JATUHMU KE BAWAH, BUKAN
angin yang kaubilang berwarna ungu
tadi sore, mampir sebentar di beranda
kepadanya, kutanya kabar tentang dirimu
jawabnya, "biar kusimpan hingga tahun depan"
lalu ia buru-buru bergegas ke utara
pikirku, bukankah di selatan ada kutub juga
seperti halnya kau yang berada di barat
dan sekaligus di timur pada saat yang sama
kesedihan bukanlah sesuatu yang baru
bukan pula sesuatu yang gagal menjadi bahagia
hanya saja ketika kita sedang melewatinya
waktu terasa berjalan begitu lambat
tapi seperti yang telah dijanjikannya padaku
kabar itu pasti hadir pada saat yang tepat
saat gerimis tak lagi dicurigai sebagai air mata
dan kau sudah bosan menyamar
sebagai hujan
15.06.2014
Minggu, 15 Juni 2014
Rabu, 19 Februari 2014
DEBAR
DEBAR
sekian warna tanggal, sapih
menyisakan hitam dan putih
sebagaimana siang malam
bergantian timbul tenggelam
mungkin saja membosankan
tetapi beginilah kenyataan
menyatu dengan keyakinan
tanpa dusta tanpa harapan
kini semua pasti, seperti mati
tanpa mimpi tanpa pelangi
degab jantung hidup murni
menyisakan hitam dan putih
sebagaimana siang malam
bergantian timbul tenggelam
mungkin saja membosankan
tetapi beginilah kenyataan
menyatu dengan keyakinan
tanpa dusta tanpa harapan
kini semua pasti, seperti mati
tanpa mimpi tanpa pelangi
degab jantung hidup murni
gemuruh sunyi nafas hati
tak ada yang harus diamini
sebab, sendiri menjadi saksi
begitulah, dikau tiada sekutu
demikian pula daku, Huu
09.12.2013
Label:
semoga puisi
Selasa, 18 Februari 2014
DUA TULISAN YANG INGIN DINYANYIKAN
SEPERTI BLUES
re fa la kemana
si sudah di sini sejak tadi
repetisi mi do so
menembus langitmu
si sudah di sini sejak tadi
repetisi mi do so
menembus langitmu
tubuhnya pernah jatuh
luka, suaranya tak berubah
tiap kali sampai
tak pernah mengeluh
ia tak mau berdendang
lagunya hilang nyanyi
semakin sumbang, pecah
di sumpah serapah
kini apalagi yang masih
dapat didengar, selain
keheningan lalu pemakaman
re fa la tak jua hadir
do mi so si meradang
memaksa ia mengulang
not yang sama
02.01.2014
BUKAN BLUES
nem ro telah melampaui pentatonik
yang tersayat tak sekedar dawai rebab
lebih pada dua kutub; hitam dan putih
hatinya tak lagi punya blues
bertahun jubahnya tergantung di almari
ditemani seikat lidi dan celana komprang
yang bau lumpurnya hampir habis
kalung naga masih nempel di dada
entah sejak kapan, entah berapa lama
bukan hal penting lagi, bukan apa-apa
nyaris tanpa bunyi
ji nem; jinem, heneng, hening, langgeng
menemukan bunga sunyi, bermekaran
di musim penghujan
pada akhirnya tak sesulit apa yang pernah
dibayangkannya; ia pernah sangat ingin
menjadi bulan sekaligus matahari
tapi ia bukan burung, bukan malaikat
yang tersayat tak sekedar dawai rebab
lebih pada dua kutub; hitam dan putih
hatinya tak lagi punya blues
bertahun jubahnya tergantung di almari
ditemani seikat lidi dan celana komprang
yang bau lumpurnya hampir habis
kalung naga masih nempel di dada
entah sejak kapan, entah berapa lama
bukan hal penting lagi, bukan apa-apa
nyaris tanpa bunyi
ji nem; jinem, heneng, hening, langgeng
menemukan bunga sunyi, bermekaran
di musim penghujan
pada akhirnya tak sesulit apa yang pernah
dibayangkannya; ia pernah sangat ingin
menjadi bulan sekaligus matahari
tapi ia bukan burung, bukan malaikat
tak akan pernah punya sayap
07.01.2014
Label:
semoga puisi
Senin, 07 Oktober 2013
MAJAPAHIT DALAM TIDUR PANJANG
MAJAPAHIT DALAM TIDUR PANJANG
selokan dan jalanan yang lengang
batu-batu merah batu-batu hitam, saksi sejarah
diam pasrah dalam hiruk pikuk peradaban
lalu puluhan prasasti seolah berubah menjadi nisan
terbaca dalam satu kalimat yang rawan
di sini pernah dimakamkan sebuah kerajaan
gunung penanggungan yang bijak
masih terasa nyaman untuk istirah dan tetirah
raksasa tua yang belum juga bosan mendengkur
melunasi segenap janji kepada para leluhur
tahun berganti abad sejak sebuah kutukan mengguntur
sang baturpun tegas menghitung mundur
kau dengar, nafas batu kian ungu
lembut berhembus satu-satu dari gerbang ratu
gapura yang tegak itu menolak ditelan waktu
dari zaman ke zaman tak lekang mengabarkan rindu
tentang nusantara bersatu untuk anak cucu
jadi ingat kata-katamu, kau bilang, "jangan lagi mencari"
baiklah, lalu mau dikemanakan segala penemuan
negeri besar itu tak pernah ingin menjadi reruntuhan
trowulan masih berkabut, sayang
10.01.2013
selokan dan jalanan yang lengang
batu-batu merah batu-batu hitam, saksi sejarah
diam pasrah dalam hiruk pikuk peradaban
lalu puluhan prasasti seolah berubah menjadi nisan
terbaca dalam satu kalimat yang rawan
di sini pernah dimakamkan sebuah kerajaan
gunung penanggungan yang bijak
masih terasa nyaman untuk istirah dan tetirah
raksasa tua yang belum juga bosan mendengkur
melunasi segenap janji kepada para leluhur
tahun berganti abad sejak sebuah kutukan mengguntur
sang baturpun tegas menghitung mundur
kau dengar, nafas batu kian ungu
lembut berhembus satu-satu dari gerbang ratu
gapura yang tegak itu menolak ditelan waktu
dari zaman ke zaman tak lekang mengabarkan rindu
tentang nusantara bersatu untuk anak cucu
jadi ingat kata-katamu, kau bilang, "jangan lagi mencari"
baiklah, lalu mau dikemanakan segala penemuan
negeri besar itu tak pernah ingin menjadi reruntuhan
trowulan masih berkabut, sayang
10.01.2013
Label:
sajak
Jumat, 22 Maret 2013
ONCAT
ONCAT
kemarin ia mendengarkan hujan
sekarang giliran angin minta dibelai
lalu ia menjelma badai
telanjang menyambut malam
meski telah ditutupi bantal
suaranya tetap bikin telinga gatal
mimpipun ditukar dengan kenyataan
kenyataan hadir pada dirinya
lekas pilih lekaslah pulih kekasih
kembalilah berkeringat
permukaan tanah tempat bersimpuh
barangkali busur raksasa
sepenuh jiwa anak panahnya
merentangkan tali melewati batas titik api
hingga ke inti bumi
lalu tembus
di antara kelamin dan anus
11.03.2013
Label:
sajak
Kamis, 01 Maret 2012
MEREKA DIMANA
MEREKA DIMANA
dimana mereka
yang berkutang bercelana dalam hitam
mana, mana mereka
yang berdada bidang berkulit legam
di negeri ini, kau bilang
perempuan dan lelakinya tak ada lagi
mesti diimpor seperti halnya beras dan bijih besi
tapi yang kau sangka kemaluan,
kenapa tak lagi bikin pipi jadi merah jambu
dan wajah tersipusipu
semua yang kau sebutkan
telah dibandrol dengan harga sangat tinggi
itupun mesti dibeli di luar negeri
selain pucat pasi dan caci maki
barangkali tersisa beberapa peristiwa
yang nyaris semua bikin ngeri sekaligus geli
lalu di mana mereka
sungguh, tadi pagi masih di televisi
02.03.2012
Label:
sajak
Minggu, 05 Februari 2012
LELAKI SENDIRIAN
LELAKI SENDIRIAN
seperti bongkahan es
sudah dua jam lebih menatap langit
teras rumah ikut menjadi dingin
dari matanya cahaya beku
memadamkan bintangbintang
benarkah selamanya ia ingin seperti itu
memaku semua yang mendekat
bangku tempat lelaki itu duduk
kian kusam saja
kian setia
ini tak seperti lazimnya penantian
kerna yang ditunggu telah dilipatnya
menjadi perahu
berlayar ke muara
matanya masih terus memandang langit
berupaya menghisap meteorit
berharap ada yang tersisa
lalu pelanpelan mencairkan tubuhnya
yang telah tiga hari tiga malam
menyibak hujan
ia masih teguh di tempatnya
menunggu hingga kering
menanti hingga menjadi ringan
lalu disapu angin
01.02.2012
Label:
sajak
Senin, 10 Oktober 2011
TAK MENGIGAU
TAK MENGIGAU
Aku bangkis-bangkis. Tuhan bergoyang-goyang, di dada. Di jeda saat jantung sesaat menghentikan degabnya. Menepuk-nepuk kepala lalu meninabobo segenap ingatan. Kupikir barangkali inilah persinggahan terakhir; baring yang penghabisan, tidur yang tak butuh dibangunkan itu. Esoknya tapi, masih saja kutemukan pagi bersama sepiring nasi dan matahari yang semakin tua, semakin tak peduli, tubuh ini influenza atau sakit kepala.
Begitulah awalnya lalu keterusan di hampir tiap malam, di seringkali pagi. Tapi kali ini engkau tidur di sampingku, jadi kubiarkan diriku terayun-ayun pada bandul jam dinding. hingga mata dan seluruh tubuh terhisap bolam lampu lima watt, yang semenjak sore nangkring, merekam semua nafas yang kuciptakan bersama dirimu dan diriku yang lain. Dalam tidurmu, kau berulang menyebut satu nama. lalu satu demi satu kau tiupkan kepadaku. Dalam tidurku, dengkur menemu dentur yang paling pangkur.
Duhai siapa yang telah melewati cincin api. Membuat aliran darah bergolak, menggemuruh dari tulang ekor, melata menyusuri punggung, menyapu semua yang ada lalu meledakkannya di kepala. Aku terbangun. Kau terbangun. Lalu kita saling berebut menceritakan kisah yang sama, tentang seseorang yang suka berbisik dalam tidurnya. Tentang keberadaan yang terus diupayakan.
Lalu kau aku kembali tidur. Kembali saling membisikkan satu nama yang tak bakal habis meski dikunyah terus menerus. Belum sampai subuh, tuhan telah bosan bergoyang-goyang. Tidakkah kau juga.
02.10.2011
Label:
prosa
Rabu, 17 Agustus 2011
MASIHKAH ENGKAU VEGETARIAN
MASIHKAH ENGKAU VEGETARIAN
ada sepiring nasi yang hadir
dari keringat yang menyisakan kristal garam
ada tahu dan tempe yang digoreng
dengan minyak yang mendidih
menjadi menu yang meski sederhana
tapi telah begitu lama menegaskan kehidupan
pagi ini kudapan kita brokoli rebus setengah matang
masih terlalu panas bagi lidah sayang
makanlah pelanpelan hingga akhir kehangatan
menjadi kenangan yang dapat kita ajarkan
pada seluruh darah dan bagian tubuh
terus mengisi tak pernah henti tak jua penuh
hingga layak dan pantas menjadi contoh
bagi anakanak yang lahir
dari segenap bebijian yang tertanam
yang lama tumbuh pada rahimmu
sebelum kemudian resah mencari bapaknya
tajamlah segenap indera
setelah melalui musim kering lewat asah
yang mungkin saja melelahkan
tapi betapa merawat dan mangasuh keinginan
membesarkan generasi zaman berzaman
barangkali pada suatu saat nanti
kita hanya butuh minum sehari sekali
seteguk yang bikin basah pelataran rumah
lalu bergoyanggoyang pada kursi yang tertiup angin
di beranda yang terang saat menikmati senja
terserah siapa yang akan berangkat duluan
bersamasama atau sendirian
tak lagi menjadi begitu penting bukan
seperti halnya semua yang pernah kita makan
perjamuan telah dihadirkan
jauh sebelum hari yang dijanjikan
12.08.2011
ada sepiring nasi yang hadir
dari keringat yang menyisakan kristal garam
ada tahu dan tempe yang digoreng
dengan minyak yang mendidih
menjadi menu yang meski sederhana
tapi telah begitu lama menegaskan kehidupan
pagi ini kudapan kita brokoli rebus setengah matang
masih terlalu panas bagi lidah sayang
makanlah pelanpelan hingga akhir kehangatan
menjadi kenangan yang dapat kita ajarkan
pada seluruh darah dan bagian tubuh
terus mengisi tak pernah henti tak jua penuh
hingga layak dan pantas menjadi contoh
bagi anakanak yang lahir
dari segenap bebijian yang tertanam
yang lama tumbuh pada rahimmu
sebelum kemudian resah mencari bapaknya
tajamlah segenap indera
setelah melalui musim kering lewat asah
yang mungkin saja melelahkan
tapi betapa merawat dan mangasuh keinginan
membesarkan generasi zaman berzaman
barangkali pada suatu saat nanti
kita hanya butuh minum sehari sekali
seteguk yang bikin basah pelataran rumah
lalu bergoyanggoyang pada kursi yang tertiup angin
di beranda yang terang saat menikmati senja
terserah siapa yang akan berangkat duluan
bersamasama atau sendirian
tak lagi menjadi begitu penting bukan
seperti halnya semua yang pernah kita makan
perjamuan telah dihadirkan
jauh sebelum hari yang dijanjikan
12.08.2011
Label:
sajak
DUA GELAS SEKOTENG MASIH HANGAT MESKI TELAH LAMA KITA TINGGALKAN
MESKI TELAH LAMA KITA TINGGALKAN
sejak tiap pagi, penuh dengan rasa terimakasih,
aku tidak peduli malam ini purnama ke berapa,
yang pasti dadaku gagal menjadi dingin --
kursi meja tertawa lalu merapatkan duduknya.
kubiarkan wajah yang pura-pura jadi rembulan,
mengapung di segelas sekoteng yang hangat,
bahkan ketika rambut dan telapak tangan, lebih
suka sebagai udara di atas gelas lainnya.
tubuh kita kemudian yang lebih banyak bicara,
lelah yang tak terasa cuma awal sebuah jeda
yang akan dibutuhkan sebagai bekal mendatang
saat sua bukan lagi sebuah pilihan.
maaf jika kemarin-kemarin telah kucurituliskan
sekian warna yang lekas menjadi tua, justru
setelah kaupakai tanpa sedikit pun prasangka,
tanpa keinginan terlihat seksi atau jelita.
pandang mata ini mesti melampaui kutub bukan,
kau boleh ke utara, biar aku saja yang ke selatan
cepat lambat, kita akan saling berhadapan.
saling menemukan sedih, gembira dan keraguan
yang gigih kita sembunyikan di balik celana,
baju, kutang dan segala yang melekat di badan.
menjadi sekadar jejak-jejak perjalanan,
masa lalu tak harus berkali-kali ditengok ulang.
betapapun sepasang gelas kian erat berpelukan.
15.08.2011
Label:
sajak
Selasa, 19 April 2011
DI LINGKARAN MENYALA PINTU MATI KENCAN KITA
DI LINGKARAN MENYALA
PINTU MATI KENCAN KITA
bunga api akhir tahun
memijar kembang terlepas
bermekaran di sisa usia
kesejukan senja
memercik di jantung
muncrat ke muka
tubuh tua menyambut waktu
maut yang itu itu juga
pecah pada satu lubang
berpendar sekujur badan
mencipta kehendak
tanpa diminta
lidah naga depan gerbang
membuka pintu
19.04.2011
PINTU MATI KENCAN KITA
bunga api akhir tahun
memijar kembang terlepas
bermekaran di sisa usia
kesejukan senja
memercik di jantung
muncrat ke muka
tubuh tua menyambut waktu
maut yang itu itu juga
pecah pada satu lubang
berpendar sekujur badan
mencipta kehendak
tanpa diminta
lidah naga depan gerbang
membuka pintu
19.04.2011
Label:
sajak
Minggu, 17 April 2011
TAK ADA YANG TERLAMBAT MESKI TELAH USANG
TAK ADA YANG TERLAMBAT
MESKI TELAH USANG
beginilah rumah labalaba
mulai bermekaran di tiap liang
tubuh yang terbengkalai
rapuh dalam lipatan cuaca
musim penghujan yang ringan
basah di banyak permukaan
menghisap pandang mata
pada ribuan kuncup bunga rumput
lautan hijaulah engkau sayang
tempat angin membangun sarang
suar bagi para pengembara
kembali saatnya bertegur sapa
rejeki yang semestinya dimukimkan
ketika rumah belum ditinggalkan
saat jendela masih sebening kaca
lalu biarlah bahasa waktu
kepada jiwa mengantarkan renta
memasuki pendakian ke sekian
di sini dari tebing curam
persinggahan terakhir bagi nafas
sebelum yang penghabisan
mengeras kesungguhan
jangan bilang kalau kemalaman
aku memang terlalu lama
mengunyah kembang
15.04.2011
MESKI TELAH USANG
beginilah rumah labalaba
mulai bermekaran di tiap liang
tubuh yang terbengkalai
rapuh dalam lipatan cuaca
musim penghujan yang ringan
basah di banyak permukaan
menghisap pandang mata
pada ribuan kuncup bunga rumput
lautan hijaulah engkau sayang
tempat angin membangun sarang
suar bagi para pengembara
kembali saatnya bertegur sapa
rejeki yang semestinya dimukimkan
ketika rumah belum ditinggalkan
saat jendela masih sebening kaca
lalu biarlah bahasa waktu
kepada jiwa mengantarkan renta
memasuki pendakian ke sekian
di sini dari tebing curam
persinggahan terakhir bagi nafas
sebelum yang penghabisan
mengeras kesungguhan
jangan bilang kalau kemalaman
aku memang terlalu lama
mengunyah kembang
15.04.2011
Label:
sajak
SAAT BULUBULU GERIMIS GAGAL MENJADI HUJAN
SAAT BULUBULU GERIMIS
GAGAL MENJADI HUJAN
malam yang sekarat
hampirhampir tak ada angin
dan kopiku masih terasa hangat
tapi kota ini makin merah dan dingin
dilibas segala jenis rasa ingin
yang tibatiba saja mengisyaratkan
sekian mimpi menjadi tak mungkin
membuatku memilih tutup mulut
membiarkan yang kudengar
karam sampai ke dasar
bersama beberapa kehadiran
yang lebih dulu menumpuk mengendap
menunggu untuk dipanggil ulang
pada saat udara kian lengang
tibatiba suara tak asing mengiang
sesekali kaupun butuh marah
begitu ia pernah berkata kepadaku
seketika kudekap erat tubuhnya
sembari kubisikkan sebuah kesejukan
sudahkah aku marah sekarang
lalu ia tertawa tanpa suara
hanya kemudian ia membalasku
dengan keriuhan jiwanya yang sunyi
semua kegilaan yang kau tangkar
tak ada yang haram
begitu katanya sebelum mengecupkan
sebuah kesejukan lain
dari jenis yang paling hening
dan lidahnya
sampai ke jantungku
17.04.2011
GAGAL MENJADI HUJAN
malam yang sekarat
hampirhampir tak ada angin
dan kopiku masih terasa hangat
tapi kota ini makin merah dan dingin
dilibas segala jenis rasa ingin
yang tibatiba saja mengisyaratkan
sekian mimpi menjadi tak mungkin
membuatku memilih tutup mulut
membiarkan yang kudengar
karam sampai ke dasar
bersama beberapa kehadiran
yang lebih dulu menumpuk mengendap
menunggu untuk dipanggil ulang
pada saat udara kian lengang
tibatiba suara tak asing mengiang
sesekali kaupun butuh marah
begitu ia pernah berkata kepadaku
seketika kudekap erat tubuhnya
sembari kubisikkan sebuah kesejukan
sudahkah aku marah sekarang
lalu ia tertawa tanpa suara
hanya kemudian ia membalasku
dengan keriuhan jiwanya yang sunyi
semua kegilaan yang kau tangkar
tak ada yang haram
begitu katanya sebelum mengecupkan
sebuah kesejukan lain
dari jenis yang paling hening
dan lidahnya
sampai ke jantungku
17.04.2011
Label:
sajak
Selasa, 08 Februari 2011
TAK TERASA PUTUS ASA
TAK TERASA PUTUS ASA
selagi masih rasa
yang dipercaya
tak pernah sampai
segala yang ingin dicapai
kehendak terperas keinginan
yang tiris dari nafsu
tak selaras pada yang satu
kemudian menjadi siasia
meski keringat mengucur deras
dan air mata terkuras
hanya membasahi gambaran
luput pada kenyataan
tubuh begitu betah
seolah tak butuh rebah
nyaman memasuki labirin licin
tak berujung pangkal
penuh godaan di tiap tikungan
inilah nikmat akal yang diulang
rasa ingin tahu paling sakau
betapa akut betapa pukau
seperti kepada mainan baru
membuatmu berlama-lama
tak ingin ke mana-mana
hingga lupa waktu
tak menemukan pintu
asyik terkunci
09.02.2011
selagi masih rasa
yang dipercaya
tak pernah sampai
segala yang ingin dicapai
kehendak terperas keinginan
yang tiris dari nafsu
tak selaras pada yang satu
kemudian menjadi siasia
meski keringat mengucur deras
dan air mata terkuras
hanya membasahi gambaran
luput pada kenyataan
tubuh begitu betah
seolah tak butuh rebah
nyaman memasuki labirin licin
tak berujung pangkal
penuh godaan di tiap tikungan
inilah nikmat akal yang diulang
rasa ingin tahu paling sakau
betapa akut betapa pukau
seperti kepada mainan baru
membuatmu berlama-lama
tak ingin ke mana-mana
hingga lupa waktu
tak menemukan pintu
asyik terkunci
09.02.2011
Label:
sajak
RIUH PENYAMBUTAN
RIUH PENYAMBUTAN
yang hadir adalah angin
menabur debu di ruang tamu
tanpa warna tak terbaca
hanya terasa
kian pupur pada wajah
udara makin dingin
aku bersitahan tanpa selimut
meyakini tipisnya kulit
tebalnya raut
geming menyambut maut
yang tak pernah mau bilang
kapan akan datang
lantai memucat
kian lapang pada ruang
deru kereta di kejauhan
merambat hingga ke jantung
mengatur iramanya sendiri
pada detak berbagi sunyi
saling mengunci
05.02.2011
yang hadir adalah angin
menabur debu di ruang tamu
tanpa warna tak terbaca
hanya terasa
kian pupur pada wajah
udara makin dingin
aku bersitahan tanpa selimut
meyakini tipisnya kulit
tebalnya raut
geming menyambut maut
yang tak pernah mau bilang
kapan akan datang
lantai memucat
kian lapang pada ruang
deru kereta di kejauhan
merambat hingga ke jantung
mengatur iramanya sendiri
pada detak berbagi sunyi
saling mengunci
05.02.2011
Label:
sajak
Langganan:
Postingan (Atom)