TAK ADA MASA DEPAN
yang nyata adalah saat ini
dan melangkah hanya sebuah pilihan
melanjutkan apa yang telah diawali nenek moyang
terus bergerak, beranak pinak, menimang cucu
sebelum duduk sendirian di teras depan
sebagaimana kebanyakan orang
aku bisa mendadak merasa kesepian
merapatkan telinga ke dinding, lalu ke lantai
waspada terhadap segala bunyi yang paling pelan
sebelum kemudian menyanyi tidak karuan
ayo putar ulang kasetnya
kembali ke side a, ke lagu pertama
mari berdendang bersama biduan pujaan
seolah di hadapan penonton yang tepuk tangan
inilah bahagia, dari jenis sesaat yang menyesatkan
tapi biasanya cenderung melegakan
putar lagi, biarkan menyala
putar ulang sekali lagi, hingga muntah-muntah
hingga akhirnya padam dengan sendirinya
yang mengendap-endap, yang datang tiba-tiba
yang bertiup sungsang, yang mengalir tanpa suara
mana yang masa depan
selain peristiwa-peristiwa yang didaur ulang
masa depan hanya kumpulan ramalan dan prediksi
ia terbukti, ketika menjadi masa kini
2012 - 2018
Jumat, 06 April 2018
Minggu, 18 Maret 2018
MEMOTRET
MEMOTRET
sejarak kurang lebih semeter
di samping kiriku, sepotong kayu
masih bertahan menyala di tungku
di halaman depan rumah
aku berbaring menghadap ke atas
kemudian bergegas
memotret langit, sebuah bintang
dan beberapa pucuk daun, dengan
bingkai gelap menjelang subuh
sebelum keduluan anjing tetangga
menggonggongi tukang sampah
lalu langit menghijau di ufuk timur
dan semua tampak kacau, selepas
mendengkur sepanjang tidur, usai
mimpi perihal sumur
2018
sejarak kurang lebih semeter
di samping kiriku, sepotong kayu
masih bertahan menyala di tungku
di halaman depan rumah
aku berbaring menghadap ke atas
kemudian bergegas
memotret langit, sebuah bintang
dan beberapa pucuk daun, dengan
bingkai gelap menjelang subuh
sebelum keduluan anjing tetangga
menggonggongi tukang sampah
lalu langit menghijau di ufuk timur
dan semua tampak kacau, selepas
mendengkur sepanjang tidur, usai
mimpi perihal sumur
2018
Label:
sajak
Senin, 12 Maret 2018
DULU, ADA YANG PECAH
DULU, ADA YANG PECAH
Boleh dibilang, lelaki itu nyaris tidak pernah
memperlihatkan jari telunjuk tangan kirinya,
tapi kali ini, sambil menjepit sebatang rokok
yang menyala, dia berkata, "Inilah wajahku".
Ujung telunjuk kirinya tepat di depan hidung.
Bekas luka tampak samar, di ruas pertama,
di dekat kuku, dan cermin itu baik-baik saja.
"Mana wajahmu?" dia bertanya. Kepala dan
seluruh tubuhnya memang palu, tapi terlalu
tumpul untuk benda yang terbuat dari kaca.
Tak ada yang tersayat atau terbelah. Dan ya
cermin itu pun tetap utuh dan baik-baik saja.
Dia mengisap rokoknya, mengembuskan ke
cermin. Sesaat, semua tampak buram, tapi
lekas kembali seperti semula, wajahnya pun
baik-baik saja. Tidak ada yang harus pecah.
2018
Boleh dibilang, lelaki itu nyaris tidak pernah
memperlihatkan jari telunjuk tangan kirinya,
tapi kali ini, sambil menjepit sebatang rokok
yang menyala, dia berkata, "Inilah wajahku".
Ujung telunjuk kirinya tepat di depan hidung.
Bekas luka tampak samar, di ruas pertama,
di dekat kuku, dan cermin itu baik-baik saja.
"Mana wajahmu?" dia bertanya. Kepala dan
seluruh tubuhnya memang palu, tapi terlalu
tumpul untuk benda yang terbuat dari kaca.
Tak ada yang tersayat atau terbelah. Dan ya
cermin itu pun tetap utuh dan baik-baik saja.
Dia mengisap rokoknya, mengembuskan ke
cermin. Sesaat, semua tampak buram, tapi
lekas kembali seperti semula, wajahnya pun
baik-baik saja. Tidak ada yang harus pecah.
2018
Label:
prosa pendek
Selasa, 20 Februari 2018
MUSIM BERGANTI?
MUSIM BERGANTI?
hujan derasnya sudah berhenti
tapi, masih terdengar suara air menetes
mata siapa lalu, yang masih terperas
musim kemarau jadi terasa lampau
selain ladang garam yang luas
hampir semua orang merindukannya
pabrik tisu dan penjual es krim
keduanya ingin disebut yang paling cemas
tidak satu pun sibuk berkemas-kemas
lupa berterima kasih.
2015 - 2018
hujan derasnya sudah berhenti
tapi, masih terdengar suara air menetes
mata siapa lalu, yang masih terperas
musim kemarau jadi terasa lampau
selain ladang garam yang luas
hampir semua orang merindukannya
pabrik tisu dan penjual es krim
keduanya ingin disebut yang paling cemas
tidak satu pun sibuk berkemas-kemas
lupa berterima kasih.
2015 - 2018
Label:
sajak
Rabu, 07 Februari 2018
PONANG JABANG
PONANG JABANG
nempel di tisu
netes ke batu
kering di tanah
larung ke laut
dia tidak dilahirkan
tapi tetap tumbuh
tanpa mata
tanpa telinga
tanpa hidung
tanpa mulut
dia tidak dilahirkan
namun tetap hidup
tanpa kaki
tanpa tangan
tanpa jantung
tanpa badan
tanpa air susu ibu
dia merindukanmu
2018
nempel di tisu
netes ke batu
kering di tanah
larung ke laut
dia tidak dilahirkan
tapi tetap tumbuh
tanpa mata
tanpa telinga
tanpa hidung
tanpa mulut
dia tidak dilahirkan
namun tetap hidup
tanpa kaki
tanpa tangan
tanpa jantung
tanpa badan
tanpa air susu ibu
dia merindukanmu
2018
Label:
sajak
Kamis, 11 Januari 2018
SEBUAH CIUMAN, TERLUPAKAN
SEBUAH CIUMAN, TERLUPAKAN
kau tak sedang meminta air mata, bukan
karena hanya asap dupa yang masih kupunya
membubung dari tungku perapian, selepas hujan
barangkali bisa untuk memanggil laron-laron
dari kamar sebelah yang diterangi lampu neon
sudah terlalu lama
kita membiarkan atap kamar bocor---
setumpuk buku dan sekian baju dan masa lalu
dan lelah dan semua upaya untuk melupakannya
menjadi kuning dan basah
juga kasur,
yang menjanjikan tubuh begitu betah
meski rebah hanyalah jeda seperti halnya singgah
pada dua tiga tanggal dalam hitungan minggu
yang sepenuhnya merah
tanpa genggaman atau pun sentuhan
pertemuan kali ini, lebih pada saling memandang
---mestinya menjadi bekal---jika suatu saat nanti
kerinduan kembali mengeras di kedalaman
sementara, waktu mulai mencabuti uban di kepala
sampai masa itu
kenyataan memang butuh terus dikucuri keringat---
agar lebih mudah dihafal dan diingat---setelah usai
dengan tubuh dan wajah, baru kemudian lidah
2012 - 2018
kau tak sedang meminta air mata, bukan
karena hanya asap dupa yang masih kupunya
membubung dari tungku perapian, selepas hujan
barangkali bisa untuk memanggil laron-laron
dari kamar sebelah yang diterangi lampu neon
sudah terlalu lama
kita membiarkan atap kamar bocor---
setumpuk buku dan sekian baju dan masa lalu
dan lelah dan semua upaya untuk melupakannya
menjadi kuning dan basah
juga kasur,
yang menjanjikan tubuh begitu betah
meski rebah hanyalah jeda seperti halnya singgah
pada dua tiga tanggal dalam hitungan minggu
yang sepenuhnya merah
tanpa genggaman atau pun sentuhan
pertemuan kali ini, lebih pada saling memandang
---mestinya menjadi bekal---jika suatu saat nanti
kerinduan kembali mengeras di kedalaman
sementara, waktu mulai mencabuti uban di kepala
sampai masa itu
kenyataan memang butuh terus dikucuri keringat---
agar lebih mudah dihafal dan diingat---setelah usai
dengan tubuh dan wajah, baru kemudian lidah
2012 - 2018
Label:
sajak
Kamis, 14 Desember 2017
BROWNIES SELAMAT
BROWNIES SELAMAT
dua potong kue brownies
menemani secangkir kopi
sepotong yang besar
menghadap ke lampu neon
di belakangnya,
potongan yang lebih kecil
tampak lebih gelap
kemarin mereka di beranda
tanpa penjelasan apa-apa
entah punya siapa
kini, di batas kadaluwarsa
brownies ditemani kopi
berada di dalam lambungku
penyelamatan,
walaupun sangat riskan
tetap menjadi pilihan utama
2017
dua potong kue brownies
menemani secangkir kopi
sepotong yang besar
menghadap ke lampu neon
di belakangnya,
potongan yang lebih kecil
tampak lebih gelap
kemarin mereka di beranda
tanpa penjelasan apa-apa
entah punya siapa
kini, di batas kadaluwarsa
brownies ditemani kopi
berada di dalam lambungku
penyelamatan,
walaupun sangat riskan
tetap menjadi pilihan utama
2017
Label:
sajak
Jumat, 01 Desember 2017
RAMBUTNYA PUTIH DAN PANJANG
RAMBUTNYA PUTIH DAN PANJANG
meskipun kalian memenggal kepala cucunya
jangan bermimpi mampu membuatnya menangis
air matanya telah lama tiris, dikuras duka
sejak satu sumpah diakhiri dengan jeritan panjang
seiring udara memasuki paru-paru---nafas pertama
---menandai tegur sapa dunia atas kelahirannya
betapapun saat itu setiap linangnya adalah mutiara
kemewahan langka yang dijanjikan kepada mereka
yang menemukan alamat pulang
"dunia sudah tua", kata-katanya jauh dari hasut
tanpa bujuk rayu yang mengingatkan tentang maut
di hadapannya kini, orang-orang berjejal dalam antrian
kaukah itu, meski telah lama berdiri di sampingnya
rela untuk direngkuh pada giliran terakhir
2017
meskipun kalian memenggal kepala cucunya
jangan bermimpi mampu membuatnya menangis
air matanya telah lama tiris, dikuras duka
sejak satu sumpah diakhiri dengan jeritan panjang
seiring udara memasuki paru-paru---nafas pertama
---menandai tegur sapa dunia atas kelahirannya
betapapun saat itu setiap linangnya adalah mutiara
kemewahan langka yang dijanjikan kepada mereka
yang menemukan alamat pulang
"dunia sudah tua", kata-katanya jauh dari hasut
tanpa bujuk rayu yang mengingatkan tentang maut
di hadapannya kini, orang-orang berjejal dalam antrian
kaukah itu, meski telah lama berdiri di sampingnya
rela untuk direngkuh pada giliran terakhir
2017
Label:
sajak
Rabu, 22 November 2017
BLUES BERANDA
BLUES BERANDA
di tiang beranda, seutas kawat terentang
ujung-ujung jari---telunjuk dan ibu jari dengan
kuku hitam---mulai menggetarkannya.
tidak ada senar. ia bukan mainan, juga bukan
musik untuk mengiringi orang menyanyi.
ia bukan omong kosong.
"di sini, tidak ada tangga nada", katamu sengit,
"ia hanya penanda perut lapar, penat lelah,
rasa kantuk dan segala kecemasan lainnya".
bukan suara merdu---riang dalam keremangan
yang sumbang---namun mantra kehidupan
yang melulu terdengar biru.
2017
di tiang beranda, seutas kawat terentang
ujung-ujung jari---telunjuk dan ibu jari dengan
kuku hitam---mulai menggetarkannya.
tidak ada senar. ia bukan mainan, juga bukan
musik untuk mengiringi orang menyanyi.
ia bukan omong kosong.
"di sini, tidak ada tangga nada", katamu sengit,
"ia hanya penanda perut lapar, penat lelah,
rasa kantuk dan segala kecemasan lainnya".
bukan suara merdu---riang dalam keremangan
yang sumbang---namun mantra kehidupan
yang melulu terdengar biru.
2017
Label:
sajak
Minggu, 12 November 2017
SARAPAN MINGGU PAGI
SARAPAN MINGGU PAGI
Saat ini kegiatan sarapan saya sedang memasuki fase yang membahagiakan. Bagi para penggemar krupuk mlempem hal ini tentu saja menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu di minggu pagi, di mana sekumpulan krupuk terendam dalam kuah bubur sehingga teksturnya menjadi lembut. Bersama telur rebus yang warnanya telah kecoklatan satu sendok untuk sesuap bubur nyaris tanpa perlawanan terhadap gigi dan lidah. Demikianlah.
2017
Label:
prosa pendek
Rabu, 25 Oktober 2017
SAAT JATUH TEMPO
SAAT JATUH TEMPO
baru saja kaucium putingku,
ketika tiba-tiba telepon berdering---
pesan, suara dalam telepon menyebut;
kode, angka dan nama tempat.
pulsa listrik, angsuran motor, toko online,
KTP, regristrasi dan laporan-laporan---
cincin kawin masih betah di pegadaian.
---ini bukan perkara kesedihan.
baiklah, memang urusan dunia---
kita akan menukarkan nota bensin,
pengiriman barangnya boleh hari minggu,
tapi campingnya tetap pada hari senin.
---ya, bak mandi belum terisi penuh.
beberapa rencana bisa ditunda,
yang bukan rencana pun bisa dilanjutkan,
---jika harus mandi dulu---itu cuma jeda
hingga rambutmu kering tentunya.
"suara musiknya bisa dikecilkan sayang?"
tak ada jawaban---aku tahu mulutnya sibuk---
tapi tangannya meraih remote kontrol.
2017
baru saja kaucium putingku,
ketika tiba-tiba telepon berdering---
pesan, suara dalam telepon menyebut;
kode, angka dan nama tempat.
pulsa listrik, angsuran motor, toko online,
KTP, regristrasi dan laporan-laporan---
cincin kawin masih betah di pegadaian.
---ini bukan perkara kesedihan.
baiklah, memang urusan dunia---
kita akan menukarkan nota bensin,
pengiriman barangnya boleh hari minggu,
tapi campingnya tetap pada hari senin.
---ya, bak mandi belum terisi penuh.
beberapa rencana bisa ditunda,
yang bukan rencana pun bisa dilanjutkan,
---jika harus mandi dulu---itu cuma jeda
hingga rambutmu kering tentunya.
"suara musiknya bisa dikecilkan sayang?"
tak ada jawaban---aku tahu mulutnya sibuk---
tapi tangannya meraih remote kontrol.
2017
Label:
sajak
Minggu, 15 Oktober 2017
Kamis, 12 Oktober 2017
LELAKI BASAH, PEREMPUAN GARAM
LELAKI BASAH, PEREMPUAN GARAM
Sayup-sayup suara perempuan yang matanya telah kering mengusik telinga. Lelaki dengan kesedihan selekas kebahagiaan yang cuma hadir sekejap, menghentikan langkah. Ia mengamati ujung kakinya yang kotor. Ia teringat banyak hal yang membuatnya menempuh jarak ribuan kilometer. Lalu wajahnya setengah berpaling. Seperti ada yang menepuk pundaknya. Mengusap tengkuk hingga membuatnya menggigil. Suara itu mencair, keluar dari telinga. Dari sekian kehangatan yang pernah hadir, barangkali desah itulah yang memaksa matanya berkaca-kaca.
Tapi ia benar-benar tak tahu perasaannya, sedih ataukah bahagia. Yang jelas mengalir semakin deras ke seluruh tubuh. Ada yang perlahan membelai dada. Ada yang meluncur melintasi punggung. Ada yang telah sampai di perut. Sebagian di antaranya memilih mukim di pusar, melingkar-lingkar. Setelah puas dengan rambut, perlahan mulai mengetuk mata. Pecahlah kaca-kaca. Leleh larut. Memasuki mulut. Mencuci gigi, membasuh lidah lalu melewati kerongkongan sebelum memenuhi setiap organ bagian dalam. Terus mengalir, meluap, hingga semua terlewat. Terlampaui.
Lelaki itu kian kuyub, seolah seluruh cairan tubuhnya turut mengalir keluar melalui tiap lubang pori-pori. Bisa dibilang hari masih sore, masih jauh dari puncak malam. Pintu dan jendela masih terbuka, tapi tak ada lagi suara yang bisa dikeluarkan. Ia hanya bisa menanti dan menanti. Lelaki itu masih mendengar suara dari geletar lidah kelu, lidah yang kering itu. Lidah perempuan yang suaranya mencair di telinga.
"Aku ingin bercinta", kata perempuan itu, "Hingga aku tertidur nanti teruslah bicara".
Lepas tengah malam, dari kejauhan, keduanya hanya bisa memandang bayang-bayang mereka sedang berpelukan, berciuman. Tak peduli cahaya yang menimpa, lelaki itu bicara sendiri dalam diam. Tubuhnya geming memenuhi keinginan kekasihnya. Meneruskan persetubuhan. Hingga batas umur, sebelum lalu tersungkur.
2012 - 2017
Sayup-sayup suara perempuan yang matanya telah kering mengusik telinga. Lelaki dengan kesedihan selekas kebahagiaan yang cuma hadir sekejap, menghentikan langkah. Ia mengamati ujung kakinya yang kotor. Ia teringat banyak hal yang membuatnya menempuh jarak ribuan kilometer. Lalu wajahnya setengah berpaling. Seperti ada yang menepuk pundaknya. Mengusap tengkuk hingga membuatnya menggigil. Suara itu mencair, keluar dari telinga. Dari sekian kehangatan yang pernah hadir, barangkali desah itulah yang memaksa matanya berkaca-kaca.
Tapi ia benar-benar tak tahu perasaannya, sedih ataukah bahagia. Yang jelas mengalir semakin deras ke seluruh tubuh. Ada yang perlahan membelai dada. Ada yang meluncur melintasi punggung. Ada yang telah sampai di perut. Sebagian di antaranya memilih mukim di pusar, melingkar-lingkar. Setelah puas dengan rambut, perlahan mulai mengetuk mata. Pecahlah kaca-kaca. Leleh larut. Memasuki mulut. Mencuci gigi, membasuh lidah lalu melewati kerongkongan sebelum memenuhi setiap organ bagian dalam. Terus mengalir, meluap, hingga semua terlewat. Terlampaui.
Lelaki itu kian kuyub, seolah seluruh cairan tubuhnya turut mengalir keluar melalui tiap lubang pori-pori. Bisa dibilang hari masih sore, masih jauh dari puncak malam. Pintu dan jendela masih terbuka, tapi tak ada lagi suara yang bisa dikeluarkan. Ia hanya bisa menanti dan menanti. Lelaki itu masih mendengar suara dari geletar lidah kelu, lidah yang kering itu. Lidah perempuan yang suaranya mencair di telinga.
"Aku ingin bercinta", kata perempuan itu, "Hingga aku tertidur nanti teruslah bicara".
Lepas tengah malam, dari kejauhan, keduanya hanya bisa memandang bayang-bayang mereka sedang berpelukan, berciuman. Tak peduli cahaya yang menimpa, lelaki itu bicara sendiri dalam diam. Tubuhnya geming memenuhi keinginan kekasihnya. Meneruskan persetubuhan. Hingga batas umur, sebelum lalu tersungkur.
2012 - 2017
Label:
prosa
Rabu, 04 Oktober 2017
PENYELAMATAN
PENYELAMATAN
Dia terbiasa tidur saat hari sudah larut malam setidaknya setelah semua penghuni rumah selain dirinya telah terlelap. Bahkan akhir-akhir ini sering kali di atas jam dua, bisa dibilang menembus dini hari.
Dan alasan yang menurutnya cukup penting dikemukakan terkait jadwal atau lebih tepat kebiasaan tidurnya, adalah, dia dapat melakukan aktifitas yang disukainya sebelum tidur dengan lebih leluasa tanpa harus repot menjawab pertanyaan yang mungkin timbul. Berlatih lebih fokus dengan hanya mengalami sedikit gangguan, sebelum beristirahat dengan tenang.
Seperti malam ini, dengan wajah sumringah sesekali meringis karena perilaku nyamuk, dia menghangatkan kembali sayur asam yang dimasak oleh istrinya tadi siang. Menurutnya hal ini mesti dilakukan karena ia melihat masih ada dua potong jagung manis dan beberapa iris sayur lainnya yang terendam kedinginan dan tentu saja harus diselamatkan sebelum terlanjur membusuk dan berakhir di tempat sampah.
Upaya penyelamatan yang dilakukannya dengan cara mengunyah, mencecap rasa manis, asam, asin yang menyatu dengan kuah rempah dan kemudian menelannya ini, semata-mata bukan karena rasa lapar. Namun lebih kepada tanggung jawab yang diemban. Baginya merupakan upaya menuntaskan beban cita-cita dari semua bahan makanan yang telah diolah menjadi sajian, Mesti habis dimakan sebelum mukim di lambung lalu menjadi kotoran yang harus dibuang di jamban.
Begitulah pada akhirnya sesendok kuah hangat mendorong butir jagung terakhir dengan riang memasuki kerongkongan---gerbang rasa syukur bagi dirinya dan pintu faedah untuk semangkok sayur.
2017
Dia terbiasa tidur saat hari sudah larut malam setidaknya setelah semua penghuni rumah selain dirinya telah terlelap. Bahkan akhir-akhir ini sering kali di atas jam dua, bisa dibilang menembus dini hari.
Dan alasan yang menurutnya cukup penting dikemukakan terkait jadwal atau lebih tepat kebiasaan tidurnya, adalah, dia dapat melakukan aktifitas yang disukainya sebelum tidur dengan lebih leluasa tanpa harus repot menjawab pertanyaan yang mungkin timbul. Berlatih lebih fokus dengan hanya mengalami sedikit gangguan, sebelum beristirahat dengan tenang.
Seperti malam ini, dengan wajah sumringah sesekali meringis karena perilaku nyamuk, dia menghangatkan kembali sayur asam yang dimasak oleh istrinya tadi siang. Menurutnya hal ini mesti dilakukan karena ia melihat masih ada dua potong jagung manis dan beberapa iris sayur lainnya yang terendam kedinginan dan tentu saja harus diselamatkan sebelum terlanjur membusuk dan berakhir di tempat sampah.
Upaya penyelamatan yang dilakukannya dengan cara mengunyah, mencecap rasa manis, asam, asin yang menyatu dengan kuah rempah dan kemudian menelannya ini, semata-mata bukan karena rasa lapar. Namun lebih kepada tanggung jawab yang diemban. Baginya merupakan upaya menuntaskan beban cita-cita dari semua bahan makanan yang telah diolah menjadi sajian, Mesti habis dimakan sebelum mukim di lambung lalu menjadi kotoran yang harus dibuang di jamban.
Begitulah pada akhirnya sesendok kuah hangat mendorong butir jagung terakhir dengan riang memasuki kerongkongan---gerbang rasa syukur bagi dirinya dan pintu faedah untuk semangkok sayur.
2017
Label:
prosa
Minggu, 01 Oktober 2017
BINTANG DAN YANG BUKAN
BINTANG DAN YANG BUKAN
suatu malam
langit dipenuhi kerlip bintang
seperti lampu-lampu kota besar
yang terlihat dari puncak bukit
dari rumit ketenangan
di malam yang lain
hanya tampak sebuah bintang
pada luas langit yang bersih---
berpijar sendirian di kegelapan
---tak peduli pada sunyi
pun semalam
ia muncul sebentar di mataku
sebelum dihapus hujan---
musim tak pernah pandang bulu
meski memiliki cahaya sendiri
ia tak kuasa menghadapi cuaca
sebagaimana api kecil lilin
terhadap angin---satu rasa ingin
---kadang bikin penasaran
dari panggung-panggung lain
beberapa aktor dan penyanyi
memainkan komedi dan tragedi
di bawah lampu-lampu temaram
pecah setiap malam
tak merasa jengah atau bosan
mereka tidak ingin melihat langit
tidak pernah tahu gelap terang
bertebaran
2017
suatu malam
langit dipenuhi kerlip bintang
seperti lampu-lampu kota besar
yang terlihat dari puncak bukit
dari rumit ketenangan
di malam yang lain
hanya tampak sebuah bintang
pada luas langit yang bersih---
berpijar sendirian di kegelapan
---tak peduli pada sunyi
pun semalam
ia muncul sebentar di mataku
sebelum dihapus hujan---
musim tak pernah pandang bulu
meski memiliki cahaya sendiri
ia tak kuasa menghadapi cuaca
sebagaimana api kecil lilin
terhadap angin---satu rasa ingin
---kadang bikin penasaran
dari panggung-panggung lain
beberapa aktor dan penyanyi
memainkan komedi dan tragedi
di bawah lampu-lampu temaram
pecah setiap malam
tak merasa jengah atau bosan
mereka tidak ingin melihat langit
tidak pernah tahu gelap terang
bertebaran
2017
Label:
sajak
Langganan:
Postingan (Atom)