Selasa, 20 Januari 2015

LALU SUDAH

LALU SUDAH

jika bukan karena aku
kau pasti telah sampai di gerbang
kata perempuan itu kepada kekasihnya
tangan kanannya terus melambai
yang kiri menekan dada

lelaki bertabur garam
pandang matanya memicing tajam
satu tikam jalan darah melewati perbatasan
ia tak lagi punya waktu untuk segala
yang menetes pun mengalir

dan itu bukanlah ajakan
selamanya kematian selalu sendirian
seperti sunyi yang tak permah bisa diajarkan
hanya butuh saling bertukar ludah
lalu sudah


12.01.2015

Minggu, 15 Juni 2014

SURAT UNTUK, NING

SURAT  UNTUK,  NING


Ning,

Satu kata dari pertemuan terakhir kita, masih terngiang. Seperti mewakili ribuan lainnya yang pernah kudengar dari mulutmu. Membuat selera makanku lenyap, tidurku tak teratur. Hingga orang-orang terdekat, saudara dan sahabat satu persatu menjauh dariku. Mereka telah mengucilkanku. Aku tak menyalahkan mereka, bagaimana mungkin mereka sanggup bertahan bergaul denganku yang nyaris tak pernah keluar rumah. Aku keluar hanya untuk hal-hal yang penting saja, seperti mengantar pesanan patung, membeli kebutuhan hidup dan satu dua kepentingan semacamnya. Hari-hari selanjutnya kulalui dengan asyik bersama diriku sendiri. 

Aku tahu satu kata itu tak pernah kau tujukan kepadaku. Satu kata itu, tentu saja untuk bedebah biadab yang telah membuatmu ternoda, membuatmu merasa benar-benar tak berharga. Tapi bukankah kita tak pernah bermaksud menjual diri sendiri. Ya aku tahu, seperti saat itu, sekarang pun,  kau tak akan mau mendengar kata-kataku, seperti saat itu. Padahal sudah ratusan kali kukatakan, bagiku kau masih seorang gadis yang suci, tapi yah, kupikir kau terlalu kejam dengan dirimu sendiri, Ning. Dan kini, kau aku lebih memilih menyendiri tanpa gairah hidup. Aku masih ingat betul saat kau mengatakannya dengan sorot mata yang membuatku tak percaya bahwa itu memang matamu, bahwa itu memang perkataanmu. Dengan intonasi yang tandas dan dagumu mengeras. Jahanam. Begitu katamu, lalu kau ulang lebih dari tiga kali, sebelum kemudian kau memintaku pergi dengan alasan yang tak pernah kumengerti.


Seminggu yang lalu, sembilan bulan setelah kepergianku. Setelah menyerahkan pesanan patung kepada seorang kolega, aku mengunjungi psikiater yang masih teman sekolahku saat SMA dulu. Kau masih ingat bukan, temanku satu bangku, si kutu buku berkacamata tebal itu, kukira hanya dialah kini satu-satunya sahabat dan sekaligus anggap saja psikiaterku. Kepadanya, sebenarnya  lebih pas jika disebut mencurahkan isi hati ketimbang dianggap sebagai konsultasi atas kondisi kejiwaanku. Jika sudah bertemu, kami biasanya bisa ngobrol sampai subuh, tapi malam itu, aku tak lama di rumahnya, sekedar bertegur sapa dan sedikit perbincangan yang tak begitu penting. Kira-kira sepeminuman teh kemudian, aku pamit pulang. Saat itu sudah menjelang tengah malam, aku berjalan menuju ke sebuah halte bis yang tak terlalu jauh dari rumah sahabatku itu. Tadinya aku mau lekas-lekas pulang, tapi kuurungkan. 

Entahlah, malam itu tiba-tiba aku ingin menikmati udara malam dengan batang terkahir, rokok kretekku. Dan kupikir masih ada paling tidak dua tiga bis yang bakal lewat ke arah rumah. Malam yang cerah, meski tadi sempat segumpal awan menghalangi sinar rembulan. Aku benarbenar menikmati malam dan nyaris semua pernakperniknya. Hingga tak terasa sudah lewat tengah malam, sisa rokokpun sudah kubuang. Bahkan aku tak tahu perginya lelaki tua yang tadi minta api untuk menyalakan rokoknya. Dan yang jelas, aku telah melewatkan bis terakhir, menuju rumah. Apa boleh buat, kuputuskan untuk berjalan pulang. Jarak yang kurang lebih tujuh kilometer kupikir akan cukup membuatku lelah, dan membantuku untuk dapat lekas tidur sesampai di rumah. Begitulah Ning, aku lalu berjalan pulang. 


Belum lima ratus meter aku meninggalkan halte yang kosong itu, aku dikejutkan oleh suara perempuan. Meski tak mirip suaramu, tapi satu kata yang berulang keluar dari mulutnya di sela racauan yang tak karuan, mengingatkanku kepadamu, memaksaku menghentikan langkah, lalu berpaling. Seorang perempuan paruh baya tangannya teracungacung di belakangku, di seberang jalan. Dari jarak empat puluh meteran aku melihatnya, ia terus menyeret kaki-kakinya, makin dekat dan semakin dekat, hingga aku dapat lebih jelas melihat sosok tubuhnya, rambutnya yang riap-riapan, bajunya yang basah robek di sana-sini, perut buncitnya yang lima bulan, menyimpan puting beliung yang tengah dikandungnya. Terseokseok ia menyusuri jalan itu.

Isak tangis dan sumpah serapah tak henti berhamburan dari mulutnya. Sementara tangannya  bergerak pelan menyayat kulit tubuh dengan sebilah pisau dapur. Dari dada melewati leher sampai ke wajah yang terlihat menyimpan bertumpuk kepedihan yang tak bakal berani kau bayangkan. sayat demi sayat berulang di tingkah racauan dan ketika sampai pada satu kata yang membuatku bergidik, ia mengacungacungkan tangannya yang menggenggam pisau itu ke langit. Malam itu, selain aku dan perempuan itu, tak kulihat ada makhluk lain. Jalan kota menjadi begitu nyaris lengang, menjadi panggung pertunjukkan yang hanya milik kami berdua. 

Ia terus berjalan, Ning,

Dan aku mengikutinya dari seberang. Kami beriringan di kedua sisi trotoar jalan itu. Enam kilometer lebih, kami khusyuk sebagai unsur pembentuk sebuah pertunjukkan, aku menjadi penonton dan aktrisnya tentu saja perempuan paruh baya itu, yang seluruh gerak tubuhnya hampir tak ada yang sia-sia, sungguh memukau. Memasuki sepertiga akhir malam, drama yang memilukan ini belum juga berakhir.  Sampai kemudian tiba di sebuah perempatan yang berjarak sekitar dua ratus meter dari rumahku, langkahnya terhenti, isak tangis, sumpah serapah mereda dan seluruh tubuhnya geming tak bergerak. Sesaat  itu waktupun ikut berhenti. Sesaat yang  sungguh sunyi, sebelum kemudian dipecah oleh suara tawanya yang amat panjang, tawa seorang perempuan yang belum pernah kudengar. Seperti ujung paku yang menggores panjang permukaan logam, luar biasa mengerikan. Hingga jantungku yang tadinya tak beraturan berdegup keras, sesaat berhenti. Kesiur angin tibatiba terasa begitu dingin dan hitam, begitu menggigilkan.

Kemudian nyaris bebarengan dengan terayunnya pisau dapur menikam perutnya, ia tersungkur, ditimbun cahaya  lampu jalan yang kuning pucat. Sebuah klimaks yang sungguh dahsyat. Perlahan-lahan kuberanikan diriku untuk mendekatinya, kulihat sosok tubuh meringkuk dengan tangan mendekap perut, seluruh kulitnya seakan telah berganti warna,  merah. Begitulah ia terbaring bertilam darah. 

Kematian, dalam sebuah pertunjukkan ataupun pada kenyataan seringkali menjadi peristiwa yang teramat menyedihkan. Tapi heii, ini bukan pertunjukkan seperti di gedung-gedung teater itu, Ning. Ini sebuah kenyataan yang sejak awal tak lepas dari mataku. Kematian di sini  nyaris tanpa saksi, dan barangkali tanpa kesedihan dan air mata.

Cukup lama aku terdiam, tak tahu apa yang mesti kuperbuat. Sampai akhirnya wajahmu berkelebat, seolah hadir sebagai penonton kesiangan. Setelah kutimbangtimbang akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri pertunjukkan yang benarbenar jahanam ini dengan menggendong tubuh perempuan itu ke rumah. Bukan pekerjaan yang ringan, tapi entahlah, malaikat ataukah iblis, yang telah merasukiku saat itu, yang pasti akhirnya aku berhasil membawa perempuan itu ke rumahku.



Ning sayangku, 

Kau tahu? apa yang akan kulakukan dengan temuanku kali ini. Ya ning, perempuan yang masih berlepotan dengan darah itu, tubuhnya kuawetkan dengan formalin, lalu setelah tubuh itu kaku, kucemplungkan ke dalam cairan fiberglas yang bening, kemudian setelah semuanya mengeras segera kukemas dengan kardus berlapis kertas perak yang berkilauan. Setelah itu baru kukirimkan dengan paket kilat kepadamu. Agar kau ngerti dan paham bahwa segala kesedihan dan rasa sakitmu, belumlah seberapa pengar, payau dan sunyi.

Setelah kau baca tulisan ini, bukalah kertas perak itu, Ning. Terimalah sebagai hadiah ulang tahunmu dariku, yang kukirimkan bersama surat ini. Maaf, jika pisau dapur perempuan itu tak kuikutkan serta. Biarlah benda itu mengantarku menyusulnya, kerna aku belum sempat minta ijin darinya, atas  kelancangan yang telah kulakukan terhadap tubuhnya. Dan sekali lagi maaf, aku tak bisa datang kepadamu, dalam arti yang sebenarnya .



Peluk ciumku, selalu

MENGINGAT

MENGINGAT


saat itu secara berkala aku mengunjungimu 
siang malam dan selalu pada hari jumat dan hari sabtu
hingga kini masih ada yang mengeram di kepala
bergantian timbul tenggelam tak mau benar-benar lupa

di tingkah lagu balada, suaramu terdengar lamat-lamat
satu kata begitu mengesankan, kau bilang, ingat
lalu cerita bergulir tentang anjing, angsa yang kau pelihara
dua makhluk yang kauberi nama selamet dan endang

juga tentang bintang yang memiliki cahayanya sendiri
rembulan yang seperti cermin, sekian matahari
yang menerima jabatan jauh sebelum bumi diciptakan

hei ternyata masih ada banyak lagi; perihal lilin
yang api kecilnya terayun-ayun membakar diri nyaris habis
minyak wangi tujuh warna, batang dupa menjadi abu
tempat yang pernah kita kunjungi, udara yang kita curi
dan pengabdian segelintir manusia abadi

pernah di suatu siang kaubilang, naiklah lebih tinggi
tangga belum sepenuhnya jadi dan cuma sampai lantai dua
aku diam saja, meski kaki tetap menapaki anak tangga
di atas sana ada dua orang sedang memasang ubin 

dan malam ini kau aku kembali bertemu
kau diam aku juga diam selama lebih kurang tiga jam 
hanya nafas yang teratur dan detak detik yang ngelantur

lalu kulanjutkan perjalanan, matamu berkata, hati-hati
dalam hati kubilang, sampai jumpa lagi




06.07.2013

JATUHMU KE BAWAH, BUKAN

JATUHMU KE BAWAH, BUKAN


angin yang kaubilang berwarna ungu
tadi sore, mampir sebentar di beranda
kepadanya, kutanya kabar tentang dirimu
jawabnya, "biar kusimpan hingga tahun depan"

lalu ia buru-buru bergegas ke utara
pikirku, bukankah di selatan ada kutub juga
seperti halnya kau yang berada di barat
dan sekaligus di timur pada saat yang sama

kesedihan bukanlah sesuatu yang baru
bukan pula sesuatu yang gagal menjadi bahagia
hanya saja ketika kita sedang melewatinya
waktu terasa berjalan begitu lambat

tapi seperti yang telah dijanjikannya padaku
kabar itu pasti hadir pada saat yang tepat
saat gerimis tak lagi dicurigai sebagai air mata
dan kau sudah bosan menyamar

sebagai hujan



15.06.2014

Rabu, 19 Februari 2014

DEBAR

DEBAR 


sekian warna tanggal, sapih
menyisakan hitam dan putih
sebagaimana siang malam
bergantian timbul tenggelam

mungkin saja membosankan
tetapi beginilah kenyataan
menyatu dengan keyakinan
tanpa dusta tanpa harapan

kini semua pasti, seperti mati
tanpa mimpi tanpa pelangi
degab jantung hidup murni
gemuruh sunyi nafas hati 

tak ada yang harus diamini
sebab, sendiri menjadi saksi
begitulah, dikau tiada sekutu
demikian pula daku, Huu



09.12.2013

Selasa, 18 Februari 2014

DUA TULISAN YANG INGIN DINYANYIKAN

SEPERTI BLUES

re fa la kemana
si sudah di sini sejak tadi
repetisi mi do so
menembus langitmu

tubuhnya pernah jatuh 
luka, suaranya tak berubah
tiap kali sampai 
tak pernah mengeluh

ia tak mau berdendang
lagunya hilang nyanyi 
semakin sumbang, pecah 
di sumpah serapah

kini apalagi yang masih 
dapat didengar, selain 
keheningan lalu pemakaman

re fa la tak jua hadir
do mi so si meradang
memaksa ia mengulang
not yang sama


02.01.2014




BUKAN BLUES

nem ro telah melampaui pentatonik
yang tersayat tak sekedar dawai rebab
lebih pada dua kutub; hitam dan putih

hatinya tak lagi punya blues
bertahun jubahnya tergantung di almari
ditemani seikat lidi dan celana komprang
yang bau lumpurnya hampir habis

kalung naga masih nempel di dada
entah sejak kapan, entah berapa lama
bukan hal penting lagi, bukan apa-apa
nyaris tanpa bunyi

ji nem; jinem, heneng, hening, langgeng
menemukan bunga sunyi, bermekaran
di musim penghujan

pada akhirnya tak sesulit apa yang pernah
dibayangkannya; ia pernah sangat ingin
menjadi bulan sekaligus matahari

tapi ia bukan burung, bukan malaikat
tak akan pernah punya sayap


07.01.2014

Senin, 07 Oktober 2013

MAJAPAHIT DALAM TIDUR PANJANG

MAJAPAHIT DALAM TIDUR PANJANG


selokan dan jalanan yang lengang
batu-batu merah batu-batu hitam, saksi sejarah 
diam pasrah dalam hiruk pikuk peradaban 
lalu puluhan prasasti seolah berubah menjadi nisan
terbaca dalam satu kalimat yang rawan
di sini pernah dimakamkan sebuah kerajaan 

gunung penanggungan yang bijak
masih terasa nyaman untuk istirah dan tetirah
raksasa tua yang belum juga bosan mendengkur
melunasi segenap janji kepada para leluhur 
tahun berganti abad sejak sebuah kutukan mengguntur
sang baturpun tegas menghitung mundur

kau dengar, nafas batu kian ungu 
lembut berhembus satu-satu dari gerbang ratu
gapura yang tegak itu menolak ditelan waktu
dari zaman ke zaman tak lekang mengabarkan rindu
tentang nusantara bersatu untuk anak cucu

jadi ingat kata-katamu, kau bilang, "jangan lagi mencari"
baiklah, lalu mau dikemanakan segala penemuan
negeri besar itu tak pernah ingin menjadi reruntuhan
trowulan masih berkabut, sayang



10.01.2013

Jumat, 22 Maret 2013

ONCAT


ONCAT


kemarin ia mendengarkan hujan
sekarang giliran angin minta dibelai 
lalu ia menjelma badai
telanjang menyambut malam

meski telah ditutupi bantal
suaranya tetap bikin telinga gatal

mimpipun ditukar dengan kenyataan
kenyataan hadir pada dirinya
lekas pilih lekaslah pulih kekasih
kembalilah berkeringat 

permukaan tanah tempat bersimpuh
barangkali busur raksasa
sepenuh jiwa anak panahnya

merentangkan tali melewati batas titik api
hingga ke inti bumi 

lalu tembus
di antara kelamin dan anus



11.03.2013

Kamis, 01 Maret 2012

MEREKA DIMANA


MEREKA DIMANA


dimana mereka
yang berkutang bercelana dalam hitam
mana, mana mereka
yang berdada bidang berkulit legam

di negeri ini, kau bilang
perempuan dan lelakinya tak ada lagi
mesti diimpor seperti halnya beras dan bijih besi

tapi yang kau sangka kemaluan,
kenapa tak lagi bikin pipi jadi merah jambu
dan wajah tersipusipu

semua yang kau sebutkan
telah dibandrol dengan harga sangat tinggi
itupun mesti dibeli di luar negeri

selain pucat pasi dan caci maki
barangkali tersisa beberapa peristiwa
yang nyaris semua bikin ngeri sekaligus geli

lalu di mana mereka
sungguh, tadi pagi masih di televisi


02.03.2012

Minggu, 05 Februari 2012

LELAKI SENDIRIAN


LELAKI SENDIRIAN


seperti bongkahan es
sudah dua jam lebih menatap langit
teras rumah ikut menjadi dingin
dari matanya cahaya beku
memadamkan bintangbintang

benarkah selamanya ia ingin seperti itu
memaku semua yang mendekat
bangku tempat lelaki itu duduk
kian kusam saja
kian setia

ini tak seperti lazimnya penantian
kerna yang ditunggu telah dilipatnya
menjadi perahu
berlayar ke muara

matanya masih terus memandang langit
berupaya menghisap meteorit
berharap ada yang tersisa
lalu pelanpelan mencairkan tubuhnya
yang telah tiga hari tiga malam
menyibak hujan

ia masih teguh di tempatnya
menunggu hingga kering
menanti hingga menjadi ringan
lalu disapu angin


01.02.2012

Senin, 10 Oktober 2011

TAK MENGIGAU


TAK MENGIGAU

Aku bangkis-bangkis. Tuhan bergoyang-goyang, di dada. Di jeda saat jantung sesaat menghentikan degabnya. Menepuk-nepuk kepala lalu meninabobo segenap ingatan. Kupikir barangkali inilah persinggahan terakhir; baring yang penghabisan, tidur yang tak butuh dibangunkan itu. Esoknya tapi, masih saja kutemukan pagi bersama sepiring nasi dan matahari yang semakin tua, semakin tak peduli, tubuh ini influenza atau sakit kepala.

Begitulah awalnya lalu keterusan di hampir tiap malam, di seringkali pagi. Tapi kali ini engkau tidur di sampingku, jadi kubiarkan diriku terayun-ayun pada bandul jam dinding. hingga mata dan seluruh tubuh terhisap bolam lampu lima watt, yang semenjak sore nangkring, merekam semua nafas yang kuciptakan bersama dirimu dan diriku yang lain. Dalam tidurmu, kau berulang menyebut satu nama. lalu satu demi satu kau tiupkan kepadaku. Dalam tidurku, dengkur menemu dentur yang paling pangkur.

Duhai siapa yang telah melewati cincin api. Membuat aliran darah bergolak, menggemuruh dari tulang ekor, melata menyusuri punggung, menyapu semua yang ada lalu meledakkannya di kepala. Aku terbangun. Kau terbangun. Lalu kita saling berebut menceritakan kisah yang sama, tentang seseorang yang suka berbisik dalam tidurnya. Tentang keberadaan yang terus diupayakan.

Lalu kau aku kembali tidur. Kembali saling membisikkan satu nama yang tak bakal habis meski dikunyah terus menerus. Belum sampai subuh, tuhan telah bosan bergoyang-goyang. Tidakkah kau juga.


02.10.2011

Rabu, 17 Agustus 2011

MASIHKAH ENGKAU VEGETARIAN

MASIHKAH ENGKAU VEGETARIAN


ada sepiring nasi yang hadir
dari keringat yang menyisakan kristal garam
ada tahu dan tempe yang digoreng
dengan minyak yang mendidih
menjadi menu yang meski sederhana
tapi telah begitu lama menegaskan kehidupan

pagi ini kudapan kita brokoli rebus setengah matang
masih terlalu panas bagi lidah sayang
makanlah pelanpelan hingga akhir kehangatan
menjadi kenangan yang dapat kita ajarkan
pada seluruh darah dan bagian tubuh

terus mengisi tak pernah henti tak jua penuh
hingga layak dan pantas menjadi contoh
bagi anakanak yang lahir
dari segenap bebijian yang tertanam
yang lama tumbuh pada rahimmu
sebelum kemudian resah mencari bapaknya

tajamlah segenap indera
setelah melalui musim kering lewat asah
yang mungkin saja melelahkan
tapi betapa merawat dan mangasuh keinginan
membesarkan generasi zaman berzaman

barangkali pada suatu saat nanti
kita hanya butuh minum sehari sekali
seteguk yang bikin basah pelataran rumah
lalu bergoyanggoyang pada kursi yang tertiup angin
di beranda yang terang saat menikmati senja

terserah siapa yang akan berangkat duluan
bersamasama atau sendirian
tak lagi menjadi begitu penting bukan
seperti halnya semua yang pernah kita makan

perjamuan telah dihadirkan
jauh sebelum hari yang dijanjikan



12.08.2011

DUA GELAS SEKOTENG MASIH HANGAT MESKI TELAH LAMA KITA TINGGALKAN

DUA GELAS SEKOTENG MASIH HANGAT
MESKI TELAH LAMA KITA TINGGALKAN


sejak tiap pagi, penuh dengan rasa terimakasih,
aku tidak peduli malam ini purnama ke berapa, 
yang pasti dadaku gagal menjadi dingin --
kursi meja tertawa lalu merapatkan duduknya.

kubiarkan wajah yang pura-pura jadi rembulan,
mengapung di segelas sekoteng yang hangat,
bahkan ketika rambut dan telapak tangan, lebih 
suka sebagai udara di atas gelas lainnya.

tubuh kita kemudian yang lebih banyak bicara,
lelah yang tak terasa cuma awal sebuah jeda 
yang akan dibutuhkan sebagai bekal mendatang
saat sua bukan lagi sebuah pilihan.

maaf jika kemarin-kemarin telah kucurituliskan
sekian warna yang lekas menjadi tua, justru 
setelah kaupakai tanpa sedikit pun prasangka,
tanpa keinginan terlihat seksi atau jelita.

pandang mata ini mesti melampaui kutub bukan,
kau boleh ke utara, biar aku saja yang ke selatan 
cepat lambat, kita akan saling berhadapan.

saling menemukan sedih, gembira dan keraguan
yang gigih kita sembunyikan di balik celana,
baju, kutang dan segala yang melekat di badan.
menjadi sekadar jejak-jejak perjalanan,

masa lalu tak harus berkali-kali ditengok ulang.
betapapun sepasang gelas kian erat berpelukan.


15.08.2011


Selasa, 19 April 2011

DI LINGKARAN MENYALA PINTU MATI KENCAN KITA

DI LINGKARAN MENYALA
PINTU MATI KENCAN KITA


bunga api akhir tahun
memijar kembang terlepas
bermekaran di sisa usia
kesejukan senja

memercik di jantung
muncrat ke muka
tubuh tua menyambut waktu
maut yang itu itu juga

pecah pada satu lubang
berpendar sekujur badan
mencipta kehendak
tanpa diminta

lidah naga depan gerbang
membuka pintu



19.04.2011

Minggu, 17 April 2011

TAK ADA YANG TERLAMBAT MESKI TELAH USANG

TAK ADA YANG TERLAMBAT
MESKI TELAH USANG


beginilah rumah labalaba
mulai bermekaran di tiap liang
tubuh yang terbengkalai
rapuh dalam lipatan cuaca

musim penghujan yang ringan
basah di banyak permukaan
menghisap pandang mata
pada ribuan kuncup bunga rumput

lautan hijaulah engkau sayang
tempat angin membangun sarang
suar bagi para pengembara

kembali saatnya bertegur sapa
rejeki yang semestinya dimukimkan
ketika rumah belum ditinggalkan
saat jendela masih sebening kaca

lalu biarlah bahasa waktu
kepada jiwa mengantarkan renta
memasuki pendakian ke sekian

di sini dari tebing curam
persinggahan terakhir bagi nafas
sebelum yang penghabisan
mengeras kesungguhan

jangan bilang kalau kemalaman
aku memang terlalu lama
mengunyah kembang



15.04.2011