tempo sebagai tanda usai
masa berlaku
17 02 2015
Label:
sajak
Rabu, 27 Januari 2016
GENDARI
GENDARI
aku masih ingat saat itu
ketika ada pertanyaan, tentang
siapa tokoh wayang yang paling disuka
dan atau menjadi semacam idola
berulang kali nama arjuna disebut
nama shinta diucapkan dengan wajah malu-malu
atau nama semar dengan perasaan bangga
saat itu kau membisikkan satu nama
yang sangat mungkin bikin mereka terkejut
kau bilang, "Gendari"
setelah itu suara tawa cikikikanmu tak henti-henti
seolah-olah ada sepasang tanduk mungil
baru tumbuh di kepala
06.01.2015
Label:
sajak
Sabtu, 14 Maret 2015
TERGANTIKAN
TERGANTIKAN
kau rahim mutan
musim hujan di komputer
sihir daging yang telah diawetkan
kau birahi plastik
menghisap rembulan yang kasmaran
jatuh cinta kepada selokan
kau payudara kayu
kaku di ruang etalase penuh lampu
tak sekali pun melenguh
kau bunyi pelangi
tujuh cahaya dikemas kotak berkilau
meriah, tak pernah cemas
di luar sana jauh berpuluh-puluh
yang ada di sini menggigil berpeluh-peluh
lupa ikon tertawa
menunggu tiba batas kedaluwarsa
rindu ketika nafas dihela
seruangan penuh
17.06.2014 - KY
Label:
sajak
Selasa, 20 Januari 2015
LALU SUDAH
LALU SUDAH
jika bukan karena aku
kau pasti telah sampai di gerbang
kata perempuan itu kepada kekasihnya
tangan kanannya terus melambai
yang kiri menekan dada
lelaki bertabur garam
pandang matanya memicing tajam
satu tikam jalan darah melewati perbatasan
ia tak lagi punya waktu untuk segala
yang menetes pun mengalir
dan itu bukanlah ajakan
selamanya kematian selalu sendirian
seperti sunyi yang tak permah bisa diajarkan
hanya butuh saling bertukar ludah
lalu sudah
12.01.2015
jika bukan karena aku
kau pasti telah sampai di gerbang
kata perempuan itu kepada kekasihnya
tangan kanannya terus melambai
yang kiri menekan dada
lelaki bertabur garam
pandang matanya memicing tajam
satu tikam jalan darah melewati perbatasan
ia tak lagi punya waktu untuk segala
yang menetes pun mengalir
dan itu bukanlah ajakan
selamanya kematian selalu sendirian
seperti sunyi yang tak permah bisa diajarkan
hanya butuh saling bertukar ludah
lalu sudah
12.01.2015
Label:
sajak
Minggu, 15 Juni 2014
SURAT UNTUK, NING
SURAT UNTUK, NING
Ning,
Satu kata dari pertemuan terakhir kita, masih terngiang. Seperti mewakili ribuan lainnya yang pernah kudengar dari mulutmu. Membuat selera makanku lenyap, tidurku tak teratur. Hingga orang-orang terdekat, saudara dan sahabat satu persatu menjauh dariku. Mereka telah mengucilkanku. Aku tak menyalahkan mereka, bagaimana mungkin mereka sanggup bertahan bergaul denganku yang nyaris tak pernah keluar rumah. Aku keluar hanya untuk hal-hal yang penting saja, seperti mengantar pesanan patung, membeli kebutuhan hidup dan satu dua kepentingan semacamnya. Hari-hari selanjutnya kulalui dengan asyik bersama diriku sendiri.
Aku tahu satu kata itu tak pernah kau tujukan kepadaku. Satu kata itu, tentu saja untuk bedebah biadab yang telah membuatmu ternoda, membuatmu merasa benar-benar tak berharga. Tapi bukankah kita tak pernah bermaksud menjual diri sendiri. Ya aku tahu, seperti saat itu, sekarang pun, kau tak akan mau mendengar kata-kataku, seperti saat itu. Padahal sudah ratusan kali kukatakan, bagiku kau masih seorang gadis yang suci, tapi yah, kupikir kau terlalu kejam dengan dirimu sendiri, Ning. Dan kini, kau aku lebih memilih menyendiri tanpa gairah hidup. Aku masih ingat betul saat kau mengatakannya dengan sorot mata yang membuatku tak percaya bahwa itu memang matamu, bahwa itu memang perkataanmu. Dengan intonasi yang tandas dan dagumu mengeras. Jahanam. Begitu katamu, lalu kau ulang lebih dari tiga kali, sebelum kemudian kau memintaku pergi dengan alasan yang tak pernah kumengerti.
Seminggu yang lalu, sembilan bulan setelah kepergianku. Setelah menyerahkan pesanan patung kepada seorang kolega, aku mengunjungi psikiater yang masih teman sekolahku saat SMA dulu. Kau masih ingat bukan, temanku satu bangku, si kutu buku berkacamata tebal itu, kukira hanya dialah kini satu-satunya sahabat dan sekaligus anggap saja psikiaterku. Kepadanya, sebenarnya lebih pas jika disebut mencurahkan isi hati ketimbang dianggap sebagai konsultasi atas kondisi kejiwaanku. Jika sudah bertemu, kami biasanya bisa ngobrol sampai subuh, tapi malam itu, aku tak lama di rumahnya, sekedar bertegur sapa dan sedikit perbincangan yang tak begitu penting. Kira-kira sepeminuman teh kemudian, aku pamit pulang. Saat itu sudah menjelang tengah malam, aku berjalan menuju ke sebuah halte bis yang tak terlalu jauh dari rumah sahabatku itu. Tadinya aku mau lekas-lekas pulang, tapi kuurungkan.
Entahlah, malam itu tiba-tiba aku ingin menikmati udara malam dengan batang terkahir, rokok kretekku. Dan kupikir masih ada paling tidak dua tiga bis yang bakal lewat ke arah rumah. Malam yang cerah, meski tadi sempat segumpal awan menghalangi sinar rembulan. Aku benarbenar menikmati malam dan nyaris semua pernakperniknya. Hingga tak terasa sudah lewat tengah malam, sisa rokokpun sudah kubuang. Bahkan aku tak tahu perginya lelaki tua yang tadi minta api untuk menyalakan rokoknya. Dan yang jelas, aku telah melewatkan bis terakhir, menuju rumah. Apa boleh buat, kuputuskan untuk berjalan pulang. Jarak yang kurang lebih tujuh kilometer kupikir akan cukup membuatku lelah, dan membantuku untuk dapat lekas tidur sesampai di rumah. Begitulah Ning, aku lalu berjalan pulang.
Belum lima ratus meter aku meninggalkan halte yang kosong itu, aku dikejutkan oleh suara perempuan. Meski tak mirip suaramu, tapi satu kata yang berulang keluar dari mulutnya di sela racauan yang tak karuan, mengingatkanku kepadamu, memaksaku menghentikan langkah, lalu berpaling. Seorang perempuan paruh baya tangannya teracungacung di belakangku, di seberang jalan. Dari jarak empat puluh meteran aku melihatnya, ia terus menyeret kaki-kakinya, makin dekat dan semakin dekat, hingga aku dapat lebih jelas melihat sosok tubuhnya, rambutnya yang riap-riapan, bajunya yang basah robek di sana-sini, perut buncitnya yang lima bulan, menyimpan puting beliung yang tengah dikandungnya. Terseokseok ia menyusuri jalan itu.
Isak tangis dan sumpah serapah tak henti berhamburan dari mulutnya. Sementara tangannya bergerak pelan menyayat kulit tubuh dengan sebilah pisau dapur. Dari dada melewati leher sampai ke wajah yang terlihat menyimpan bertumpuk kepedihan yang tak bakal berani kau bayangkan. sayat demi sayat berulang di tingkah racauan dan ketika sampai pada satu kata yang membuatku bergidik, ia mengacungacungkan tangannya yang menggenggam pisau itu ke langit. Malam itu, selain aku dan perempuan itu, tak kulihat ada makhluk lain. Jalan kota menjadi begitu nyaris lengang, menjadi panggung pertunjukkan yang hanya milik kami berdua.
Ia terus berjalan, Ning,
Dan aku mengikutinya dari seberang. Kami beriringan di kedua sisi trotoar jalan itu. Enam kilometer lebih, kami khusyuk sebagai unsur pembentuk sebuah pertunjukkan, aku menjadi penonton dan aktrisnya tentu saja perempuan paruh baya itu, yang seluruh gerak tubuhnya hampir tak ada yang sia-sia, sungguh memukau. Memasuki sepertiga akhir malam, drama yang memilukan ini belum juga berakhir. Sampai kemudian tiba di sebuah perempatan yang berjarak sekitar dua ratus meter dari rumahku, langkahnya terhenti, isak tangis, sumpah serapah mereda dan seluruh tubuhnya geming tak bergerak. Sesaat itu waktupun ikut berhenti. Sesaat yang sungguh sunyi, sebelum kemudian dipecah oleh suara tawanya yang amat panjang, tawa seorang perempuan yang belum pernah kudengar. Seperti ujung paku yang menggores panjang permukaan logam, luar biasa mengerikan. Hingga jantungku yang tadinya tak beraturan berdegup keras, sesaat berhenti. Kesiur angin tibatiba terasa begitu dingin dan hitam, begitu menggigilkan.
Kemudian nyaris bebarengan dengan terayunnya pisau dapur menikam perutnya, ia tersungkur, ditimbun cahaya lampu jalan yang kuning pucat. Sebuah klimaks yang sungguh dahsyat. Perlahan-lahan kuberanikan diriku untuk mendekatinya, kulihat sosok tubuh meringkuk dengan tangan mendekap perut, seluruh kulitnya seakan telah berganti warna, merah. Begitulah ia terbaring bertilam darah.
Kematian, dalam sebuah pertunjukkan ataupun pada kenyataan seringkali menjadi peristiwa yang teramat menyedihkan. Tapi heii, ini bukan pertunjukkan seperti di gedung-gedung teater itu, Ning. Ini sebuah kenyataan yang sejak awal tak lepas dari mataku. Kematian di sini nyaris tanpa saksi, dan barangkali tanpa kesedihan dan air mata.
Cukup lama aku terdiam, tak tahu apa yang mesti kuperbuat. Sampai akhirnya wajahmu berkelebat, seolah hadir sebagai penonton kesiangan. Setelah kutimbangtimbang akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri pertunjukkan yang benarbenar jahanam ini dengan menggendong tubuh perempuan itu ke rumah. Bukan pekerjaan yang ringan, tapi entahlah, malaikat ataukah iblis, yang telah merasukiku saat itu, yang pasti akhirnya aku berhasil membawa perempuan itu ke rumahku.
Ning sayangku,
Kau tahu? apa yang akan kulakukan dengan temuanku kali ini. Ya ning, perempuan yang masih berlepotan dengan darah itu, tubuhnya kuawetkan dengan formalin, lalu setelah tubuh itu kaku, kucemplungkan ke dalam cairan fiberglas yang bening, kemudian setelah semuanya mengeras segera kukemas dengan kardus berlapis kertas perak yang berkilauan. Setelah itu baru kukirimkan dengan paket kilat kepadamu. Agar kau ngerti dan paham bahwa segala kesedihan dan rasa sakitmu, belumlah seberapa pengar, payau dan sunyi.
Setelah kau baca tulisan ini, bukalah kertas perak itu, Ning. Terimalah sebagai hadiah ulang tahunmu dariku, yang kukirimkan bersama surat ini. Maaf, jika pisau dapur perempuan itu tak kuikutkan serta. Biarlah benda itu mengantarku menyusulnya, kerna aku belum sempat minta ijin darinya, atas kelancangan yang telah kulakukan terhadap tubuhnya. Dan sekali lagi maaf, aku tak bisa datang kepadamu, dalam arti yang sebenarnya .
Peluk ciumku, selalu
Label:
cerpen
MENGINGAT
MENGINGAT
saat itu secara berkala aku mengunjungimu
siang malam dan selalu pada hari jumat dan hari sabtu
hingga kini masih ada yang mengeram di kepala
bergantian timbul tenggelam tak mau benar-benar lupa
di tingkah lagu balada, suaramu terdengar lamat-lamat
satu kata begitu mengesankan, kau bilang, ingat
lalu cerita bergulir tentang anjing, angsa yang kau pelihara
dua makhluk yang kauberi nama selamet dan endang
juga tentang bintang yang memiliki cahayanya sendiri
rembulan yang seperti cermin, sekian matahari
yang menerima jabatan jauh sebelum bumi diciptakan
hei ternyata masih ada banyak lagi; perihal lilin
yang api kecilnya terayun-ayun membakar diri nyaris habis
minyak wangi tujuh warna, batang dupa menjadi abu
tempat yang pernah kita kunjungi, udara yang kita curi
dan pengabdian segelintir manusia abadi
pernah di suatu siang kaubilang, naiklah lebih tinggi
tangga belum sepenuhnya jadi dan cuma sampai lantai dua
aku diam saja, meski kaki tetap menapaki anak tangga
di atas sana ada dua orang sedang memasang ubin
dan malam ini kau aku kembali bertemu
kau diam aku juga diam selama lebih kurang tiga jam
hanya nafas yang teratur dan detak detik yang ngelantur
lalu kulanjutkan perjalanan, matamu berkata, hati-hati
dalam hati kubilang, sampai jumpa lagi
06.07.2013
Label:
semoga puisi
JATUHMU KE BAWAH, BUKAN
JATUHMU KE BAWAH, BUKAN
angin yang kaubilang berwarna ungu
tadi sore, mampir sebentar di beranda
kepadanya, kutanya kabar tentang dirimu
jawabnya, "biar kusimpan hingga tahun depan"
lalu ia buru-buru bergegas ke utara
pikirku, bukankah di selatan ada kutub juga
seperti halnya kau yang berada di barat
dan sekaligus di timur pada saat yang sama
kesedihan bukanlah sesuatu yang baru
bukan pula sesuatu yang gagal menjadi bahagia
hanya saja ketika kita sedang melewatinya
waktu terasa berjalan begitu lambat
tapi seperti yang telah dijanjikannya padaku
kabar itu pasti hadir pada saat yang tepat
saat gerimis tak lagi dicurigai sebagai air mata
dan kau sudah bosan menyamar
sebagai hujan
15.06.2014
angin yang kaubilang berwarna ungu
tadi sore, mampir sebentar di beranda
kepadanya, kutanya kabar tentang dirimu
jawabnya, "biar kusimpan hingga tahun depan"
lalu ia buru-buru bergegas ke utara
pikirku, bukankah di selatan ada kutub juga
seperti halnya kau yang berada di barat
dan sekaligus di timur pada saat yang sama
kesedihan bukanlah sesuatu yang baru
bukan pula sesuatu yang gagal menjadi bahagia
hanya saja ketika kita sedang melewatinya
waktu terasa berjalan begitu lambat
tapi seperti yang telah dijanjikannya padaku
kabar itu pasti hadir pada saat yang tepat
saat gerimis tak lagi dicurigai sebagai air mata
dan kau sudah bosan menyamar
sebagai hujan
15.06.2014
Label:
sajak
Rabu, 19 Februari 2014
DEBAR
DEBAR
sekian warna tanggal, sapih
menyisakan hitam dan putih
sebagaimana siang malam
bergantian timbul tenggelam
mungkin saja membosankan
tetapi beginilah kenyataan
menyatu dengan keyakinan
tanpa dusta tanpa harapan
kini semua pasti, seperti mati
tanpa mimpi tanpa pelangi
degab jantung hidup murni
menyisakan hitam dan putih
sebagaimana siang malam
bergantian timbul tenggelam
mungkin saja membosankan
tetapi beginilah kenyataan
menyatu dengan keyakinan
tanpa dusta tanpa harapan
kini semua pasti, seperti mati
tanpa mimpi tanpa pelangi
degab jantung hidup murni
gemuruh sunyi nafas hati
tak ada yang harus diamini
sebab, sendiri menjadi saksi
begitulah, dikau tiada sekutu
demikian pula daku, Huu
09.12.2013
Label:
semoga puisi
Selasa, 18 Februari 2014
DUA TULISAN YANG INGIN DINYANYIKAN
SEPERTI BLUES
re fa la kemana
si sudah di sini sejak tadi
repetisi mi do so
menembus langitmu
si sudah di sini sejak tadi
repetisi mi do so
menembus langitmu
tubuhnya pernah jatuh
luka, suaranya tak berubah
tiap kali sampai
tak pernah mengeluh
ia tak mau berdendang
lagunya hilang nyanyi
semakin sumbang, pecah
di sumpah serapah
kini apalagi yang masih
dapat didengar, selain
keheningan lalu pemakaman
re fa la tak jua hadir
do mi so si meradang
memaksa ia mengulang
not yang sama
02.01.2014
BUKAN BLUES
nem ro telah melampaui pentatonik
yang tersayat tak sekedar dawai rebab
lebih pada dua kutub; hitam dan putih
hatinya tak lagi punya blues
bertahun jubahnya tergantung di almari
ditemani seikat lidi dan celana komprang
yang bau lumpurnya hampir habis
kalung naga masih nempel di dada
entah sejak kapan, entah berapa lama
bukan hal penting lagi, bukan apa-apa
nyaris tanpa bunyi
ji nem; jinem, heneng, hening, langgeng
menemukan bunga sunyi, bermekaran
di musim penghujan
pada akhirnya tak sesulit apa yang pernah
dibayangkannya; ia pernah sangat ingin
menjadi bulan sekaligus matahari
tapi ia bukan burung, bukan malaikat
yang tersayat tak sekedar dawai rebab
lebih pada dua kutub; hitam dan putih
hatinya tak lagi punya blues
bertahun jubahnya tergantung di almari
ditemani seikat lidi dan celana komprang
yang bau lumpurnya hampir habis
kalung naga masih nempel di dada
entah sejak kapan, entah berapa lama
bukan hal penting lagi, bukan apa-apa
nyaris tanpa bunyi
ji nem; jinem, heneng, hening, langgeng
menemukan bunga sunyi, bermekaran
di musim penghujan
pada akhirnya tak sesulit apa yang pernah
dibayangkannya; ia pernah sangat ingin
menjadi bulan sekaligus matahari
tapi ia bukan burung, bukan malaikat
tak akan pernah punya sayap
07.01.2014
Label:
semoga puisi
Senin, 07 Oktober 2013
MAJAPAHIT DALAM TIDUR PANJANG
MAJAPAHIT DALAM TIDUR PANJANG
selokan dan jalanan yang lengang
batu-batu merah batu-batu hitam, saksi sejarah
diam pasrah dalam hiruk pikuk peradaban
lalu puluhan prasasti seolah berubah menjadi nisan
terbaca dalam satu kalimat yang rawan
di sini pernah dimakamkan sebuah kerajaan
gunung penanggungan yang bijak
masih terasa nyaman untuk istirah dan tetirah
raksasa tua yang belum juga bosan mendengkur
melunasi segenap janji kepada para leluhur
tahun berganti abad sejak sebuah kutukan mengguntur
sang baturpun tegas menghitung mundur
kau dengar, nafas batu kian ungu
lembut berhembus satu-satu dari gerbang ratu
gapura yang tegak itu menolak ditelan waktu
dari zaman ke zaman tak lekang mengabarkan rindu
tentang nusantara bersatu untuk anak cucu
jadi ingat kata-katamu, kau bilang, "jangan lagi mencari"
baiklah, lalu mau dikemanakan segala penemuan
negeri besar itu tak pernah ingin menjadi reruntuhan
trowulan masih berkabut, sayang
10.01.2013
selokan dan jalanan yang lengang
batu-batu merah batu-batu hitam, saksi sejarah
diam pasrah dalam hiruk pikuk peradaban
lalu puluhan prasasti seolah berubah menjadi nisan
terbaca dalam satu kalimat yang rawan
di sini pernah dimakamkan sebuah kerajaan
gunung penanggungan yang bijak
masih terasa nyaman untuk istirah dan tetirah
raksasa tua yang belum juga bosan mendengkur
melunasi segenap janji kepada para leluhur
tahun berganti abad sejak sebuah kutukan mengguntur
sang baturpun tegas menghitung mundur
kau dengar, nafas batu kian ungu
lembut berhembus satu-satu dari gerbang ratu
gapura yang tegak itu menolak ditelan waktu
dari zaman ke zaman tak lekang mengabarkan rindu
tentang nusantara bersatu untuk anak cucu
jadi ingat kata-katamu, kau bilang, "jangan lagi mencari"
baiklah, lalu mau dikemanakan segala penemuan
negeri besar itu tak pernah ingin menjadi reruntuhan
trowulan masih berkabut, sayang
10.01.2013
Label:
sajak
Jumat, 22 Maret 2013
ONCAT
ONCAT
kemarin ia mendengarkan hujan
sekarang giliran angin minta dibelai
lalu ia menjelma badai
telanjang menyambut malam
meski telah ditutupi bantal
suaranya tetap bikin telinga gatal
mimpipun ditukar dengan kenyataan
kenyataan hadir pada dirinya
lekas pilih lekaslah pulih kekasih
kembalilah berkeringat
permukaan tanah tempat bersimpuh
barangkali busur raksasa
sepenuh jiwa anak panahnya
merentangkan tali melewati batas titik api
hingga ke inti bumi
lalu tembus
di antara kelamin dan anus
11.03.2013
Label:
sajak
Kamis, 01 Maret 2012
MEREKA DIMANA
MEREKA DIMANA
dimana mereka
yang berkutang bercelana dalam hitam
mana, mana mereka
yang berdada bidang berkulit legam
di negeri ini, kau bilang
perempuan dan lelakinya tak ada lagi
mesti diimpor seperti halnya beras dan bijih besi
tapi yang kau sangka kemaluan,
kenapa tak lagi bikin pipi jadi merah jambu
dan wajah tersipusipu
semua yang kau sebutkan
telah dibandrol dengan harga sangat tinggi
itupun mesti dibeli di luar negeri
selain pucat pasi dan caci maki
barangkali tersisa beberapa peristiwa
yang nyaris semua bikin ngeri sekaligus geli
lalu di mana mereka
sungguh, tadi pagi masih di televisi
02.03.2012
Label:
sajak
Minggu, 05 Februari 2012
LELAKI SENDIRIAN
LELAKI SENDIRIAN
seperti bongkahan es
sudah dua jam lebih menatap langit
teras rumah ikut menjadi dingin
dari matanya cahaya beku
memadamkan bintangbintang
benarkah selamanya ia ingin seperti itu
memaku semua yang mendekat
bangku tempat lelaki itu duduk
kian kusam saja
kian setia
ini tak seperti lazimnya penantian
kerna yang ditunggu telah dilipatnya
menjadi perahu
berlayar ke muara
matanya masih terus memandang langit
berupaya menghisap meteorit
berharap ada yang tersisa
lalu pelanpelan mencairkan tubuhnya
yang telah tiga hari tiga malam
menyibak hujan
ia masih teguh di tempatnya
menunggu hingga kering
menanti hingga menjadi ringan
lalu disapu angin
01.02.2012
Label:
sajak
Langganan:
Postingan (Atom)