BROWNIES SELAMAT
dua potong kue brownies
menemani secangkir kopi
sepotong yang besar
menghadap ke lampu neon
di belakangnya,
potongan yang lebih kecil
tampak lebih gelap
kemarin mereka di beranda
tanpa penjelasan apa-apa
entah punya siapa
kini, di batas kadaluwarsa
brownies ditemani kopi
berada di dalam lambungku
penyelamatan,
walaupun sangat riskan
tetap menjadi pilihan utama
2017
Kamis, 14 Desember 2017
Jumat, 01 Desember 2017
RAMBUTNYA PUTIH DAN PANJANG
RAMBUTNYA PUTIH DAN PANJANG
meskipun kalian memenggal kepala cucunya
jangan bermimpi mampu membuatnya menangis
air matanya telah lama tiris, dikuras duka
sejak satu sumpah diakhiri dengan jeritan panjang
seiring udara memasuki paru-paru---nafas pertama
---menandai tegur sapa dunia atas kelahirannya
betapapun saat itu setiap linangnya adalah mutiara
kemewahan langka yang dijanjikan kepada mereka
yang menemukan alamat pulang
"dunia sudah tua", kata-katanya jauh dari hasut
tanpa bujuk rayu yang mengingatkan tentang maut
di hadapannya kini, orang-orang berjejal dalam antrian
kaukah itu, meski telah lama berdiri di sampingnya
rela untuk direngkuh pada giliran terakhir
2017
meskipun kalian memenggal kepala cucunya
jangan bermimpi mampu membuatnya menangis
air matanya telah lama tiris, dikuras duka
sejak satu sumpah diakhiri dengan jeritan panjang
seiring udara memasuki paru-paru---nafas pertama
---menandai tegur sapa dunia atas kelahirannya
betapapun saat itu setiap linangnya adalah mutiara
kemewahan langka yang dijanjikan kepada mereka
yang menemukan alamat pulang
"dunia sudah tua", kata-katanya jauh dari hasut
tanpa bujuk rayu yang mengingatkan tentang maut
di hadapannya kini, orang-orang berjejal dalam antrian
kaukah itu, meski telah lama berdiri di sampingnya
rela untuk direngkuh pada giliran terakhir
2017
Label:
sajak
Rabu, 22 November 2017
BLUES BERANDA
BLUES BERANDA
di tiang beranda, seutas kawat terentang
ujung-ujung jari---telunjuk dan ibu jari dengan
kuku hitam---mulai menggetarkannya.
tidak ada senar. ia bukan mainan, juga bukan
musik untuk mengiringi orang menyanyi.
ia bukan omong kosong.
"di sini, tidak ada tangga nada", katamu sengit,
"ia hanya penanda perut lapar, penat lelah,
rasa kantuk dan segala kecemasan lainnya".
bukan suara merdu---riang dalam keremangan
yang sumbang---namun mantra kehidupan
yang melulu terdengar biru.
2017
di tiang beranda, seutas kawat terentang
ujung-ujung jari---telunjuk dan ibu jari dengan
kuku hitam---mulai menggetarkannya.
tidak ada senar. ia bukan mainan, juga bukan
musik untuk mengiringi orang menyanyi.
ia bukan omong kosong.
"di sini, tidak ada tangga nada", katamu sengit,
"ia hanya penanda perut lapar, penat lelah,
rasa kantuk dan segala kecemasan lainnya".
bukan suara merdu---riang dalam keremangan
yang sumbang---namun mantra kehidupan
yang melulu terdengar biru.
2017
Label:
sajak
Minggu, 12 November 2017
SARAPAN MINGGU PAGI
SARAPAN MINGGU PAGI
Saat ini kegiatan sarapan saya sedang memasuki fase yang membahagiakan. Bagi para penggemar krupuk mlempem hal ini tentu saja menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu di minggu pagi, di mana sekumpulan krupuk terendam dalam kuah bubur sehingga teksturnya menjadi lembut. Bersama telur rebus yang warnanya telah kecoklatan satu sendok untuk sesuap bubur nyaris tanpa perlawanan terhadap gigi dan lidah. Demikianlah.
2017
Label:
prosa pendek
Rabu, 25 Oktober 2017
SAAT JATUH TEMPO
SAAT JATUH TEMPO
baru saja kaucium putingku,
ketika tiba-tiba telepon berdering---
pesan, suara dalam telepon menyebut;
kode, angka dan nama tempat.
pulsa listrik, angsuran motor, toko online,
KTP, regristrasi dan laporan-laporan---
cincin kawin masih betah di pegadaian.
---ini bukan perkara kesedihan.
baiklah, memang urusan dunia---
kita akan menukarkan nota bensin,
pengiriman barangnya boleh hari minggu,
tapi campingnya tetap pada hari senin.
---ya, bak mandi belum terisi penuh.
beberapa rencana bisa ditunda,
yang bukan rencana pun bisa dilanjutkan,
---jika harus mandi dulu---itu cuma jeda
hingga rambutmu kering tentunya.
"suara musiknya bisa dikecilkan sayang?"
tak ada jawaban---aku tahu mulutnya sibuk---
tapi tangannya meraih remote kontrol.
2017
baru saja kaucium putingku,
ketika tiba-tiba telepon berdering---
pesan, suara dalam telepon menyebut;
kode, angka dan nama tempat.
pulsa listrik, angsuran motor, toko online,
KTP, regristrasi dan laporan-laporan---
cincin kawin masih betah di pegadaian.
---ini bukan perkara kesedihan.
baiklah, memang urusan dunia---
kita akan menukarkan nota bensin,
pengiriman barangnya boleh hari minggu,
tapi campingnya tetap pada hari senin.
---ya, bak mandi belum terisi penuh.
beberapa rencana bisa ditunda,
yang bukan rencana pun bisa dilanjutkan,
---jika harus mandi dulu---itu cuma jeda
hingga rambutmu kering tentunya.
"suara musiknya bisa dikecilkan sayang?"
tak ada jawaban---aku tahu mulutnya sibuk---
tapi tangannya meraih remote kontrol.
2017
Label:
sajak
Minggu, 15 Oktober 2017
Kamis, 12 Oktober 2017
LELAKI BASAH, PEREMPUAN GARAM
LELAKI BASAH, PEREMPUAN GARAM
Sayup-sayup suara perempuan yang matanya telah kering mengusik telinga. Lelaki dengan kesedihan selekas kebahagiaan yang cuma hadir sekejap, menghentikan langkah. Ia mengamati ujung kakinya yang kotor. Ia teringat banyak hal yang membuatnya menempuh jarak ribuan kilometer. Lalu wajahnya setengah berpaling. Seperti ada yang menepuk pundaknya. Mengusap tengkuk hingga membuatnya menggigil. Suara itu mencair, keluar dari telinga. Dari sekian kehangatan yang pernah hadir, barangkali desah itulah yang memaksa matanya berkaca-kaca.
Tapi ia benar-benar tak tahu perasaannya, sedih ataukah bahagia. Yang jelas mengalir semakin deras ke seluruh tubuh. Ada yang perlahan membelai dada. Ada yang meluncur melintasi punggung. Ada yang telah sampai di perut. Sebagian di antaranya memilih mukim di pusar, melingkar-lingkar. Setelah puas dengan rambut, perlahan mulai mengetuk mata. Pecahlah kaca-kaca. Leleh larut. Memasuki mulut. Mencuci gigi, membasuh lidah lalu melewati kerongkongan sebelum memenuhi setiap organ bagian dalam. Terus mengalir, meluap, hingga semua terlewat. Terlampaui.
Lelaki itu kian kuyub, seolah seluruh cairan tubuhnya turut mengalir keluar melalui tiap lubang pori-pori. Bisa dibilang hari masih sore, masih jauh dari puncak malam. Pintu dan jendela masih terbuka, tapi tak ada lagi suara yang bisa dikeluarkan. Ia hanya bisa menanti dan menanti. Lelaki itu masih mendengar suara dari geletar lidah kelu, lidah yang kering itu. Lidah perempuan yang suaranya mencair di telinga.
"Aku ingin bercinta", kata perempuan itu, "Hingga aku tertidur nanti teruslah bicara".
Lepas tengah malam, dari kejauhan, keduanya hanya bisa memandang bayang-bayang mereka sedang berpelukan, berciuman. Tak peduli cahaya yang menimpa, lelaki itu bicara sendiri dalam diam. Tubuhnya geming memenuhi keinginan kekasihnya. Meneruskan persetubuhan. Hingga batas umur, sebelum lalu tersungkur.
2012 - 2017
Sayup-sayup suara perempuan yang matanya telah kering mengusik telinga. Lelaki dengan kesedihan selekas kebahagiaan yang cuma hadir sekejap, menghentikan langkah. Ia mengamati ujung kakinya yang kotor. Ia teringat banyak hal yang membuatnya menempuh jarak ribuan kilometer. Lalu wajahnya setengah berpaling. Seperti ada yang menepuk pundaknya. Mengusap tengkuk hingga membuatnya menggigil. Suara itu mencair, keluar dari telinga. Dari sekian kehangatan yang pernah hadir, barangkali desah itulah yang memaksa matanya berkaca-kaca.
Tapi ia benar-benar tak tahu perasaannya, sedih ataukah bahagia. Yang jelas mengalir semakin deras ke seluruh tubuh. Ada yang perlahan membelai dada. Ada yang meluncur melintasi punggung. Ada yang telah sampai di perut. Sebagian di antaranya memilih mukim di pusar, melingkar-lingkar. Setelah puas dengan rambut, perlahan mulai mengetuk mata. Pecahlah kaca-kaca. Leleh larut. Memasuki mulut. Mencuci gigi, membasuh lidah lalu melewati kerongkongan sebelum memenuhi setiap organ bagian dalam. Terus mengalir, meluap, hingga semua terlewat. Terlampaui.
Lelaki itu kian kuyub, seolah seluruh cairan tubuhnya turut mengalir keluar melalui tiap lubang pori-pori. Bisa dibilang hari masih sore, masih jauh dari puncak malam. Pintu dan jendela masih terbuka, tapi tak ada lagi suara yang bisa dikeluarkan. Ia hanya bisa menanti dan menanti. Lelaki itu masih mendengar suara dari geletar lidah kelu, lidah yang kering itu. Lidah perempuan yang suaranya mencair di telinga.
"Aku ingin bercinta", kata perempuan itu, "Hingga aku tertidur nanti teruslah bicara".
Lepas tengah malam, dari kejauhan, keduanya hanya bisa memandang bayang-bayang mereka sedang berpelukan, berciuman. Tak peduli cahaya yang menimpa, lelaki itu bicara sendiri dalam diam. Tubuhnya geming memenuhi keinginan kekasihnya. Meneruskan persetubuhan. Hingga batas umur, sebelum lalu tersungkur.
2012 - 2017
Label:
prosa
Rabu, 04 Oktober 2017
PENYELAMATAN
PENYELAMATAN
Dia terbiasa tidur saat hari sudah larut malam setidaknya setelah semua penghuni rumah selain dirinya telah terlelap. Bahkan akhir-akhir ini sering kali di atas jam dua, bisa dibilang menembus dini hari.
Dan alasan yang menurutnya cukup penting dikemukakan terkait jadwal atau lebih tepat kebiasaan tidurnya, adalah, dia dapat melakukan aktifitas yang disukainya sebelum tidur dengan lebih leluasa tanpa harus repot menjawab pertanyaan yang mungkin timbul. Berlatih lebih fokus dengan hanya mengalami sedikit gangguan, sebelum beristirahat dengan tenang.
Seperti malam ini, dengan wajah sumringah sesekali meringis karena perilaku nyamuk, dia menghangatkan kembali sayur asam yang dimasak oleh istrinya tadi siang. Menurutnya hal ini mesti dilakukan karena ia melihat masih ada dua potong jagung manis dan beberapa iris sayur lainnya yang terendam kedinginan dan tentu saja harus diselamatkan sebelum terlanjur membusuk dan berakhir di tempat sampah.
Upaya penyelamatan yang dilakukannya dengan cara mengunyah, mencecap rasa manis, asam, asin yang menyatu dengan kuah rempah dan kemudian menelannya ini, semata-mata bukan karena rasa lapar. Namun lebih kepada tanggung jawab yang diemban. Baginya merupakan upaya menuntaskan beban cita-cita dari semua bahan makanan yang telah diolah menjadi sajian, Mesti habis dimakan sebelum mukim di lambung lalu menjadi kotoran yang harus dibuang di jamban.
Begitulah pada akhirnya sesendok kuah hangat mendorong butir jagung terakhir dengan riang memasuki kerongkongan---gerbang rasa syukur bagi dirinya dan pintu faedah untuk semangkok sayur.
2017
Dia terbiasa tidur saat hari sudah larut malam setidaknya setelah semua penghuni rumah selain dirinya telah terlelap. Bahkan akhir-akhir ini sering kali di atas jam dua, bisa dibilang menembus dini hari.
Dan alasan yang menurutnya cukup penting dikemukakan terkait jadwal atau lebih tepat kebiasaan tidurnya, adalah, dia dapat melakukan aktifitas yang disukainya sebelum tidur dengan lebih leluasa tanpa harus repot menjawab pertanyaan yang mungkin timbul. Berlatih lebih fokus dengan hanya mengalami sedikit gangguan, sebelum beristirahat dengan tenang.
Seperti malam ini, dengan wajah sumringah sesekali meringis karena perilaku nyamuk, dia menghangatkan kembali sayur asam yang dimasak oleh istrinya tadi siang. Menurutnya hal ini mesti dilakukan karena ia melihat masih ada dua potong jagung manis dan beberapa iris sayur lainnya yang terendam kedinginan dan tentu saja harus diselamatkan sebelum terlanjur membusuk dan berakhir di tempat sampah.
Upaya penyelamatan yang dilakukannya dengan cara mengunyah, mencecap rasa manis, asam, asin yang menyatu dengan kuah rempah dan kemudian menelannya ini, semata-mata bukan karena rasa lapar. Namun lebih kepada tanggung jawab yang diemban. Baginya merupakan upaya menuntaskan beban cita-cita dari semua bahan makanan yang telah diolah menjadi sajian, Mesti habis dimakan sebelum mukim di lambung lalu menjadi kotoran yang harus dibuang di jamban.
Begitulah pada akhirnya sesendok kuah hangat mendorong butir jagung terakhir dengan riang memasuki kerongkongan---gerbang rasa syukur bagi dirinya dan pintu faedah untuk semangkok sayur.
2017
Label:
prosa
Minggu, 01 Oktober 2017
BINTANG DAN YANG BUKAN
BINTANG DAN YANG BUKAN
suatu malam
langit dipenuhi kerlip bintang
seperti lampu-lampu kota besar
yang terlihat dari puncak bukit
dari rumit ketenangan
di malam yang lain
hanya tampak sebuah bintang
pada luas langit yang bersih---
berpijar sendirian di kegelapan
---tak peduli pada sunyi
pun semalam
ia muncul sebentar di mataku
sebelum dihapus hujan---
musim tak pernah pandang bulu
meski memiliki cahaya sendiri
ia tak kuasa menghadapi cuaca
sebagaimana api kecil lilin
terhadap angin---satu rasa ingin
---kadang bikin penasaran
dari panggung-panggung lain
beberapa aktor dan penyanyi
memainkan komedi dan tragedi
di bawah lampu-lampu temaram
pecah setiap malam
tak merasa jengah atau bosan
mereka tidak ingin melihat langit
tidak pernah tahu gelap terang
bertebaran
2017
suatu malam
langit dipenuhi kerlip bintang
seperti lampu-lampu kota besar
yang terlihat dari puncak bukit
dari rumit ketenangan
di malam yang lain
hanya tampak sebuah bintang
pada luas langit yang bersih---
berpijar sendirian di kegelapan
---tak peduli pada sunyi
pun semalam
ia muncul sebentar di mataku
sebelum dihapus hujan---
musim tak pernah pandang bulu
meski memiliki cahaya sendiri
ia tak kuasa menghadapi cuaca
sebagaimana api kecil lilin
terhadap angin---satu rasa ingin
---kadang bikin penasaran
dari panggung-panggung lain
beberapa aktor dan penyanyi
memainkan komedi dan tragedi
di bawah lampu-lampu temaram
pecah setiap malam
tak merasa jengah atau bosan
mereka tidak ingin melihat langit
tidak pernah tahu gelap terang
bertebaran
2017
Label:
sajak
Rabu, 27 September 2017
TANPA SUARA
TANPA SUARA
kami tak cuma tubuh,
menjadi tua bukan sebab usia
baik, baiklah paduka,
hingga diputihkannya rambut,
yang tiap helainya seribu kali sebut
tak pernah cukup.
namamu---keheningan yang bising---
yang kami usung tiap kali kepala pusing
agar kami lekas lelah, pasrah
pada satu kata.
diam.
2011 - 2017
kami tak cuma tubuh,
menjadi tua bukan sebab usia
baik, baiklah paduka,
hingga diputihkannya rambut,
yang tiap helainya seribu kali sebut
tak pernah cukup.
namamu---keheningan yang bising---
yang kami usung tiap kali kepala pusing
agar kami lekas lelah, pasrah
pada satu kata.
diam.
2011 - 2017
Label:
sajak
Kamis, 14 September 2017
SUDAH PENUH
SUDAH PENUH
buanglah kotoran jika sudah penuh
memang harus ada tempat pembuangan.
di sini saja sayang---tidak apa-apa---
mulutku masih dapat kubuka lebih lebar.
sunya menjelang subuh
aku menerima kabar melegakan darimu,
kaubilang bahwa aku telah mati.
segera kumasukkan kepala dan seluruh tubuh
jauh ke dalam tanah, pada luas kesabaran.
namun, mesti digali dulu sebuah lubang,
di halaman belakang, ya halaman belakang,
dekat tempat pengimaman.
2013 - 2017
buanglah kotoran jika sudah penuh
memang harus ada tempat pembuangan.
di sini saja sayang---tidak apa-apa---
mulutku masih dapat kubuka lebih lebar.
sunya menjelang subuh
aku menerima kabar melegakan darimu,
kaubilang bahwa aku telah mati.
segera kumasukkan kepala dan seluruh tubuh
jauh ke dalam tanah, pada luas kesabaran.
namun, mesti digali dulu sebuah lubang,
di halaman belakang, ya halaman belakang,
dekat tempat pengimaman.
2013 - 2017
Label:
sajak
Sabtu, 09 September 2017
BINGUNG
BINGUNG
Sebotol smirnoff dan segelas bir bisa saja kehilangan daya sihir ketika apa yang hadir seolah-olah tumbuh seperti rumput liar dari kedalaman hati. Kita bisa sebut sekian kenyataan lalu kita tuliskan seperti daftar belanja sebuah keluarga kaya yang akan mempersiapkan pesta pernikahan anak perempuannya. Tak cukup satu halaman folio untuk memenuhi sekian keinginan yang telah dipertuan oleh kebodohan dan keterbatasan yang sejak mula memang telah melekat itu.
Lalu kenyataan sering kali bisa begitu unik seperti tatkala kita menyerahkan keterbatasan diri untuk dibelaskasihani udara atau disumpahserapahi pagi. Sebut saja, cemas yang arogan, sedih yang teduh, ragu yang malas-malasan atau riang yang riuh. Datang dan pergi silih berganti. Sekian dari banyak hal yang kemudian dirindukan itu, secara diam-diam telah melakukan proses pembunuhan dengan perlahan. Amat perlahan, berbulan, bertahun. Mengikis sedikit demi sedikit rasa percaya diri. Hingga untuk membedakan mana nafas mana detak nadi, kita lebih percaya kepada komputer dan kitab suci. Begitu mesra, menggiriskan tapi.
Pada akhirnya menjadi robot atau hewan merupakan pilihan yang sangat menggoda, seperti gemeretak otot sang pejantan, kerling para betina di kala bulan purnama atau kerlip lampu warna-warni. Sukar melepaskan diri ketika libido rasa ingin tahu mencapai puncaknya. Pertemuan nafsu, birahi dan prasangka yang asal-asalan---makin mencengkeram, kian mengakar, menembus sampai ke dasar. Selanjutnya seseorang bisa saja memilih memenggal kepalanya sendiri dari pada meneruskan perbincangan.
Yang menyedihkan sebenarnya bukan terletak pada riang gembiranya sebuah perdebatan. Bahkan, benturan antara apa yang telah dipahami dengan kenyataan yang melahirkan jalan buntu pun belum menjadi sesuatu yang paling menakutkan. Apa yang bisa dibayangkan, saat keputusan yang diambil lalu ditindaklanjuti secara nyata tersebut, hanya dilandasi oleh ragu bimbang yang berlarut-larut, selain mendapati diri berada dalam lorong panjang pada labirin gelap.
Mau apa lagi? Baca mantra? Matek aji? Ngimpi.
09.09.2012
Label:
prosa pendek
Kamis, 07 September 2017
SAMPAI JUMPA
SAMPAI JUMPA
inilah laku, meski otot-otot menjadi kaku
tetap berlatih untuk sesuatu yang akan
menjadi bagian dari masa lalu, dilupakan,
seiring pergerakan matahari rembulan.
engkau yang melintas ke utara, sudah
sampaikah di selatan, sudahkah berada
di belakang lelaki tua yang dulu pernah
menyemburkan ludah, lalu kaubantah?
dia yang mengalami, tak ke mana-mana,
hanya membalas lambaian tanganmu,
sesaat sebelum engkau mulai perjalanan.
pada garis bujur---lintang demi lintang.
selamat tinggal---kata-kata terakhirmu---
dibalasnya dengan senyum tanpa duka.
2014 - 2017
inilah laku, meski otot-otot menjadi kaku
tetap berlatih untuk sesuatu yang akan
menjadi bagian dari masa lalu, dilupakan,
seiring pergerakan matahari rembulan.
engkau yang melintas ke utara, sudah
sampaikah di selatan, sudahkah berada
di belakang lelaki tua yang dulu pernah
menyemburkan ludah, lalu kaubantah?
dia yang mengalami, tak ke mana-mana,
hanya membalas lambaian tanganmu,
sesaat sebelum engkau mulai perjalanan.
pada garis bujur---lintang demi lintang.
selamat tinggal---kata-kata terakhirmu---
dibalasnya dengan senyum tanpa duka.
2014 - 2017
Label:
sajak
BUKAN KHAWATIR
BUKAN KHAWATIR
dijemur sehari semalam,
di bawah atap, di samping rumah,
beberapa lembar kain putih melambai-lambai,
seolah ajakan untuk lekas-lekas sampai.
angin mengeringkannya,
tapi tidak berarti mempercepat keberangkatan,
barat hanya berada di sebelah kanan,
ketika menghadap ke selatan.
memandang jauh ke dalam, kepada ketinggian
pada gunung-gunung yang terlihat samar,
dari sini, dari tempat aku berdiri---
pantai utara yang rawan.
ini bukan berpaling ke belakang, bukan karena
mercusuarnya lebih rendah dari pencakar langit,
meski di depan hamparan laut begitu maut
---bekal telah terlipat, aman tersimpan.
akan dipakai pada saat yang tepat,
setelah badan lunglai, diayun-ayun mimpi
---ombak yang membuatmu miris di garis batas,
garis tipis yang nyaris terabaikan.
saat aku menukar prasangka dengan kenyataan,
kaulah yang bertanya, "ke mana saja?"
siapa bilang mengapung, aku bukanlah kayu---
aku tidak ke mana-mana, tanah adalah tempatku.
rindu tanpa rasa khawatir.
2013 - 2017
Label:
sajak
Jumat, 01 September 2017
MELAMPAUI SUWUNG
MELAMPAUI SUWUNG
biasanya diawali ketika dada terasa growong
---hampa merambat pelan lalu hampir seluruh
indra tidak lagi berfungsi---tanda, isyarat pun
tak sampai, tak ada cemas, tanpa kesadaran.
lebih, dari sekadar tanpa semangat---hanya
semenit dua, tapi nyaris segala yang tadinya
pernah ada tiba-tiba lenyap.
lupa perihal hidup dan mati---masihkah ingin
tahu tentang air mata yang tak kunjung jatuh,
betapa pun, bumi telah melambaikan tangan,
dan ia sudah bosan bergelantungan.
bukan perkara kau telah bilang, 'lupakan saja'
lalu dianggap mengakhiri sekian persoalan,
yang dibangun dari rasa bosan.
justru karena itu, kita akan sanggup bertahan
---apa perlunya takut kepada badut-badut.
sementara kita tidak yakin bahwa kita adalah
bayi manusia yang belum memiliki rasa ingin,
sebagaimana semilir angin.
2014 - 2017
biasanya diawali ketika dada terasa growong
---hampa merambat pelan lalu hampir seluruh
indra tidak lagi berfungsi---tanda, isyarat pun
tak sampai, tak ada cemas, tanpa kesadaran.
lebih, dari sekadar tanpa semangat---hanya
semenit dua, tapi nyaris segala yang tadinya
pernah ada tiba-tiba lenyap.
lupa perihal hidup dan mati---masihkah ingin
tahu tentang air mata yang tak kunjung jatuh,
betapa pun, bumi telah melambaikan tangan,
dan ia sudah bosan bergelantungan.
bukan perkara kau telah bilang, 'lupakan saja'
lalu dianggap mengakhiri sekian persoalan,
yang dibangun dari rasa bosan.
justru karena itu, kita akan sanggup bertahan
---apa perlunya takut kepada badut-badut.
sementara kita tidak yakin bahwa kita adalah
bayi manusia yang belum memiliki rasa ingin,
sebagaimana semilir angin.
2014 - 2017
Label:
sajak
Langganan:
Postingan (Atom)