Selasa, 08 Februari 2011

TAK TERASA PUTUS ASA

TAK TERASA PUTUS ASA


selagi masih rasa
yang dipercaya

tak pernah sampai
segala yang ingin dicapai

kehendak terperas keinginan
yang tiris dari nafsu
tak selaras pada yang satu

kemudian menjadi siasia
meski keringat mengucur deras
dan air mata terkuras

hanya membasahi gambaran
luput pada kenyataan

tubuh begitu betah
seolah tak butuh rebah

nyaman memasuki labirin licin
tak berujung pangkal
penuh godaan di tiap tikungan

inilah nikmat akal yang diulang
rasa ingin tahu paling sakau
betapa akut betapa pukau

seperti kepada mainan baru
membuatmu berlama-lama
tak ingin ke mana-mana

hingga lupa waktu
tak menemukan pintu

asyik terkunci



09.02.2011

RIUH PENYAMBUTAN

RIUH PENYAMBUTAN


yang hadir adalah angin
menabur debu di ruang tamu
tanpa warna tak terbaca

hanya terasa
kian pupur pada wajah

udara makin dingin
aku bersitahan tanpa selimut
meyakini tipisnya kulit
tebalnya raut

geming menyambut maut
yang tak pernah mau bilang
kapan akan datang

lantai memucat
kian lapang pada ruang

deru kereta di kejauhan
merambat hingga ke jantung
mengatur iramanya sendiri

pada detak berbagi sunyi
saling mengunci



05.02.2011

Minggu, 28 November 2010

MENJADI TAK SEDERHANA LAGI

MENJADI TAK SEDERHANA LAGI


putih dan hitam, siang dan malam
sudah semestinya jadi sepasang
saling menggenapi saling melengkapi

meskipun masing-masing sunyi
dalam riuh nafasnya sendiri-sendiri

sementara kau aku masih sering lupa
mencantumkan alamat pada yang tersurat
yang tersirat tak juga mau lekat

betapa kata-kata diperbudak pengakuan
tertulis di kertas, di sekian macam media
lalu terbaca, sekadar pengumuman



28.11.2010













Selasa, 23 November 2010

BERDENDANG TANPA SUARA

BERDENDANG TANPA SUARA


meski akhirnya kau datang
sudah kuputuskan kita hanya akan diam
meminimkan beban atas tanggung jawab
pada kata-kata yang terutara

paling tidak menjadi semakin kecil
kemungkinan kita jengah bertemu angin
dan tak perlu menjawab pertanyaan
yang mungkin saja timbul atas pernyataan

biarlah jika mata yang lelah ini
sesaat enggan saling memandang
ada baiknya sesekali sendiri tanpa suara
melihat masing-masing sisi lain dari diri

siapa tahu wajah sudah sepakat satu arah
hingga tak perlu lagi perundingan

kesepakatan tak harus dituliskan bukan
kita akan semakin sibuk berkemas-kemas
menanggalkan semua yang masih lekat

sembari tak henti menari berdendang
yang sepertinya lebih kita pilih, ketimbang
membawa yang bukan punya kita

dan memang, tidak lagi memiliki apa-apa
kau aku, sepasang kita



23.11.2010 

BANJIR DI MUSIM KEMARAU

BANJIR DI MUSIM KEMARAU


airnya mengalir deras
menjauh dari kering, dari bersih
yang kembali pengin dijumpainya
setelah pergantian musim yang sungsang

membuatnya hanya menggenang
pada sebagian kecil tanah kerontang
luka kering yang membikin jarak
menyimpan nestapa hingga ke tulang

dari sebalik kerak hitam
sekongkol darah kuman meluaskan ruang
genang yang merapuh tiang pancang

rumah hampir roboh sayang
meski jadi bodoh memang tak gampang
namun tidakkah kau melihatnya sekarang
pekarangan sudah tanpa penghalang
menyisakan debu kecoklatan

sehingga daun-daun pun kepincut
menyatukan warna memilih duluan gugur
sebelum pohon-pohon tumbang
diterjang banjir bandang

jangan bilang, tak tahu kini musim apa
katakan, katakan dengan lapar dahagamu
tenggorokan makin tercekik bukan



20.11.2010






Selasa, 09 Maret 2010

SAMA-SAMA SEPERAHU

SAMA-SAMA SEPERAHU


di atas perahu yang entah mau ke mana
udara diam, laut tenang
tak ada kibar layar juga rambutmu
yang setahun ini kau biarkan memanjang

saat dayung tak cukup luas
untuk sebuah kayuh sekali rengkuh
seperti ada yang membungkam mercusuar
meski setitik nyala tak kepengin padam

pelayaran pada laut hitam
pelayaran pada seluruh malam

segenap penjuru adalah kenyataan arah
ke mana lalu yang bakal dituju
bahkan pantai terjalpun tak jua ketemu

setelah kepak sayapnya yang satu dua
terlalu lelah mengingat-ingat letak daratan
seekor camar ikut menumpang

kepadanya kau hanya teman seperjalanan
mulai tergoda saling meneggelamkan



2010

PERBINCANGAN BERHENTI

PERBINCANGAN BERHENTI


tiap sampai pada perbincangan
tentang bahasa hujan kepada bumi

ada yang mendadak keras berteriak
--mulutmu membuat telinga tuli--

boleh jadi
mulut telinga adalah arah
dari dan ke mana suara pergi

kata hati, yang kau bilang 
sering kali menjelma kangen
nyaris selalu nyelip di kelopak mata
yang pandangnya mempedaya
dan binarnya dusta

biar saja jika kemudian mereka
saling mengaku lebih dulu memiliki

aku tak lagi peduli
siapa kemudian yang paling sunyi



06.03.2010

Rabu, 03 Maret 2010

SETANGKAI MAWAR TERSELIP PADA BUKU HARIAN

SETANGKAI MAWAR TERSELIP
PADA BUKU HARIAN


setangkai bunga erat di genggaman
barangkali memang hanya keyakinan
untuk menunjukkan semangat hidup
yang nyaris redup beberapa waktu
saat kabar bersampul kelabu sampai
pada mata yang mulai lelah menyala

dan genggamanmu semakin erat, sebelum
akhirnya kau lepas bersama seuntai senyum

kini bunga itu telah pipih kecoklatan
bertahun terselip di sebuah halaman
buku harian yang menceritakan kisah
tentang perjalanan kupukupu jantan
ke sebuah cahaya yang dirinduinya
setelah sehari bersama sang betina
mengembarai luasnya taman bunga

kubaca buku harianmu itu di depan pusaramu
wangi bunga yang tak pernah pudar oleh waktu

dan kau pun tahu dan paham, bahwa
aku tak harus menjadi kupu-kupu jantan
untuk satu kematian yang terulang

___________

di batu nisan terpahat tanggal kematianmu
yang juga merupakan hari kelahiranku
dua puluh satu tahun yang lalu



28.02.2010

Jumat, 19 Februari 2010

UBI KAYU DAN JARI

UBI KAYU DAN JARI


saat mengawali sebuah cerita
mulutmu masih mengunyah yang tersisa

riwayat ubi kayu, nyaris setahun
geming dalam kesunyian tanah, sebelum
kemudian membuat kenyang perutmu
yang riuh dengan lagu kematian

juga tentang telunjuk kirimu
yang tak menolak teriris saat mengupas
dua minggu lebih mengeringkan luka
untuk ubi goreng yang sesaat mampir di lidah

gurih dan renyah
perih dan parah

dari akar hingga ke buah
dalam batang kering, benih tersimpan
tiba-tiba kau mengerang, suaramu parau
lalu apanya yang tak sepadan

baiklah, sekarang apa lagi yang hendak kau bilang
semalam belatung-belatung menggeliat
keluar dari ibu jarimu
berloncatan penuh semangat


_________

sepertinya, bakal ada cerita baru
sekian kisah, riwayat yang nyaris selalu
tentang siang dan malam



19.02.2010

Kamis, 07 Mei 2009

RUANG PENYEMBUHAN

RUANG PENYEMBUHAN


lebih kepada ruang
barangkali yang mesti diciptakan
agar ada tempat untuk sekedar istirah
meredakan nyeri dan melepas kesah

semacam bangunan yang tak begitu luas
tapi punya banyak ruang dan jendela
rumah sederhana dengan beberapa genting kaca
dimana akan ku mukimkan engkau, kekasih

di dalamnya, kita bisa berpilin lidah
saling jilat, membasahi luka dengan ludah
betapapun bacin tapi sungguh menyembuhkan
kau tak keberatan, bukan



2009


Jumat, 03 April 2009

KISAH TENTANG TELEPON GENGGAM SERI TERBARU

KISAH TENTANG TELEPON GENGGAM SERI TERBARU


Lelaki paruh baya bertubuh sedikit tambun itu mendekat ke sebuah meja etalase lain di samping meja kasir,sedikit menjauh dari perempuan yang datang bersamanya tadi. Seorang perempuan muda bermake up tebal, dengan tubuh yang sangat aduhai, yang terlihat sekali kalau bukan istrinya. Dibiarkannya perempuan itu asyik bertanya segala sesuatu tentang kecanggihan sebuah hp seri terbaru kepada salah seorang pramuniaga toko tersebut. Lalu dengan sesekali menoleh ke arah perempuan itu dan kerna takut apa yang akan dia katakan terdengar oleh pasangannya, setengah berbisik ia menanyakan nomer hp kepunyaan si pemilik toko yang sedang berdiri di samping meja kasir, tempat kemana ia mendekat.

Beberapa saat kemudian ia terlihat sibuk memencet-mencet hand phonenya sendiri, menulis pesan kepada pemilik toko itu:

bukannya aku bermaksud membatalkan penawaranku, aku setuju dengan harga tiga juta limaratus ribu rupiah itu, dan aku sangat ingin sekali membayarnya, tapi sekarang aku hanya bawa uang tiga juta rupiah saja, gimana kalau barang kubawa, lalu pelunasannya besok pagi

Dan tak menunggu lama, pesan itu terjawab :

Iya saya ngerti pak, tapi saya tak akan memberikan hp itu kepada anda sekarang, meski anda
berjanji untuk melunasinya besok pagi, pak


dengan senyum di wajah yang agak dipaksakan kembali ia sibuk dengan telepon genggam, mengirim pesan lagi kepada pemilik toko hp yang ada di hadapannya :

Aduuh, gimana ya, tolonglah mas, besok pasti kubayar lunas, bener

dan pesannya itupun kembali mendapat jawaban dengan cepat:

Ini hanya saran ya pak, anda kan bisa telepon ke teman, pinjam uang dulu sekalian minta diantar ke sini, pasti anda punya teman yang rela membantu anda pak

tibatiba wajah si lelaki berseriseri seperti diingatkan oleh sesuatu yang menyenangkan ia membalas pesan tersebut :

Ahh, iya .. kenapa tak terpikir olehku tadi, aduuh terimakasih mas, terimakasih sekali ya

wajah pemilik toko tersenyum penuh kemenangan tapi tetap ramah, tetap menjaga kesan agar kelihatan rendah hati, lalu ia jawab pesan tadi:

samasama pak, anda khan pembeli dan pembeli adalah raja bagi kami, senang dapat membantu kesulitan bapak

Setelah itu, lelaki dengan perut buncit terlihat berbicara, dengan telepon genggamnya di pojok ruangan dengan wajah agak bersungutsungut. Namun tak lama pembicaraanpun akhirnya selesai diikuti dengan raut wajahnya yang kembali cerah, transaksi jual belipun terlaksana dengan sah. Pasangan itu berjalan ke luar, meninggalkan toko itu.

Mereka berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih yang dimabuk cinta, lalu sembari menggamit pinggang perempuan muda itu, ia berkata,” Aku tak berbohong kan, gimana sayang kau suka ?“
Perempuan muda tertawa genit, katanya, “ Tunggu hingga sampai kamar hotel, kau akan tahu, bagaimana kuungkapkan rasa terimakasihku nanti, yang pasti, tidak seperti biasanya, sayang “,
lalu kembali ia tertawa kecil, kini terdengar makin menggoda saja. Kemudian lelaki paruh baya kembali berkata, “ kemarikan sayang, aku pengin melihat sebentar telepon genggam yang baru kubelikan untukmu itu.”

Pemilik tubuh aduhai itupun mengambil handphone seri terbaru yang baru saja dibeli, lalu diserahkan kepada lelaki tambun itu, sembari mengerlingkan matanya. Nyaris bersamaan waktunya dengan tangan si lelaki menerima telepon genggam, tangan kiri perempuan menor itu, nakal meremas barang yang berada di tengah selangkangan si lelaki. Lelaki itu kaget, telepon genggam baru itupun mencelat ke udara lalu jatuh ke kubangan air di depan mereka. Muka kedua orang itu jadi kecut lalu memucat setelah mendadak sebuah mobil melintas dan rodanya memuncratkan air kubangan tempat jatuhnya telepon genggam, ke pakaian dan wajah mereka.

Terlebih lelaki tambun itu, tubuhnya sesaat seperti patung pandangannya jadi kosong, kerna segala bayangan, tentang sebuah kamar hotel dan ungkapan rasa terimakasih perempuan simpanannya yang tadinya dibayangkan akan membuatnya melayang, mendadak lenyap tanpa bekas.

Jumat, 19 Desember 2008

MENIPU KALBU

MENIPU KALBU


kaukah itu yang mengerak
terpedaya pada torehan di sayap-sayap perak
yang kau sangka sebagai syair dan sajak

bukan sayang, sama sekali bukan

ungkapan itu bukan lahir dari kalbu
ia hanyalah pergerakan akal yang menipu
betapapun mungkin telah dapat menetaskan rindu
kepada yang selama ini bikin tentram sekaligus ngilu

begitu halus, bukan
tak terasa mengelus segenap perasaan
yang pupus perlahan-lahan

kian menjauhkan jarak antara hidup dan mati
padahal hanya butuh di satu titik untuk berhenti

: kau, di rasa memati


2008

Jumat, 28 November 2008

SEPERCIK AIR

Kurniawan Yunianto :

SEPERCIK AIR



hembusan angin pagi
melentingkan tetesan embun dari ujung daun
sepercik air, tetap saja membasahi tanah

sementara sekawanan lebah mengiringkan sang ratu hijrah
terik matahari tak pernah lupa mematangkan segenap ciptaan

tak perlu menunggu hujan menderas
untuk memecahkan cadas


sejengkal ke depan ke tanah berkalang
tak surut langkah memakin juang

pernah kubilang, beberapa rasa ingin telah moksa
nah, ini satu diantaranya, yang masih tersisa

aku ingin cepatcepat mati
kerna jika nanti hidup kembali
aku bisa memilih menjadi siapa saja yang kuingini
tentu bukan lagi raja ataupun si penyanyi



kompas.com

Selasa, 25 November 2008

PERNIKAHAN TUNGGAL

Kurniawan Yunianto :

PERNIKAHAN TUNGGAL



mengenakan pakaian pengantin adat jawa
iringiringan keluarga sanak saudara
mengantarku, ke sebuah peristiwa
yang begitu penting dan sakral seharusnya
prosesi perkawinan kulalui dengan sepenuh hati
mulai dari siraman, akad nikah, hingga ke pelaminan
segenap undanganpun mengikuti acara dengan seksama
tak ada tandatanda ataupun isyarat dari mereka
yang memperlihatkan rasa heran
semua tampak normal dan wajarwajar saja
layaknya sebuah peristiwa pernikahan biasa


lalu aku mulai merasa aneh dan janggal
bagaimana tidak, jika mempelaiku tak ada di sepanjang ritual
kedua mataku tak mengindera keberadaanya
di pelaminan, di sampingku selain udara tak ada siapasiapa
tapi seluruh prosesi tetap kujalani tanpa bertanya


kalian tak percaya bukan
itulah mimpiku, yang sungguh terasa begitu nyata

yang kemudian membuatku menyesal
adalah kenapa baru kemarin malam
peristiwa lebih dari sebelas tahun lalu itu kusadari sebagai mimpi
lalu butuh berapa lama untuk memaknai dan mewujudkannya

pada akhirnya, aku memang tak pernah menikahi apa atau siapa

meski saat ini terutara pula kenyataan dunia 
isteriku baikbaik saja merawat dan menjaga dua anak kami
yang telah pula mengikrarkan janjijanji
untuk kemudian bersusahpayah memahami
sebelum pada akhirnya dengan segenap hati berupaya menepati

mungkin kalian masih tak percaya
dan bisa jadi telah menganggapku gila

lalu apa lagi yang harus ku lakukan agar kalian dapat paham
wahai jiwajiwa yang berada di akal dan pikir
di sungguh jauh dari hati dan cinta

Selasa, 18 November 2008

PERTARUHAN

Kurniawan Yunianto :

PERTARUHAN


tak jua luka menganga
dapat mengikis tubuh yang telah menua
siapa lagi coba menghentikan langkah si pejalan tua
kaukah itu, yang mengaku sebagai datuk utara

kau sedang bertaruh rupanya
pada perjudian yang bukan kau sendiri yang mencipta
serupa akan menaruh satu kata
pada lajur kalimat karya pujangga ternama

belum sampai ke tepi alur
berceceran, hanya menyisakan satu huruf
yang juga menolak mukim di genggaman
meski kau coba maknai dengan segala harapan




masyarakat sastra