MASIHKAH ENGKAU VEGETARIAN
ada sepiring nasi yang hadir
dari keringat yang menyisakan kristal garam
ada tahu dan tempe yang digoreng
dengan minyak yang mendidih
menjadi menu yang meski sederhana
tapi telah begitu lama menegaskan kehidupan
pagi ini kudapan kita brokoli rebus setengah matang
masih terlalu panas bagi lidah sayang
makanlah pelanpelan hingga akhir kehangatan
menjadi kenangan yang dapat kita ajarkan
pada seluruh darah dan bagian tubuh
terus mengisi tak pernah henti tak jua penuh
hingga layak dan pantas menjadi contoh
bagi anakanak yang lahir
dari segenap bebijian yang tertanam
yang lama tumbuh pada rahimmu
sebelum kemudian resah mencari bapaknya
tajamlah segenap indera
setelah melalui musim kering lewat asah
yang mungkin saja melelahkan
tapi betapa merawat dan mangasuh keinginan
membesarkan generasi zaman berzaman
barangkali pada suatu saat nanti
kita hanya butuh minum sehari sekali
seteguk yang bikin basah pelataran rumah
lalu bergoyanggoyang pada kursi yang tertiup angin
di beranda yang terang saat menikmati senja
terserah siapa yang akan berangkat duluan
bersamasama atau sendirian
tak lagi menjadi begitu penting bukan
seperti halnya semua yang pernah kita makan
perjamuan telah dihadirkan
jauh sebelum hari yang dijanjikan
12.08.2011
Rabu, 17 Agustus 2011
DUA GELAS SEKOTENG MASIH HANGAT MESKI TELAH LAMA KITA TINGGALKAN
MESKI TELAH LAMA KITA TINGGALKAN
sejak tiap pagi, penuh dengan rasa terimakasih,
aku tidak peduli malam ini purnama ke berapa,
yang pasti dadaku gagal menjadi dingin --
kursi meja tertawa lalu merapatkan duduknya.
kubiarkan wajah yang pura-pura jadi rembulan,
mengapung di segelas sekoteng yang hangat,
bahkan ketika rambut dan telapak tangan, lebih
suka sebagai udara di atas gelas lainnya.
tubuh kita kemudian yang lebih banyak bicara,
lelah yang tak terasa cuma awal sebuah jeda
yang akan dibutuhkan sebagai bekal mendatang
saat sua bukan lagi sebuah pilihan.
maaf jika kemarin-kemarin telah kucurituliskan
sekian warna yang lekas menjadi tua, justru
setelah kaupakai tanpa sedikit pun prasangka,
tanpa keinginan terlihat seksi atau jelita.
pandang mata ini mesti melampaui kutub bukan,
kau boleh ke utara, biar aku saja yang ke selatan
cepat lambat, kita akan saling berhadapan.
saling menemukan sedih, gembira dan keraguan
yang gigih kita sembunyikan di balik celana,
baju, kutang dan segala yang melekat di badan.
menjadi sekadar jejak-jejak perjalanan,
masa lalu tak harus berkali-kali ditengok ulang.
betapapun sepasang gelas kian erat berpelukan.
15.08.2011
Label:
sajak
Selasa, 19 April 2011
DI LINGKARAN MENYALA PINTU MATI KENCAN KITA
DI LINGKARAN MENYALA
PINTU MATI KENCAN KITA
bunga api akhir tahun
memijar kembang terlepas
bermekaran di sisa usia
kesejukan senja
memercik di jantung
muncrat ke muka
tubuh tua menyambut waktu
maut yang itu itu juga
pecah pada satu lubang
berpendar sekujur badan
mencipta kehendak
tanpa diminta
lidah naga depan gerbang
membuka pintu
19.04.2011
PINTU MATI KENCAN KITA
bunga api akhir tahun
memijar kembang terlepas
bermekaran di sisa usia
kesejukan senja
memercik di jantung
muncrat ke muka
tubuh tua menyambut waktu
maut yang itu itu juga
pecah pada satu lubang
berpendar sekujur badan
mencipta kehendak
tanpa diminta
lidah naga depan gerbang
membuka pintu
19.04.2011
Label:
sajak
Minggu, 17 April 2011
TAK ADA YANG TERLAMBAT MESKI TELAH USANG
TAK ADA YANG TERLAMBAT
MESKI TELAH USANG
beginilah rumah labalaba
mulai bermekaran di tiap liang
tubuh yang terbengkalai
rapuh dalam lipatan cuaca
musim penghujan yang ringan
basah di banyak permukaan
menghisap pandang mata
pada ribuan kuncup bunga rumput
lautan hijaulah engkau sayang
tempat angin membangun sarang
suar bagi para pengembara
kembali saatnya bertegur sapa
rejeki yang semestinya dimukimkan
ketika rumah belum ditinggalkan
saat jendela masih sebening kaca
lalu biarlah bahasa waktu
kepada jiwa mengantarkan renta
memasuki pendakian ke sekian
di sini dari tebing curam
persinggahan terakhir bagi nafas
sebelum yang penghabisan
mengeras kesungguhan
jangan bilang kalau kemalaman
aku memang terlalu lama
mengunyah kembang
15.04.2011
MESKI TELAH USANG
beginilah rumah labalaba
mulai bermekaran di tiap liang
tubuh yang terbengkalai
rapuh dalam lipatan cuaca
musim penghujan yang ringan
basah di banyak permukaan
menghisap pandang mata
pada ribuan kuncup bunga rumput
lautan hijaulah engkau sayang
tempat angin membangun sarang
suar bagi para pengembara
kembali saatnya bertegur sapa
rejeki yang semestinya dimukimkan
ketika rumah belum ditinggalkan
saat jendela masih sebening kaca
lalu biarlah bahasa waktu
kepada jiwa mengantarkan renta
memasuki pendakian ke sekian
di sini dari tebing curam
persinggahan terakhir bagi nafas
sebelum yang penghabisan
mengeras kesungguhan
jangan bilang kalau kemalaman
aku memang terlalu lama
mengunyah kembang
15.04.2011
Label:
sajak
SAAT BULUBULU GERIMIS GAGAL MENJADI HUJAN
SAAT BULUBULU GERIMIS
GAGAL MENJADI HUJAN
malam yang sekarat
hampirhampir tak ada angin
dan kopiku masih terasa hangat
tapi kota ini makin merah dan dingin
dilibas segala jenis rasa ingin
yang tibatiba saja mengisyaratkan
sekian mimpi menjadi tak mungkin
membuatku memilih tutup mulut
membiarkan yang kudengar
karam sampai ke dasar
bersama beberapa kehadiran
yang lebih dulu menumpuk mengendap
menunggu untuk dipanggil ulang
pada saat udara kian lengang
tibatiba suara tak asing mengiang
sesekali kaupun butuh marah
begitu ia pernah berkata kepadaku
seketika kudekap erat tubuhnya
sembari kubisikkan sebuah kesejukan
sudahkah aku marah sekarang
lalu ia tertawa tanpa suara
hanya kemudian ia membalasku
dengan keriuhan jiwanya yang sunyi
semua kegilaan yang kau tangkar
tak ada yang haram
begitu katanya sebelum mengecupkan
sebuah kesejukan lain
dari jenis yang paling hening
dan lidahnya
sampai ke jantungku
17.04.2011
GAGAL MENJADI HUJAN
malam yang sekarat
hampirhampir tak ada angin
dan kopiku masih terasa hangat
tapi kota ini makin merah dan dingin
dilibas segala jenis rasa ingin
yang tibatiba saja mengisyaratkan
sekian mimpi menjadi tak mungkin
membuatku memilih tutup mulut
membiarkan yang kudengar
karam sampai ke dasar
bersama beberapa kehadiran
yang lebih dulu menumpuk mengendap
menunggu untuk dipanggil ulang
pada saat udara kian lengang
tibatiba suara tak asing mengiang
sesekali kaupun butuh marah
begitu ia pernah berkata kepadaku
seketika kudekap erat tubuhnya
sembari kubisikkan sebuah kesejukan
sudahkah aku marah sekarang
lalu ia tertawa tanpa suara
hanya kemudian ia membalasku
dengan keriuhan jiwanya yang sunyi
semua kegilaan yang kau tangkar
tak ada yang haram
begitu katanya sebelum mengecupkan
sebuah kesejukan lain
dari jenis yang paling hening
dan lidahnya
sampai ke jantungku
17.04.2011
Label:
sajak
Selasa, 08 Februari 2011
TAK TERASA PUTUS ASA
TAK TERASA PUTUS ASA
selagi masih rasa
yang dipercaya
tak pernah sampai
segala yang ingin dicapai
kehendak terperas keinginan
yang tiris dari nafsu
tak selaras pada yang satu
kemudian menjadi siasia
meski keringat mengucur deras
dan air mata terkuras
hanya membasahi gambaran
luput pada kenyataan
tubuh begitu betah
seolah tak butuh rebah
nyaman memasuki labirin licin
tak berujung pangkal
penuh godaan di tiap tikungan
inilah nikmat akal yang diulang
rasa ingin tahu paling sakau
betapa akut betapa pukau
seperti kepada mainan baru
membuatmu berlama-lama
tak ingin ke mana-mana
hingga lupa waktu
tak menemukan pintu
asyik terkunci
09.02.2011
selagi masih rasa
yang dipercaya
tak pernah sampai
segala yang ingin dicapai
kehendak terperas keinginan
yang tiris dari nafsu
tak selaras pada yang satu
kemudian menjadi siasia
meski keringat mengucur deras
dan air mata terkuras
hanya membasahi gambaran
luput pada kenyataan
tubuh begitu betah
seolah tak butuh rebah
nyaman memasuki labirin licin
tak berujung pangkal
penuh godaan di tiap tikungan
inilah nikmat akal yang diulang
rasa ingin tahu paling sakau
betapa akut betapa pukau
seperti kepada mainan baru
membuatmu berlama-lama
tak ingin ke mana-mana
hingga lupa waktu
tak menemukan pintu
asyik terkunci
09.02.2011
Label:
sajak
RIUH PENYAMBUTAN
RIUH PENYAMBUTAN
yang hadir adalah angin
menabur debu di ruang tamu
tanpa warna tak terbaca
hanya terasa
kian pupur pada wajah
udara makin dingin
aku bersitahan tanpa selimut
meyakini tipisnya kulit
tebalnya raut
geming menyambut maut
yang tak pernah mau bilang
kapan akan datang
lantai memucat
kian lapang pada ruang
deru kereta di kejauhan
merambat hingga ke jantung
mengatur iramanya sendiri
pada detak berbagi sunyi
saling mengunci
05.02.2011
yang hadir adalah angin
menabur debu di ruang tamu
tanpa warna tak terbaca
hanya terasa
kian pupur pada wajah
udara makin dingin
aku bersitahan tanpa selimut
meyakini tipisnya kulit
tebalnya raut
geming menyambut maut
yang tak pernah mau bilang
kapan akan datang
lantai memucat
kian lapang pada ruang
deru kereta di kejauhan
merambat hingga ke jantung
mengatur iramanya sendiri
pada detak berbagi sunyi
saling mengunci
05.02.2011
Label:
sajak
Minggu, 28 November 2010
MENJADI TAK SEDERHANA LAGI
MENJADI TAK SEDERHANA LAGI
putih dan hitam, siang dan malam
sudah semestinya jadi sepasang
saling menggenapi saling melengkapi
meskipun masing-masing sunyi
dalam riuh nafasnya sendiri-sendiri
sementara kau aku masih sering lupa
mencantumkan alamat pada yang tersurat
yang tersirat tak juga mau lekat
betapa kata-kata diperbudak pengakuan
tertulis di kertas, di sekian macam media
lalu terbaca, sekadar pengumuman
28.11.2010
putih dan hitam, siang dan malam
sudah semestinya jadi sepasang
saling menggenapi saling melengkapi
meskipun masing-masing sunyi
dalam riuh nafasnya sendiri-sendiri
sementara kau aku masih sering lupa
mencantumkan alamat pada yang tersurat
yang tersirat tak juga mau lekat
betapa kata-kata diperbudak pengakuan
tertulis di kertas, di sekian macam media
lalu terbaca, sekadar pengumuman
28.11.2010
Label:
sajak
Selasa, 23 November 2010
BERDENDANG TANPA SUARA
BERDENDANG TANPA SUARA
meski akhirnya kau datang
sudah kuputuskan kita hanya akan diam
meminimkan beban atas tanggung jawab
pada kata-kata yang terutara
paling tidak menjadi semakin kecil
kemungkinan kita jengah bertemu angin
dan tak perlu menjawab pertanyaan
yang mungkin saja timbul atas pernyataan
biarlah jika mata yang lelah ini
sesaat enggan saling memandang
ada baiknya sesekali sendiri tanpa suara
melihat masing-masing sisi lain dari diri
siapa tahu wajah sudah sepakat satu arah
hingga tak perlu lagi perundingan
kesepakatan tak harus dituliskan bukan
kita akan semakin sibuk berkemas-kemas
menanggalkan semua yang masih lekat
sembari tak henti menari berdendang
yang sepertinya lebih kita pilih, ketimbang
membawa yang bukan punya kita
dan memang, tidak lagi memiliki apa-apa
23.11.2010
meski akhirnya kau datang
sudah kuputuskan kita hanya akan diam
meminimkan beban atas tanggung jawab
pada kata-kata yang terutara
paling tidak menjadi semakin kecil
kemungkinan kita jengah bertemu angin
dan tak perlu menjawab pertanyaan
yang mungkin saja timbul atas pernyataan
biarlah jika mata yang lelah ini
sesaat enggan saling memandang
ada baiknya sesekali sendiri tanpa suara
melihat masing-masing sisi lain dari diri
siapa tahu wajah sudah sepakat satu arah
hingga tak perlu lagi perundingan
kesepakatan tak harus dituliskan bukan
kita akan semakin sibuk berkemas-kemas
menanggalkan semua yang masih lekat
sembari tak henti menari berdendang
yang sepertinya lebih kita pilih, ketimbang
membawa yang bukan punya kita
dan memang, tidak lagi memiliki apa-apa
kau aku, sepasang kita
23.11.2010
Label:
sajak
BANJIR DI MUSIM KEMARAU
BANJIR DI MUSIM KEMARAU
airnya mengalir deras
menjauh dari kering, dari bersih
yang kembali pengin dijumpainya
setelah pergantian musim yang sungsang
membuatnya hanya menggenang
pada sebagian kecil tanah kerontang
luka kering yang membikin jarak
menyimpan nestapa hingga ke tulang
dari sebalik kerak hitam
sekongkol darah kuman meluaskan ruang
genang yang merapuh tiang pancang
rumah hampir roboh sayang
meski jadi bodoh memang tak gampang
namun tidakkah kau melihatnya sekarang
pekarangan sudah tanpa penghalang
menyisakan debu kecoklatan
sehingga daun-daun pun kepincut
menyatukan warna memilih duluan gugur
sebelum pohon-pohon tumbang
diterjang banjir bandang
jangan bilang, tak tahu kini musim apa
katakan, katakan dengan lapar dahagamu
tenggorokan makin tercekik bukan
20.11.2010
airnya mengalir deras
menjauh dari kering, dari bersih
yang kembali pengin dijumpainya
setelah pergantian musim yang sungsang
membuatnya hanya menggenang
pada sebagian kecil tanah kerontang
luka kering yang membikin jarak
menyimpan nestapa hingga ke tulang
dari sebalik kerak hitam
sekongkol darah kuman meluaskan ruang
genang yang merapuh tiang pancang
rumah hampir roboh sayang
meski jadi bodoh memang tak gampang
namun tidakkah kau melihatnya sekarang
pekarangan sudah tanpa penghalang
menyisakan debu kecoklatan
sehingga daun-daun pun kepincut
menyatukan warna memilih duluan gugur
sebelum pohon-pohon tumbang
diterjang banjir bandang
jangan bilang, tak tahu kini musim apa
katakan, katakan dengan lapar dahagamu
tenggorokan makin tercekik bukan
20.11.2010
Label:
sajak
Selasa, 09 Maret 2010
SAMA-SAMA SEPERAHU
SAMA-SAMA SEPERAHU
di atas perahu yang entah mau ke mana
udara diam, laut tenang
tak ada kibar layar juga rambutmu
yang setahun ini kau biarkan memanjang
saat dayung tak cukup luas
untuk sebuah kayuh sekali rengkuh
seperti ada yang membungkam mercusuar
meski setitik nyala tak kepengin padam
pelayaran pada laut hitam
pelayaran pada seluruh malam
segenap penjuru adalah kenyataan arah
ke mana lalu yang bakal dituju
bahkan pantai terjalpun tak jua ketemu
setelah kepak sayapnya yang satu dua
terlalu lelah mengingat-ingat letak daratan
seekor camar ikut menumpang
kepadanya kau hanya teman seperjalanan
mulai tergoda saling meneggelamkan
di atas perahu yang entah mau ke mana
udara diam, laut tenang
tak ada kibar layar juga rambutmu
yang setahun ini kau biarkan memanjang
saat dayung tak cukup luas
untuk sebuah kayuh sekali rengkuh
seperti ada yang membungkam mercusuar
meski setitik nyala tak kepengin padam
pelayaran pada laut hitam
pelayaran pada seluruh malam
segenap penjuru adalah kenyataan arah
ke mana lalu yang bakal dituju
bahkan pantai terjalpun tak jua ketemu
setelah kepak sayapnya yang satu dua
terlalu lelah mengingat-ingat letak daratan
seekor camar ikut menumpang
kepadanya kau hanya teman seperjalanan
mulai tergoda saling meneggelamkan
2010
Label:
sajak
PERBINCANGAN BERHENTI
PERBINCANGAN BERHENTI
tiap sampai pada perbincangan
tentang bahasa hujan kepada bumi
ada yang mendadak keras berteriak
--mulutmu membuat telinga tuli--
boleh jadi
mulut telinga adalah arah
dari dan ke mana suara pergi
kata hati, yang kau bilang
tiap sampai pada perbincangan
tentang bahasa hujan kepada bumi
ada yang mendadak keras berteriak
--mulutmu membuat telinga tuli--
boleh jadi
mulut telinga adalah arah
dari dan ke mana suara pergi
kata hati, yang kau bilang
sering kali menjelma kangen
nyaris selalu nyelip di kelopak mata
yang pandangnya mempedaya
dan binarnya dusta
biar saja jika kemudian mereka
saling mengaku lebih dulu memiliki
aku tak lagi peduli
siapa kemudian yang paling sunyi
06.03.2010
nyaris selalu nyelip di kelopak mata
yang pandangnya mempedaya
dan binarnya dusta
biar saja jika kemudian mereka
saling mengaku lebih dulu memiliki
aku tak lagi peduli
siapa kemudian yang paling sunyi
06.03.2010
Label:
sajak
Rabu, 03 Maret 2010
SETANGKAI MAWAR TERSELIP PADA BUKU HARIAN
SETANGKAI MAWAR TERSELIP
PADA BUKU HARIAN
setangkai bunga erat di genggaman
barangkali memang hanya keyakinan
untuk menunjukkan semangat hidup
yang nyaris redup beberapa waktu
saat kabar bersampul kelabu sampai
pada mata yang mulai lelah menyala
dan genggamanmu semakin erat, sebelum
akhirnya kau lepas bersama seuntai senyum
kini bunga itu telah pipih kecoklatan
bertahun terselip di sebuah halaman
buku harian yang menceritakan kisah
tentang perjalanan kupukupu jantan
ke sebuah cahaya yang dirinduinya
setelah sehari bersama sang betina
mengembarai luasnya taman bunga
kubaca buku harianmu itu di depan pusaramu
wangi bunga yang tak pernah pudar oleh waktu
dan kau pun tahu dan paham, bahwa
aku tak harus menjadi kupu-kupu jantan
untuk satu kematian yang terulang
___________
di batu nisan terpahat tanggal kematianmu
yang juga merupakan hari kelahiranku
dua puluh satu tahun yang lalu
28.02.2010
PADA BUKU HARIAN
setangkai bunga erat di genggaman
barangkali memang hanya keyakinan
untuk menunjukkan semangat hidup
yang nyaris redup beberapa waktu
saat kabar bersampul kelabu sampai
pada mata yang mulai lelah menyala
dan genggamanmu semakin erat, sebelum
akhirnya kau lepas bersama seuntai senyum
kini bunga itu telah pipih kecoklatan
bertahun terselip di sebuah halaman
buku harian yang menceritakan kisah
tentang perjalanan kupukupu jantan
ke sebuah cahaya yang dirinduinya
setelah sehari bersama sang betina
mengembarai luasnya taman bunga
kubaca buku harianmu itu di depan pusaramu
wangi bunga yang tak pernah pudar oleh waktu
dan kau pun tahu dan paham, bahwa
aku tak harus menjadi kupu-kupu jantan
untuk satu kematian yang terulang
___________
di batu nisan terpahat tanggal kematianmu
yang juga merupakan hari kelahiranku
dua puluh satu tahun yang lalu
28.02.2010
Label:
sajak
Jumat, 19 Februari 2010
UBI KAYU DAN JARI
UBI KAYU DAN JARI
saat mengawali sebuah cerita
mulutmu masih mengunyah yang tersisa
riwayat ubi kayu, nyaris setahun
geming dalam kesunyian tanah, sebelum
kemudian membuat kenyang perutmu
yang riuh dengan lagu kematian
juga tentang telunjuk kirimu
yang tak menolak teriris saat mengupas
dua minggu lebih mengeringkan luka
untuk ubi goreng yang sesaat mampir di lidah
gurih dan renyah
perih dan parah
dari akar hingga ke buah
dalam batang kering, benih tersimpan
tiba-tiba kau mengerang, suaramu parau
lalu apanya yang tak sepadan
baiklah, sekarang apa lagi yang hendak kau bilang
semalam belatung-belatung menggeliat
keluar dari ibu jarimu
berloncatan penuh semangat
saat mengawali sebuah cerita
mulutmu masih mengunyah yang tersisa
riwayat ubi kayu, nyaris setahun
geming dalam kesunyian tanah, sebelum
kemudian membuat kenyang perutmu
yang riuh dengan lagu kematian
juga tentang telunjuk kirimu
yang tak menolak teriris saat mengupas
dua minggu lebih mengeringkan luka
untuk ubi goreng yang sesaat mampir di lidah
gurih dan renyah
perih dan parah
dari akar hingga ke buah
dalam batang kering, benih tersimpan
tiba-tiba kau mengerang, suaramu parau
lalu apanya yang tak sepadan
baiklah, sekarang apa lagi yang hendak kau bilang
semalam belatung-belatung menggeliat
keluar dari ibu jarimu
berloncatan penuh semangat
_________
sepertinya, bakal ada cerita baru
sekian kisah, riwayat yang nyaris selalu
tentang siang dan malam
19.02.2010
sepertinya, bakal ada cerita baru
sekian kisah, riwayat yang nyaris selalu
tentang siang dan malam
19.02.2010
Label:
sajak
Kamis, 07 Mei 2009
RUANG PENYEMBUHAN
RUANG PENYEMBUHAN
lebih kepada ruang
barangkali yang mesti diciptakan
agar ada tempat untuk sekedar istirah
meredakan nyeri dan melepas kesah
semacam bangunan yang tak begitu luas
tapi punya banyak ruang dan jendela
rumah sederhana dengan beberapa genting kaca
dimana akan ku mukimkan engkau, kekasih
di dalamnya, kita bisa berpilin lidah
saling jilat, membasahi luka dengan ludah
betapapun bacin tapi sungguh menyembuhkan
kau tak keberatan, bukan
2009
lebih kepada ruang
barangkali yang mesti diciptakan
agar ada tempat untuk sekedar istirah
meredakan nyeri dan melepas kesah
semacam bangunan yang tak begitu luas
tapi punya banyak ruang dan jendela
rumah sederhana dengan beberapa genting kaca
dimana akan ku mukimkan engkau, kekasih
di dalamnya, kita bisa berpilin lidah
saling jilat, membasahi luka dengan ludah
betapapun bacin tapi sungguh menyembuhkan
kau tak keberatan, bukan
2009
Label:
sajak
Langganan:
Postingan (Atom)